Advertisement
Banjir di Limapuluh Kota, 5 September 2020
Bencana banjir bandang tercatat berulang kali menerjang sejumlah wilayah di Sumatera Barat selama lima tahun terakhir. Rentetan bencana ini tidak hanya memicu kerusakan parah pada infrastruktur dan pemukiman warga, tapi juga menelan korban jiwa serta meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat terdampak.
Secara geografis, wilayah Sumatera Barat didominasi oleh daerah perbukitan dan pegunungan. Hal inilah yang membuat sangat rawan terhadap bencana. Tingginya curah hujan di kawasan ini kerap menjadi penyebab meluapnya debit air sungai yang berhulu di pegunungan.
Advertisement
Banjir di Lima Puluh Kota (September 2020)
Banjir bandang melanda Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat pada (5/9/2020). Banjir bandang ini terjadi di 3 kecamatan di Limapuluh Kota, yakni Kecamatan Harau, Lareh Sago Halaban, dan Akabiluru.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Limapuluh Kota saat itu, Rahmadinol, menyebutkan bahwa bencana ini dipicu oleh hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak Jumat (4/9/2020).
Ketinggian air yang merendam permukiman warga dilaporkan mencapai 1,5 hingga 2 meter. Selain merusak rumah warga, banjir bandang ini juga merendam belasan hektar lahan pertanian masyarakat yang siap panen, seperti tanaman cabai, mentimun, jagung, jahe, hingga semangka.
Advertisement
Banjir di Nagari Manggilang (April 2021)
Banjir bandang menerjang Nagari Manggilang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Lima Ppuluh Kota pada Kamis (29/04/2021) sore. Bencana yang datang mendadak ini merendam sedikitnya 80 rumah warga yang tersebar di tiga jorong hingga Kamis malam.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Limapuluh Kota, Rahmadinol, menyebutkan bahwa musibah ini dipicu oleh intensitas hujan tinggi yang mengguyur kawasan tersebut. Air luapan sungai meluap cukup cepat hingga memutus akses dan menggenangi pemukiman masyarakat setempat.
Sejalan dengan hal tersebut, BMKG Minangkabau mengonfirmasi bahwa sebaran cuaca buruk melanda hampir sebagian besar Sumatera Barat. Selain Limapuluh Kota, hujan deras juga terdeteksi di Kabupaten Pasaman Barat, Pasaman, Agam, Bukittinggi, Padang Panjang, Tanah Datar, Padang Pariaman, Pariaman, Padang, hingga Solok.
Advertisement
Banjir di Akabiluru (Mei 2021)
Banjir bandang menerjang Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Lima Ppuluh Kota pada Minggu (9/5/2021). Banjir terjadi karena meluapnya air Sungai Batang Kapur dan mengakibatkan sejumlah tujuh rumah warga terendam banjir.
Tak hanya merendam pemukiman, luapan air yang deras juga merusak sejumlah fasilitas umum. Satu unit jembatan penghubung di Nagari Pauh Sarik dilaporkan putus, begitu pula dengan tali bandar irigasi di Lubuk Bongka, Sari Bulan, dan Baliak Datar. Badan jalan Muaro Pati juga runtuh menyebabkan satu unit mobil truk terjebak di dalam terban tersebut.
Dampak banjir turut menyasar mata pencaharian warga setelah tiga ekor kerbau milik penduduk setempat dilaporkan hanyut terbawa arus. Warga yang terdampak terus mengevakuasi harta benda mereka dengan bantuan tim gabungan di lapangan.
Advertisement
Banjir di Kecamatan Kapur (Januari 2022)
Banjir bandang menerjang dua dusun di Nagari Galugua, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota pada Senin (10/1/2022). Banjir disebabkan oleh meluapnya Sungai Batang Kampar setelah hujan intensitas tinggi melanda.
Banjir mengakibatkan terendamnya belasan rumah, dua bangunan masjid, serta satu puskesmas. Ketinggian air mencapai 30 hingga 70 sentimeter.
