Kebakaran hutan di Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, mengancam populasi orangutan yang menjadi pusat konservasi dan rehabilitasi terbesar di dunia. Status konservasi orangutan Kalimantan oleh IUCN tercatat Kritis (Critically Endangered).
Populasi Pongo pygmaeus terus menyusut seiring laju deforestasi dan kebakaran. Laju pembukaan lahan untuk sawit, perubahan karakteristik lahan gambut, serta musim kemarau panjang membuat wilayah ini semakin rentan terhadap kebakaran yang sulit dipadamkan.
Direktur Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) Kalteng Wancino, saat dihubungi Rabu (14/10/2026), menyampaikan kondisi lapangan dan langkah evakuasi hewan di kawasan itu. "Dari laporan tim, orangutan Tanjung Puting dievakuasi, ada beberapa yang diarahkan di satu titik (aman), yang terjebak kemungkinan meninggal. Belum diketahui pasti jumlahnya," kata Wancino.
Kondisi hutan gambut memperparah kebakaran karena bahan organik yang mudah terbakar saat kering dan karakteristik gambut yang telah berubah akibat gangguan tata air. Selain itu, temperatur tinggi, kelembapan rendah, dan angin kencang mempercepat penyebaran api ketika kebakaran sudah terjadi.
Wancino menyatakan kebakaran di Kalteng bukan sekadar bencana alam melainkan terkait kepentingan berbagai pihak. "Ada politik hutan, hutan sudah dikavling-kavling oleh oknum dan korporasi. Dengan cost politik yang tinggi, mereka gadaikan hutan-hutan di daerah," kata Wancino.
Ia juga meminta adanya penegakan hukum yang lebih ketat terhadap pelanggaran penggunaan lahan. "Coba Kemenhut periksa lagi izin-izin penggunaan lahan hutan," kata Wancino.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono mengatakan kebakaran berulang karena faktor pemicu belum dikendalikan dan lingkungan yang mendukung penyebaran api. Dari sisi iklim, musim kemarau dan peristiwa El Niño menurunkan kelembapan vegetasi dan tanah sehingga meningkatkan kerentanan.
"Kedua, faktor aktivitas manusia," kata Daryono.
Lahan gambut yang mengering akibat penurunan muka air atau gangguan tata air menjadi sangat rentan. Interaksi antara kerentanan lingkungan, sumber penyulut, dan kondisi vegetasi menentukan perkembangan kebakaran di lapangan.
"Ketiga faktor tersebut dapat saling memperkuat. Kekeringan meningkatkan kerentanan, sumber api memicu penyulutan, sedangkan kondisi vegetasi, gambut, dan angin menentukan perkembangan kebakaran," kata Daryono.