Rekam Jejak Kebakaran Hutan 2021–2026: Sebaran di Tujuh Provinsi Prioritas

Data Kemenhut per Juli 2026 memetakan luas kebakaran hutan di tujuh provinsi prioritas, dengan lonjakan besar pada 2023 di beberapa wilayah.

Devira Prastiwi
Oleh Devira Prastiwi - Reporter
Rekam Jejak Kebakaran Hutan 2021–2026: Sebaran di Tujuh Provinsi Prioritas
Dashboard Informasi Penanganan Karhutla BNPB.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus berulang di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan (Kemenhut) yang dikutip Liputan6.com, Selasa (13/10/2026), ada tujuh provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.

Data per Juli 2026 memuat sebaran luas kebakaran untuk periode 2021 hingga 2026 di masing-masing provinsi. Catatan angka menunjukkan lonjakan luas lahan terbakar pada 2023 di beberapa wilayah, sementara tahun-tahun lain memperlihatkan variasi besaran yang berbeda-beda tiap provinsi.

Rinciannya sebagai berikut (luas terbakar per tahun dalam hektare):

1. Kalimantan Barat

2021: 20.590 hektare

2022: 21.836 hektare

2023: 111.848 hektare

2024: 24.154 hektare

2025: 26.702 hektare

2026: 38.310 hektare

2. Kalimantan Tengah

2021: 3.653 hektare

2022: 1.554 hektare

2023: 165.896 hektare

2024: 11.459 hektare

2025: 4.803 hektare

2026: 7.634 hektare

3. Kalimantan Selatan

2021: 8.625 hektare

2022: 429 hektare

2023: 190.394 hektare

2024: 4.993 hektare

2025: 11.896 hektare

2026: 8.019 hektare

4. Kalimantan Timur

2021: 3.029 hektare

2022: 373 hektare

2023: 39.494 hektare

2024: 22.570 hektare

2025: 9.573 hektare

2026: 2.715 hektare

5. Sumatera Selatan

2021: 5.245 hektare

2022: 3.723 hektare

2023: 132.082 hektare

2024: 15.422 hektare

2025: 5.939 hektare

2026: 1.926 hektare

6. Riau

2021: 8.970 hektare

2022: 4.915 hektare

2023: 7.267 hektare

2024: 11.027 hektare

2025: 21.843 hektare

2026: 15.738 hektare

7. Jambi

2021: 540 hektare

2022: 918 hektare

2023: 6.539 hektare

2024: 5.636 hektare

2025: 3.566 hektare

2026: 379 hektare

Kalteng dan Sumsel: Sebaran Hotspot dan Dampak

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, per Senin malam, 12 Oktober 2026, total lahan yang terbakar di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan mencapai 343,55 hektare.

Kondisi kebakaran berdampak pada kualitas udara yang masuk kategori berbahaya di kedua provinsi. Jarak pandang di bandara menurun menjadi 0,2 kilometer di Kalimantan Tengah dan berkisar 0,3 hingga 7 kilometer di Sumatera Selatan.

Di Kalimantan Tengah, pada 11 Oktober 2026 luas lahan terbakar tercatat 64,8 hektare tersebar di 49 lokasi kebakaran atau fire spot (FS). Dari total itu, petugas berhasil memadamkan 54 hektare di 38 lokasi, sementara 10,8 hektare di 11 lokasi masih menjadi sasaran operasi pemadaman.

Pemadaman di Kalteng dilakukan melalui operasi darat karena operasi udara tidak dapat dilaksanakan akibat jarak pandang rendah.

BNPB juga mencatat terdapat 74 titik panas dengan tingkat tinggi di Kalimantan Tengah, sedangkan total titik panas mencapai 3.908 titik. Karhutla dilaporkan berdampak pada 11 kabupaten/kota di provinsi tersebut.

Upaya Penanganan dan Rekomendasi

"Operasi Modifikasi Cuaca yang dilaksanakan menyebabkan terjadinya hujan yang bersifat lokal di Katingan, Kotawaringin Barat dan Murung Raya," tulis Dashboard Informasi Penanganan Karhutla BNPB, dikutip Selasa (13/10/2026).

Di Sumatera Selatan, luas lahan yang terbakar mencapai 278,75 hektare. Petugas berhasil memadamkan 271,85 hektare, sedangkan 6,90 hektare masih dalam penanganan.

BNPB mencatat 121 titik panas dengan tingkat tinggi dari total 1.991 titik panas di Sumsel. Karhutla berdampak pada delapan kabupaten/kota di provinsi tersebut.

Operasi pemadaman melalui water bombing belum dapat dilaksanakan karena rendahnya jarak pandang. Meski demikian, upaya penanganan terus dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Pada 12 Oktober 2026, OMC di Sumsel dilaksanakan sebanyak satu sorti dengan menggunakan 800 kilogram natrium klorida (NaCl). Akumulasi operasi pada 9-11 Oktober tercatat sebanyak empat sorti dengan total penggunaan 3.600 kilogram NaCl.

Untuk penanganan lanjutan, petugas merencanakan patroli udara dan pemadaman lanjutan dengan tetap memperhatikan keselamatan penerbangan. BNPB merekomendasikan fokus penanganan pada lokasi yang belum padam melalui penyekatan, pemadaman, pendinginan, serta pengerahan personel, peralatan, dan sumber air secara terarah.

Khusus di Sumsel, kesiapsiagaan armada water bombing perlu ditingkatkan di wilayah rawan, terutama Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Muara Enim, dan Musi Banyuasin. Kesiapsiagaan satuan tugas darat di sekitar permukiman juga perlu diperkuat untuk mengantisipasi perluasan kebakaran.

Rekomendasi