CEO KLY Dian Gemiano: Media Harus Jadi Benteng Saat Publik Ragu

Fenomena zero-click akibat AI membuat pembaca bisa mendapatkan informasi tanpa membuka situs berita. CEO KLY Dian Gemiano menilai kondisi ini menjadi momentum bagi media online untuk meninggalkan clickbait dan memperkuat kualitas konten serta kepercayaan publik.

Cinta Najwa Fauzi
Oleh Cinta Najwa Fauzi- Reporter
CEO KLY Dian Gemiano: Media Harus Jadi Benteng Saat Publik Ragu
CEO KapanLagiYouniverse, Dian Gemiano dalam acara Indonesia Digital MeetUp 2026, Jakarta (15/10/2026).

Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) memunculkan tantangan struktural bagi bisnis media online. Salah satunya adalah fenomena zero-click, yakni situasi saat pengguna mendapatkan ringkasan informasi langsung dari hasil pencarian tanpa harus mengeklik tautan menuju situs berita. Kondisi ini mengancam model bisnis media yang selama ini bergantung pada volume kunjungan (traffic) dan iklan digital.

CEO KapanLagi Youniverse (KLY), Dian Gemiano, menyampaikan bahwa disrupsi teknologi ini memaksa industri media untuk mengevaluasi ulang strategi distribusi dan produksi konten. Selama 10 hingga 15 tahun terakhir, sebagian besar media online di seluruh dunia sangat mengandalkan optimasi mesin pencari atau search engine optimization (SEO) untuk mendatangkan trafik.

Dalam model konvensional tersebut, media berlomba-lomba membuat artikel agar mudah ditemukan di mesin pencari. Semakin tinggi jumlah kunjungan ke situs, semakin besar pula peluang media memperoleh pendapatan iklan. Namun, kehadiran teknologi AI mengubah lanskap tersebut secara drastis. Alih-alih menyajikan daftar tautan seperti dulu, mesin pencari berbasis AI kini langsung merangkum jawaban bagi pengguna.

Kondisi ini memicu fenomena zero-click, di mana pembaca mendapatkan informasi yang dicari tanpa perlu mengunjungi situs web sumber. Akibatnya, media kehilangan trafik organik, sementara pola konsumsi masyarakat juga kian bergeser ke platform media sosial dan video seperti TikTok.

Jadi Momentum untuk Tinggalkan Clickbait

CEO KLY menilai perubahan ekosistem digital ini sejatinya menjadi momentum bagi media untuk meninggalkan praktik jurnalisme yang mengejar kuantitas semata, termasuk penggunaan judul sensasional atau clickbait.

Ketika pembaca dapat menemukan jawaban tanpa mengeklik artikel, strategi yang hanya mengandalkan trafik instan dinilai tidak lagi relevan dan perlahan "dibunuh" oleh sistem AI. Media dituntut menyeimbangkan antara distribusi konten dan kualitas jurnalistik yang mendalam (meaningful), berbobot, serta berfokus pada engagement jangka panjang.

"AI memaksa cara kerja media bergeser. Perangnya bukan lagi sekadar mengejar pembaca sebanyak-banyaknya, melainkan bagaimana menghadirkan konten yang lebih bermakna dan konsisten," ungkap Dian dalam pemaparannya.

Menjaga Kredibilitas di Tengah Merosotnya Kepercayaan

CEO KapanLagiYouniverse, Dian Gemiano
CEO KapanLagiYouniverse, Dian Gemiano dalam acara Indonesia Digital MeetUp 2026, Jakarta (15/10/2026).

Selain disrupsi teknologi, tantangan lain yang dihadapi industri pers adalah merosotnya tingkat kepercayaan masyarakat. Berdasarkan data riset yang dipaparkan CEO KLY, tingkat kepercayaan publik terhadap media di Indonesia turun ke angka 32 persen, menjadi rekor terendah sejak 2021 dan berada di bawah rata-rata global sebesar 37 persen.

Kendati demikian, di tengah derasnya arus informasi dan potensi keraguan publik terhadap kebenaran konten digital, masih ada secercah harapan. Sebanyak 38 persen masyarakat Indonesia tercatat tetap mencari portal berita online ketika menghadapi keraguan dan membutuhkan kepastian informasi.

Hal ini menunjukkan bahwa portal berita masih memiliki peluang besar untuk menjadi rujukan utama. Namun, di sinilah kredibilitas, verifikasi fakta yang ketat, serta transparansi sumber menjadi benteng pertahanan terakhir bagi industri media.

Rekomendasi