Pencurian delapan aki yang menjadi sumber daya peralatan pemantauan Gunung Anak Krakatau (GAK) mengganggu kelengkapan sistem pengamatan di lapangan. Sejumlah perangkat di Stasiun Lava 93 belum dipulihkan karena petugas menahan pemasangan pengganti demi mencegah pencurian berulang.
Kendati demikian, aktivitas gunung api masih termonitor melalui jaringan yang tersisa. Pengamatan mengandalkan sensor yang masih berfungsi untuk merekam kegempaan dan menyajikan kondisi visual.
Kepala Pos Pengamatan GAK di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Deny Mardiono, menyebut delapan aki itu diketahui hilang pada 27 September 2026.
"Sampai dengan saat ini, Gunung Anak Krakatau masih bisa dipantau melalui tiga stasiun, yaitu Stasiun Hupla, Stasiun Tanjung, dan Stasiun Lava 93," kata Deny, Senin (12/10/2026).
Deny menjelaskan aki yang hilang berfungsi sebagai sumber daya untuk mengoperasikan sensor pemantauan di Stasiun Lava 93 sehingga kelengkapan perangkat di lokasi tersebut terganggu. Namun pemantauan tidak terputus sepenuhnya karena dua sensor masih berjalan.
"Untuk kondisi saat ini, Stasiun Lava masih hidup, kami masih bisa memantau GAK hanya dengan dua sensor, yaitu sensor untuk kegempaan atau seismik dan CCTV," jelas Deny.
Kedua perangkat itu ditopang oleh dua aki dan tiga panel surya yang tersisa di lokasi, sehingga petugas tetap memperoleh data kegempaan dan visual. Adapun pemulihan penuh ditahan karena faktor keamanan di titik pemasangan.
Menurut Deny, kotak penyimpanan peralatan di lokasi dibongkar pelaku melalui bagian engsel sehingga perlu perbaikan pengamanan sebelum pemasangan ulang dilakukan.
"Dikarenakan kalau kita mau memasang kembali, pasti akan dicuri kembali karena box yang untuk tempat peralatan itu dibongkar melalui engsel-engselnya," ungkap Deny.
Advertisement
Perbaikan Peralatan Usai Pencurian Aki
Pos Pengamatan GAK dan Badan Geologi telah berkoordinasi mengenai langkah perbaikan perangkat. Menurut Deny, prosesnya tengah berjalan dan ditargetkan segera terealisasi.
"Untuk rencana perbaikan, kami dari pos pengamatan dan Badan Geologi sudah berkoordinasi bahwa rencana perbaikan itu ada, sedang dalam progres, dalam proses. Mudah-mudahan bisa segera direalisasikan untuk melakukan perbaikan peralatan yang rusak," kata dia.
Selain perangkat yang hilang akibat pencurian, pemulihan juga mencakup peralatan yang terdampak rangkaian erupsi pada 4–6 September 2026. Saat ini, Gunung Anak Krakatau berstatus Level III atau Siaga.
Deny mengingatkan agar masyarakat dan wisatawan tidak mendekati kawasan gunung api sesuai rekomendasi Badan Geologi.
"Untuk kondisi Anak Krakatau saat ini masih dalam status Level 3 atau Siaga, bahwa rekomendasi masyarakat yang dikeluarkan oleh Badan Geologi adalah masyarakat atau wisatawan tidak boleh mendekat dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi," tegasnya.