Kronologi Bocah SD Meninggal Tenggelam di Kolam Renang Trenggalek

Diduga karena tidak bisa berenang, korban tenggelam di dalam air dalam waktu cukup lama sebelum akhirnya disadari orang-orang di sekitar lokasi.

Erwin yohanes
Oleh Erwin yohanes - Reporter
Kronologi Bocah SD Meninggal Tenggelam di Kolam Renang Trenggalek
Lokasi kolam renang siswa sd meninggal tenggelam di trenggalek. (merdeka.com/erwin yohanes).

Niat hati mengikuti kegiatan olahraga bersama sekolah berujung maut. Seorang bocah berusia 10 tahun berinisial TAZ, warga Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, ditemukan meninggal dunia akibat tenggelam di Kolam Renang Leebambo, Desa Prigi, Kecamatan Watulimo, Senin (12/10).

Kapolsek Watulimo, Iptu Sumarsono mengungkapkan peristiwa nahas tersebut terjadi sekitar pukul 10.30 WIB. Berdasarkan keterangan kepolisian, korban bersama sembilan orang teman sebayanya datang ke kolam renang umum tersebut dengan mengendarai sepeda guna mengikuti kegiatan olahraga didampingi oleh guru.

"Setelah semua murid turun ke kolam renang, diduga korban tidak pandai berenang," ujar Sumarsono, Selasa (13/10).

Nahas, saat asyik beraktivitas, korban tidak sengaja bergeser dari area kolam dangkal menuju bagian kolam lebih dalam, yakni sekitar 1,30 meter. Diduga karena tidak bisa berenang, korban tenggelam di dalam air dalam waktu cukup lama sebelum akhirnya disadari orang-orang di sekitar lokasi.

"Pada saat diketahui korban berada di dasar kolam, langsung segera diangkat ke darat untuk diberikan pertolongan. Namun, kondisi korban sudah dinyatakan meninggal dunia," ujar dia.

 

Lokasi kolam renang siswa sd meninggal tenggelam di trenggalek. (merdeka.com/erwin yohanes).
Lokasi kolam renang siswa sd meninggal tenggelam di trenggalek. (merdeka.com/erwin yohanes).

Mendapatkan laporan tersebut, jajaran Polsek Watulimo langsung bergerak cepat mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Petugas juga menyita sejumlah barang bukti, di antaranya satu potong kaos olahraga warna merah milik SDN 2 Prigi dan satu potong celana training warna hitam.

Selain itu, kepolisian turut memeriksa sejumlah saksi dan mendampingi tim medis melakukan pemeriksaan luar (Visum et Repertum) terhadap jenazah korban. Dari hasil pemeriksaan medis tersebut, dipastikan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan pada tubuh korban.

"Diduga korban tidak pandai berenang, sehingga saat berenang bergeser ke kolam renang yang dalam, dan terlambat diketahui oleh teman korban maupun guru pengawasnya," ujar Sumarsono.

Usai seluruh rangkaian proses pemeriksaan selesai dan dipastikan murni merupakan kecelakaan akibat tenggelam, kepolisian langsung menyerahkan jenazah korban kepada pihak keluarga untuk segera dimakamkan sesuai dengan adat istiadat setempat.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi para pendamping dan pengelola kolam renang untuk meningkatkan pengawasan ketat, terutama saat anak-anak melakukan aktivitas air di tempat umum.

Rekomendasi