Sebelumnya, BMKG merilis potensi hujan di sejumlah wilayah terdampak dan menghimbau warga untuk waspada potensi bencana longsor.
Advertisement
Banjir di Kabupaten Lima Puluh Kota (Desember 2023)
Banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat pada Senin (18/12/2023).
Kepala BPBD Limapuluh Kota, Rahmadinol menyatakan tingginya curah hujan pada Minggu (17/12/2023) hingga Senin (18/12/2023) pagi. Curah hujan tinggi menyebabkan meluapnya Sungai Batang Harau.
Ketinggian banjir mencapai satu meter di beberapa titik. Rahmadinol juga menyebut banjir terjadi di Nagari Harau, Sarilamak, Solok Bio-Bio, dan objek wisata Harau. Jumlah warga yang terdampak yakni 512 rumah dengan 2.081 jiwa.
Longsor juga melanda Limapuluh Kota di ruas jalan Tungka-Situmbuak Nagari Tungkar dan Nagari Ladang Laweh.
Advertisement
Banjir di sekitar Gunung Marapi (2024)
Banjir lahar dingin dan longsor melanda sejumlah wilayah di sekitar Gunung Marapi, Sumatera Barat pada Sabtu (11/5/2024) malam. Sejumlah 989 Kartu Keluarga (KK) dan 40 orang mengalami luka-luka. Selain itu, 67 orang dinyatakan meninggal dunia. Dan 20 orang lainnya dinyatakan hilang.
"Korban hilang sebanyak 20 orang ini sudah diikhlaskan atau belum oleh keluarga, kalau sudah, kita bisa hentikan pencarian dan evakuasi tapi kalau minta tetap dicari kita harus masih cari," ujar Kepala BNPB, Suharyanto pada Jumat (17/5/2024)
Menurut keterangan tambahan Suharyanto, negara memberikan anggaran pencarian bagi warga yang hilang dengan batas enam hari. Namun, setelahnya anggaran ditanggung oleh BNPB, sehingga warga tidak perlu khawatir.
Advertisement
Banjir di Kecamatan Koto Tangah (November 2025)
Banjir bandang menerjang Kecamatan Koto Tangah, Sumatera Barat, pada Kamis (27/11/2025). Kepala BNPB, Suharyanto menyatkan sebanyak 23 korban meninggal dunia, 12 hilang, dan 4 orang terluka, dan 3.900 KK mengungsi.
Dua daerah di Sumatera Barat yang mencatatkan dampak terparah dalam bencana banjir bandang tersebut adalah Kota Solok dan Kota Padang.
Jika dibandingkan dengan dua provinsi tetangga seperti Sumatera Utara dan Aceh, skala bencana serta dampak kerusakan di Sumatera Barat dinilai relatif lebih ringan. Di wilayah Sumatera Utara sendiri, daerah yang mengalami dampak paling parah menerjang Kabupaten Tapanuli Tengah.
Advertisement
Banjir di Kabupaten Solok (September 2026)
Banjir bandang menerjang Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar) pada Senin (21/9/2026) malam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sejumlah 70 unit rumah dan 11 kantor pemerintahan terdampak. Selain itu, terdapat empat korban mengalami luka-luka akibat banjir bandang.
Kepala Pelaksana BPBD Solok, Khairul mengatakan terjadinya banjir bandang dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah kabupaten Solok sejak sabtu (19/9/2026). Tingginya intensitas hujan menyebabkan debit air meningkat sehingga banjir bandang menerjang di sejumlah kawasan.
Kepala BMKG, Decky Irawan melaporkan bahwa berdasarkan prakiraan cuaca pada Selasa (22/09/2026), wilayah Kabupaten Solok, Pesisir Selatan, dan Solok Selatan berpotensi hujan dan angin kencang pada siang hingga sore hari.
Akumulasi hujan yang cukup tinggi dapat meningkatkan potensi terjadinya longsor. Karena itu, kondisi cuaca dan potensi pergerakan tanah perlu terus diwaspadai, terutama oleh tim yang melakukan penanganan di lokasi,” ujar Decky.