7 Pria Diduga Perkosa Mahasiswi di Cornell University

Kasus pemerkosaan mahasiswi Cornell dibuka lagi. Jaksa menyiapkan dewan juri, sementara gugatan dan bukti pesan memantik tuntutan transparansi.

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
7 Pria Diduga Perkosa Mahasiswi di Cornell University
Jika ia selesai tepat waktu, maka Jeremy Shuler akan menjadi sarjana termuda dari universitas terkemuka tersebut.(Sumber Cornell University via Facebook)

Jaksa di Negara Bagian New York membuka kembali penyelidikan kasus dugaan pemerkosaan terhadap mahasiswi Cornell University bernama Jane Doe yang dilaporkan pada 2024. Perkara ini melibatkan tujuh pria.

Jaksa Distrik Tompkins County Matthew Van Houten semula menyimpulkan bukti dari keterangan Jane Doe kepada aparat belum memenuhi ambang hukum untuk mengajukan dakwaan. Setelah menghubungi Jane Doe dan kuasa hukumnya untuk memperoleh informasi tambahan, dia menyatakan siap membawa perkara ini ke dewan juri, dilansir dari BBC.

Dalam sistem hukum Amerika Serikat, dewan juri menilai bukti dan kesaksian untuk memutuskan apakah perkara patut berujung pada dakwaan pidana. Van Houten menyebut perkara ini akan ditangani lewat dewan juri "dengan cara yang paling objektif dan tidak memihak," kata Jaksa Distrik Tompkins County Matthew Van Houten.

Dia juga menyoroti perbedaan antara pernyataan Jane Doe kepada polisi pada November 2024 dan tuduhan dalam gugatan perdata. Menurut Van Houten, pernyataan di bawah sumpah itu tidak menyebut bahwa Jane Doe dibius tanpa persetujuannya atau diperkosa beramai-ramai.

Di sisi lain, dia mengakui korban kekerasan seksual bisa memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menjalani terapi dan sepenuhnya memahami kejadian yang dialami.

Kuasa hukum Jane Doe, Thomas Giuffra, menyatakan kliennya mengalami trauma, mati rasa, dan tidak mampu menerima kejadian itu pada hari-hari setelah dugaan penyerangan.

Dia menilai penyelidikan kejahatan serius semestinya mencakup wawancara lanjutan, pengumpulan bukti, serta pengembangan kasus, dan mengkritik pernyataan jaksa distrik yang dia anggap defensif.

Kronologi Pemerkosaan Jane Doe 

Pada 16 September, dalam dokumen pengadilan, Jane Doe menggugat Cornell dan menyatakan dirinya dibius serta diperkosa oleh beberapa orang. Dia menyebut pada malam 19 Oktober 2024, tujuh anggota cabang Chi Phi menyerangnya.

Jane Doe mengaku berusia 20 tahun saat peristiwa itu terjadi dan masih berstatus mahasiswa sarjana. Dalam gugatannya, dia menyatakan terduga pelaku memberinya alkohol dan ketamin, lalu melakukan kekerasan seksual terhadapnya.

Malam itu, setelah minum bersama teman-teman perempuannya, Jane Doe meninggalkan mereka dan "berjalan sempoyongan sendirian" ke rumah Chi Phi di Ithaca untuk menemui seorang teman laki-laki.

Dia melaporkan kejadian tersebut kepada Kepolisian Cornell University pada 8 November 2024.

Gugatan juga menyertakan gambar yang diduga berasal dari obrolan grup Snapchat Chi Phi. Dalam percakapan itu, seorang peserta disebut memberi tahu anggota lain dengan bahasa vulgar tentang kemungkinan hubungan seksual dengan Jane Doe.

Sementara itu, CBS News New York menerbitkan kutipan pesan teks yang dilaporkan dikirim antara salah satu pria yang disebut dalam gugatan dan seorang perempuan yang diduga Jane Doe, dua hari setelah dugaan penyerangan.

Dalam salah satu pesan, pria tersebut tampak meminta maaf atas "bagaimana semuanya terjadi" dan mengatakan ingatannya "agak kabur". Dia menyebut dirinya serta seorang pria lain merasa bersalah karena terlalu mabuk untuk menghentikan kejadian dan mengusir orang-orang sebelum situasinya tak terkendali.

Perempuan dalam percakapan itu menjawab bahwa ingatannya juga "sangat kabur" dan menyebut mereka semua sedang mabuk. Dia menulis bahwa "tidak ada satu pun aktivitas seksual yang ilegal" dan menyatakan senang bersama pria itu dan seorang pria lainnya.

