Petaka menimpa Pazwa Pahaludin (15). Niat hati ingin menghabiskan waktu bersama teman-temannya di sebuah vila di kawasan Kabupaten Garut, pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) ini justru harus merelakan penglihatan mata kirinya.
Sebuah proyektil peluru airgun bersarang di matanya usai ditembak secara membabi buta seniornya sendiri. Hingga kini, sang pelaku penembakan masih bebas berkeliaran.
Peristiwa kelam itu terjadi pada Sabtu (26/9) lalu. Saat korban tengah asyik berkumpul di vila, pelaku yang diketahui berinisial H tiba-tiba datang menenteng senjata airgun jenis pistol.
H, yang disebut-sebut sebagai kakak tingkat korban semasa SMP dan terpaut usia dua tahun, mendadak melepaskan tembakan secara acak ke berbagai arah bak aksi teror.
Tembakan itu memakan dua korban. Satu orang terkena tembakan di bagian tubuh, sementara Pazwa mengalami nasib yang paling nahas yaitu peluru airgun tersebut bersarang tepat di mata kirinya.
"Kondisi saat ini, proyektil peluru masih ada di dalam mata. Kalau dari cerita korban, ia sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi, mata sebelah kirinya sudah buta," kata Imelia Pratiwi, Ketua Asosiasi Perlindungan dan Kesejahteraan Anak yang mendampingi korban, pada Selasa (6/10).
Advertisement
Berbohong karena Diduga Diintimidasi
Tragedi memilukan ini nyatanya sempat disembunyikan oleh Pazwa. Dengan menahan sakit, ia berdalih kepada orang tuanya bahwa matanya terluka akibat terkena lemparan bola saat bermain. Pihak kepolisian menduga kuat, korban merangkai kebohongan tersebut karena berada di bawah bayang-bayang ketakutan dan intimidasi dari pelaku.
Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi luka Pazwa justru makin parah. Akhirnya, ia menceritakan kebenaran di balik luka matanya. Usai pengakuan tersebut, keluarga langsung membawa Pazwa ke RS Mata Cicendo. Dalam waktu dekat, remaja malang ini dijadwalkan menjalani operasi untuk mengangkat proyektil.
"Rencananya nanti akan dilakukan operasi untuk mengambil proyektil pelurunya," tambah Imelia.
Merespons kasus ini, jajaran Satreskrim Polres Garut turun tangan. Penyelidikan intensif dan pengejaran terhadap pelaku kini sedang dilakukan. Polisi juga sedang mendalami identitas pasti dari pelaku H, mengingat adanya dugaan bahwa ia bukanlah anak di bawah umur.
“Sudah kami monitor, pelakunya sedang kami buru. Untuk korban memang anak-anak. Nah, untuk pelaku ini informasinya masih simpang siur, apakah masih anak-anak atau dewasa. Tapi kemungkinan besar sudah dewasa, informasinya sekitar usia 18 tahun atau lebih,” tegas Kasatreskrim Polres Garut, AKP Herman.