Legislator Soroti Puluhan Satwa Dievakuasi Akibat Karhutla Kalbar

Ia mengapresiasi langkah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dalam menangani satwa yang terdampak karhutla.

Jonathan Pandapotan Purba
Legislator Soroti Puluhan Satwa Dievakuasi Akibat Karhutla Kalbar
Orangutan tampak mencari makan terlihat warga di pinggir jalan poros Sangatta-Rantau Pulung, Kaltim. (Liputan6.com/ Dok Ist Nikolas)

Anggota Komisi IV DPR Sonny T. Danaparamita menyoroti kerusakan habitat satwa liar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Menurutnya, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api dan mengevakuasi satwa yang terdampak.

Sonny meminta pemerintah segera melakukan pemetaan habitat untuk mengetahui tingkat kerusakan serta memastikan ruang hidup satwa liar dapat dipulihkan.

Pernyataan itu disampaikan Sonny merespons evakuasi puluhan satwa liar akibat karhutla di Kalimantan Barat. Sebelumnya, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengungkapkan telah mengevakuasi 33 satwa liar, termasuk 21 orangutan.

Sonny mengapresiasi langkah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dalam menangani satwa yang terdampak karhutla.

“Pertama, saya mengapresiasi atas kinerja dari BKSDA Kalimantan Barat,” kata Sonny, Senin (21/9).

Namun, ia menilai banyaknya satwa yang harus dievakuasi menjadi indikasi adanya persoalan yang lebih mendasar, yakni kerusakan habitat alami akibat karhutla.

“Selain mengapresiasi, saya kira perlu ada pemetaan habitat. Persoalan karhutla, pengendalian kebakaran itu penting, tapi pemetaan atas habitat itu jauh lebih penting,” ujarnya.

Sonny mengatakan kemunculan orangutan dan satwa liar lainnya di kawasan perkebunan maupun permukiman tidak terlepas dari rusaknya habitat mereka akibat kebakaran. Satwa yang kehilangan ruang hidup akhirnya mencari tempat lain untuk menyelamatkan diri.

“ Kita melihat bahwa dengan evakuasi yang dilakukan menunjukkan adanya kerusakan atas rumah dari orangutan itu. Dalam konteks ini saya meminta agar pemetaan atas habitat itu segera dilakukan,” tegasnya.

Politikus PDI Perjuangan itu juga menilai masyarakat perlu mendapat edukasi mengenai tindakan yang harus dilakukan ketika menemukan satwa liar keluar dari habitatnya akibat karhutla.

Menurutnya, edukasi dan penanganan satwa liar terdampak karhutla tidak hanya diperlukan di Kalimantan Barat, tetapi juga di wilayah lain yang memiliki habitat satwa liar dan menghadapi ancaman kebakaran hutan.

“bukan hanya di Kalimantan Barat saja, tapi ketika ada satwa-satwa liar yang melakukan penyelamatan dirinya akibat karhutla harus bisa ditangani secara baik dan semaksimal mungkin,” katanya.

Sonny meminta masyarakat tidak mengambil tindakan sendiri ketika menemukan satwa liar. Masyarakat diminta segera berkoordinasi dengan otoritas konservasi untuk memastikan satwa mendapat penanganan yang tepat.

“Masyarakat bisa melakukan koordinasi dan komunikasi dengan BKSDA yang ada di seluruh wilayah Kalimantan,” ujarnya.

Selain penyelamatan satwa, Sonny menekankan pentingnya pemulihan habitat setelah kebakaran. Menurutnya, upaya konservasi tidak boleh berhenti setelah satwa berhasil dievakuasi dan mendapat perawatan.

Habitat yang rusak akibat karhutla, kata dia, harus dipulihkan agar satwa liar dapat kembali hidup di lingkungan alaminya.

“Sekali lagi kami mengapresiasi, tapi tetap semangat untuk terus melakukan pemetaan atas habitat itu, melakukan penyelamatan atas satwa liar itu, termasuk memulihkan rumah mereka menjadi rumah sebagaimana yang Tuhan telah menganugerahkan kepada mereka,” kata Sonny.

Ia menegaskan perlindungan hutan pada akhirnya bukan hanya soal menjaga kawasan, tetapi juga memastikan keberlangsungan hidup satwa yang bergantung pada ekosistem tersebut.

“Mereka punya hak atas alam ini, mereka punya hak atas hutan itu,” pungkasnya.

 

Rekomendasi