Dia juga mengusulkan agar mereka merokok bersama lagi, tetapi tanpa "tambahan lima miliar pria dan ketamin".

Menurut Thomas Giuffra, pesan-pesan tersebut telah disampaikan dalam proses Title IX Cornell. Dia menyebut panel mungkin menilai Jane Doe sedang menyangkal kenyataan ketika pesan itu dikirim, dan pengusiran salah satu tergugat menunjukkan universitas menganggap pesan-pesan tersebut signifikan.

Pada November 2024, Cornell mengumumkan penyelidikan atas dugaan serius terkait penyalahgunaan narkoba dan kekerasan seksual di rumah persaudaraan Chi Phi. Giuffra juga mengatakan dua orang terduga pelaku telah dikeluarkan dari universitas.

Adapun pengacara salah satu pria yang disebut dalam gugatan, Jeremy Saland, membantah tuduhan terhadap kliennya. Dilansir BBC, dia mengakui kliennya membuat komentar kekanak-kanakan di Snapchat, tetapi menyatakan kliennya tidak melakukan hal lain, tidak terlibat dalam aktivitas seksual, tidak menyentuh Jane Doe, dan tidak mengonsumsi ketamin.

Respons Cornell University

Dalam gugatannya, Jane Doe menuduh Cornell tidak melindunginya dan tidak menjatuhkan sanksi yang memadai kepada para pria yang terlibat. Dia menyebut mereka bahkan diberi kesempatan untuk meringankan sanksi dengan menyerahkan esai.

Gugatan itu juga menyatakan Jane Doe mengalami tekanan emosional dan psikologis berat serta cedera fisik, sementara kabar mengenai kejadian tersebut cepat menyebar di kampus.

Pihak universitas menyebut telah menangguhkan cabang lokal Chi Phi dan sejumlah mahasiswa, serta membuka penyelidikan internal dan pemeriksaan berdasarkan Title IX, undang-undang federal yang melarang diskriminasi berdasarkan jenis kelamin di lembaga pendidikan penerima dana federal. Cabang Xi dari Chi Phi tetap dilarang beroperasi di kampus.

Cornell membantah tidak menyelidiki atau menghukum para terduga pelaku secara memadai. Universitas menyatakan perkara tersebut ditangani oleh panel dosen dan staf terlatih yang menjatuhkan berbagai sanksi, termasuk pengusiran dan skorsing.

Cornell menegaskan tidak ada mahasiswa yang hanya diwajibkan menulis esai sebagai satu-satunya konsekuensi.

Gelombang Protes

Kasus ini memicu kemarahan dan seruan agar Cornell lebih terbuka mengenai proses penanganan kekerasan seksual. Pada 21 September, dewan redaksi surat kabar mahasiswa The Cornell Daily Sun menerbitkan nama-nama para tergugat dalam tulisan berjudul "Cornell Won't, We Will" dan menyerukan peninjauan independen terhadap proses pelaporan dan penyelesaian perkara.

Sophia Dasser, pemimpin redaksi surat kabar tersebut, mengatakan kepada BBC bahwa mahasiswa frustrasi karena selama dua tahun terakhir hanya mendapat sedikit informasi tentang perkara ini dan menganggap proses Title IX di Cornell tertutup. Menurutnya, mahasiswa menginginkan transparansi karena universitas bertanggung jawab menjaga keselamatan mereka.

Wali Kota Ithaca, lokasi Cornell berada, menyerukan moratorium atas izin acara mahasiswa dan acara khusus sampai universitas mengevaluasi protokolnya untuk mencegah serta menindak kekerasan seksual.

Cornell menyatakan satuan tugas kekerasan seksual di kampus yang dibentuk pada 2025 telah mengajukan rekomendasi, sebagian sudah diterapkan dan sebagian lainnya masih dikembangkan.

Laporan survei kampus pada 2025 menyebut 35% mahasiswi sarjana dan 8% mahasiswa sarjana melaporkan pernah mengalami kekerasan seksual selama berkuliah di Cornell. Meski universitas telah lama mengambil langkah untuk menangani masalah tersebut, laporan itu menyebut angkanya tetap tinggi.

Sejumlah tokoh, termasuk aktris Florence Pugh dan anggota Kongres AS Alexandria Ocasio-Cortez, turut menyoroti kasus ini. Sidang awal gugatan perdata dijadwalkan berlangsung pada 23 Oktober di Manhattan.

Rekomendasi