Di jejaring media sosial, dia dikenal sebagai “Mbah Con”, polisi jenaka dengan celetukan santai yang bikin warga tertawa. Tapi di lapangan, rekam jejaknya serius.
Itulah AKBP Candra Sasongko, Kapolresta Surakarta yang baru. Tongkat komando resmi berpindah dari Kombes Pol Catur Cahyono Wibowo dalam sertijab di Mapolda Jateng, Kamis (16/10/2026) yang dipimpin Kapolda Jateng Irjen Pol Roy Hardi Siahaan.
Mbah Con, pria kelahiran Trenggalek iniadalah alumnus Akpol 2005. Kariernya ditempa di tiga polda besar: Polda Metro Jaya (2005-2013), Polda Jabar (2013-2021), hingga Polda Banten sebagai Kasubdit 1 dan Kasubdit 4 Ditreskrimsus. Ia pernah memimpin Polres Serang (2024-2025) sebelum menjabat Kabagbinkar Biro SDM Polda Jabar.
Keakraban Kapolresta juga terlihat saat apel perdana, Minggu (18/10/2026). Tak ada baris-berbaris kaku. Mbah Con memilih duduk lesehan, ngariung bareng anak buahnya.
Suasana yang diberi nama Ngariung Aman itu penuh canda. Mbah Con membaur, melontarkan gurauan, disambut gelak tawa personel. Tak ada jarak pimpinan dan bawahan. Cara ini sengaja ia pilih untuk membangun komunikasi yang terbuka.
"Kadang komunikasi yang baik itu justru lahir dari suasana sederhana. Duduk bersama, ngobrol santai, bercanda, dan saling mendengarkan. Saya ingin anggota merasa dekat dengan pimpinannya, tidak ada jarak, karena kita semua adalah satu keluarga besar Polresta Surakarta," ujarnya.
Di tengah obrolan santai itu, Mbah Con membuka sesi curhat. Anggota dipersilakan cerita soal apapun. Baik kendala di lapangan, pengalaman tugas, hingga aspirasi.
"Jangan sampai anggota menghadapi persoalan sendiri, sementara pimpinannya tidak tahu," ungkapnya.
Dalam pandangannya, pimpinan tak cukup hanya memberi perintah. Harus hadir dan memahami anggotanya. Baginya, jika suasana kerja penuh kebersamaan, saling menghargai, dan saling mendukung, anggota juga akan lebih nyaman dalam menjalankan tugas.
Anggota Polisi boleh bercanda, tidak dilarang tertawa bersama, tetapi ketika menyangkut tugas dan tanggung jawab kepada masyarakat, harus tetap serius dan profesional.
Lewat Ngariung Aman, ia ingin soliditas internal jadi fondasi pelayanan ke warga Solo.
"Kalau di dalam kita kompak, saling peduli, dan saling menguatkan, insyaallah pelayanan kita kepada masyarakat juga akan semakin baik. Saya ingin Polresta Surakarta ini menjadi rumah besar yang nyaman bagi seluruh anggota, tempat kita bekerja, belajar, dan mengabdi bersama," ucap dia.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376733/original/041876500_1792389349-IMG-20261018-WA0040.jpg)
Advertisement
Tak Sekadar Laporan
Saat memimpin apel pada Senin (19/10/2026) di Mapolresta Surakarta, Mbah Con tak basa basi. Di hadapan Wakapolresta AKBP Heru Eko Wibowo, para PJU, Kapolsek, dan seluruh personel, Mbah Con bicara soal kegagalan organisasi.
"Kegagalan organisasi itu biasanya disebabkan karena komunikasi dan aksi yang tidak berjalan beriringan. Jadi ke depan Polresta Surakarta harus satu tingkat lebih tinggi dalam hal komunikasi, kolaborasi dan koordinasi," tegasnya.
Dia juga mengubah pakem laporan. Tak mau lagi hanya mendengar laporan kejadian.
"Harus sudah melaporkan langkah-langkah apa saja yang telah dilaksanakan," ujarnya.
Seorang pimpinan tak boleh hanya memerintah dari balik meja. Harus turun, memberi contoh, dan menyelesaikan masalah dengan cepat. Dan yang paling diingat anggotanya hari itu adalah pesan soal jati diri.
Dengan mengingatkan slogan Kapolri "Polisi Bersama Masyarakat", ia meminta anggotanya tidak apatis.
Mbah Con juga mengucapkan kalimat yang kini jadi pembicaraan di internal Polresta.
"Saya minta semuanya bisa menjadi polisi bagi dirinya sendiri. Saya tekankan kepada seluruh anggota Polresta Surakarta agar bisa menjadi Kapolres bagi dirinya masing-masing," katanya.
Dari polisi viral yang dekat dengan warga, kini ia mengemban tugas menjaga Kota Bengawan. Dengan pengalaman reserse, operasional, dan pembinaan SDM, publik Solo menanti gebrakan humanis ala Mbah Con di Kota Solo.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376732/original/031248900_1792389349-IMG-20261019-WA0018.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376731/original/093966800_1792389348-IMG-20261018-WA0045.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376702/original/004208000_1792388265-IMG-20261019-WA0024.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9330046/original/094760500_1787309855-WhatsApp_Image_2026-08-21_at_17.54.17.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4787049/original/045345800_1711578661-penganiayaan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376246/original/024233600_1792318166-Orangtua_bocah_diduga_dibullying_di_surabaya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376666/original/064533100_1792385655-9ed7a207-7e59-429b-8351-18f04beee8a7.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4842982/original/043751500_1716713031-bullying.jpg)