353 Personel Tangani Kebakaran Hutan Musi Banyuasin Tak Kunjung Padam

Karhutla ini telah berlangsung hampir sebulan lalu. Sebanyak 353 personel gabungan dikerahkan dengan dukungan operasi darat dan udara untuk mengendalikan api dan mencegah kebakaran menjalar ke area lain.

irwanto
Oleh irwanto - Reporter
353 Personel Tangani Kebakaran Hutan Musi Banyuasin Tak Kunjung Padam
Kebakaran di desa muara meda, bayung lencir, musi banyuasin. (merdeka.com/istimewa).

Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Muara Medak, Bayung Lencir, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, masih berlangsung. Karhutla ini telah berlangsung hampir sebulan lalu. Sebanyak 353 personel gabungan dikerahkan dengan dukungan operasi darat dan udara untuk mengendalikan api dan mencegah kebakaran menjalar ke area lain.

Personel yang terlibat berasal dari berbagai unsur, antara lain Regu Pemadam Kebakaran (RPK), Tim Reaksi Cepat (TRC), Kelompok Masyarakat Peduli Api (KMPA), TNI, polri, Manggala Agni, KPH Lalan Mendis, PT Rimba Hutani Mas (RHM), perusahaan pendukung, dan masyarakat. Sumber awal kebakaran masih dalam proses penelusuran.

Berdasarkan pemantauan awal, salah satu area yang terdeteksi mengalami kebakaran tercatat sekitar 0,5 hektare. Adapun sekitar 5.800 hektare merupakan cakupan wilayah operasi yang meliputi kegiatan pemantauan, pemadaman, pengendalian, pembangunan sekat bakar serta upaya mencegah penjalaran api. Angka tersebut bukan merupakan luas area terbakar dan masih terus dimutakhirkan sesuai perkembangan kondisi di lapangan.

Kepala KPH Lalan Mendis Amiril mengatakan mengungungkapkan, kondisi kebakaran yang dinamis membuat penanganan di lapangan membutuhkan keterlibatan dan koordinasi berbagai pihak. Karhutla di lokasi ini telah berlangsung sejak 15 September 2026 dan hingga kini belum juga padam.

"Penanganan kebakaran seperti di Muara Medak membutuhkan sinergi berbagai pihak. Dukungan personel, peralatan, pemadaman dari darat maupun udara, dan upaya pencegahan penjalaran api perlu dilakukan secara bersama-sama agar dapat dikendalikan dan tidak meluas," kata Amiril, Selasa (6/10).

 

Proses Penanganan

Kepala Daerah Operasi (Kadaops) Manggala Agni XV Musi Banyuasin, Deni Candra Gumelar mengatakan, berbagai unsur telah bekerja bersama sejak munculnya kejadian karhutla di wilayah tersebut pada Juli lalu. Di lapangan, operasi darat didukung enam pompa jinjing, 11 pompa sedang, tujuh pompa induk dan dua pompa apung, 210 rol selang berukuran 1,5 inci, 110 rol selang 2,5 inci, dan 20 jet shooter.

Dukungan alat berat juga dikerahkan untuk membantu penanganan, antara lain 57 ekskavator yang terdiri atas tujuh unit bucket dan 50 unit grapple atau capit serta satu motor grader. Alat berat tersebut digunakan untuk membuka akses menuju lokasi serta membangun dan memperkuat sekat bakar.

Tim gabungan telah membuat sekat bakar sepanjang sekitar 10 kilometer dengan lebar hingga 50 meter untuk menghambat penjalaran api. Area sekat tersebut juga terus dibasahi, termasuk menggunakan sambuponti guna menjaga kelembapan dan mengurangi risiko api menyeberang.

Selain dari darat, operasi diperkuat melalui dukungan tiga helikopter, yakni PK-KII jenis Kamov, PK-ODC jenis B3 dan Mi-171. Sejak water bombing dilakukan pada 27 September 2026 hingga Minggu (4/10), tercatat sebanyak 345 sorti penerbangan untuk membantu pemadaman dari udara.

"Tim berjibaku memadamkan api, berupaya semaksimal mungkin agar kebakaran bisa dijinakkan," kata Deni.

Komandan Kodim 0401/Musi Banyuasin Letkol Inf Dimas Kurniawan mengingatkan pentingnya keterlibatan seluruh pihak, termasuk masyarakat, untuk mencegah munculnya titik api baru. Tim gabungan masih melanjutkan pemadaman dan pengendalian pada sejumlah titik prioritas dengan pola yang disesuaikan kondisi lapangan untuk mencegah api kembali muncul maupun menjalar ke wilayah lain.

"Mari kita jaga bahu membahu untuk memadamkan api dan jaga jangan ada oknum yang masih membakar sehingga tidak ada asap yang mengganggu semua orang lain," kata Dimas.

 

Rekomendasi