Dentuman gendang dan musik etnik memenuhi Gedung Manti Menuik di Ladang Tari Nan Jombang, Balai Baru, Padang, menandai dimulainya sebuah pertunjukan seni yang memukau. Dengan kepulan asap, cahaya merah dramatis, dan senandung perempuan melengking, panggung ini menjadi saksi bisu semangat berkesenian yang tak pernah padam.
Komunitas Seni Ku-Liek Padang, dengan sutradara Rafdisyam, berhasil memukau penonton yang memadati gedung, termasuk mahasiswa, dengan pementasan teater "Nilonali Sang Puti Bungo Karang". Pertunjukan ini merupakan dekonstruksi naskah Wisran Hadi yang mengangkat kritik ekokritik terhadap relasi manusia dan alam.
Ladang Tari Nan Jombang telah menjelma menjadi oase bagi para penampil yang mendambakan ruang teater dengan fasilitas memadai, meskipun tidak besar. Ini menjadi solusi vital di tengah minimnya infrastruktur seni pertunjukan representatif di Sumatera Barat.
Advertisement
Advertisement
Keterbatasan Ruang Pertunjukan Publik di Sumatera Barat
Kondisi infrastruktur seni pertunjukan di Sumatera Barat masih jauh dari ideal, terutama setelah pembongkaran gedung teater utama Taman Budaya untuk pembangunan Zona B dan C yang belum rampung. Akibatnya, Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat harus menyulap sejumlah ruangan menjadi ruang pentas darurat.
Sebagai contoh, Komunitas Seni Ku-Liek pernah menampilkan naskah serupa pada 2025 di Festival Teater Sumatera Barat, Gedung Kebudayaan Lantai 4 Taman Budaya Sumbar, namun dengan panggung minim dukungan teknis. Lampu portabel terbatas dan monoton membuat energi pertunjukan tidak maksimal, serta respons penonton kurang menggema.
Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, yang baru terbentuk pada 2017, bersama UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, kini berkantor sementara di Gedung Kebudayaan Zona A. Lantai 2 dialihfungsikan menjadi kantor UPTD; lantai 3 menjadi kantor Dinas Kebudayaan; dan lantai 4 dijadikan panggung sementara.
Advertisement
Bahkan lantai 5 yang dirancang sebagai ruang terbuka untuk pentas, belum aman karena pagar yang rapuh dan terpaan angin laut dapat mengganggu keamanan serta kualitas suara. Keterbatasan ini memaksa seniman untuk memanfaatkan ruang mana pun, seperti yang terjadi pada Festival Teater ke-8 pada 2024 yang mengusung tema "Merespon ruang bebas".
Advertisement
Konsistensi dan Inovasi Ladang Tari Nan Jombang
Di tengah tantangan tersebut, Ladang Tari Nan Jombang menunjukkan konsistensi luar biasa dalam menyediakan ruang berkesenian. Festival Nan Jombang Tanggal 3, yang digagas oleh maestro tari Ery Mefri sejak 2013, terus berjalan bahkan setelah wafatnya Ery pada 11 Februari 2026 akibat gagal ginjal.
Direktur Festival, Angga Djamar, yang juga istri mendiang Ery Mefri, menegaskan komitmen untuk melanjutkan warisan suaminya. Menurut Angga, Nan Jombang telah melalui perjalanan dan proses yang luar biasa hingga saat ini, dengan konsistensi yang membuat mereka bisa bertahan untuk melaksanakan kegiatan.
Ladang Tari Nan Jombang tidak hanya menjadi wadah bagi seniman profesional, tetapi juga bagi mahasiswa dan pelajar yang ingin belajar dan tampil. Setiap bulan, berbagai seniman dan kelompok seni silih berganti menampilkan tari, teater, musik, dan seni tradisi lainnya di sana.
Advertisement
Meskipun kapasitas gedung hanya sekitar 200 orang, Nan Jombang berinovasi dengan menyediakan siaran langsung di Medan Bapaneh di luar gedung dan melalui kanal YouTube. Ini memastikan bahwa kesenian dapat dinikmati oleh khalayak yang lebih luas, melampaui batasan fisik.
Advertisement
Strategi Pengembangan Ruang Kesenian Berkelanjutan
Meskipun telah berinovasi, kebutuhan akan ruang yang lebih luas untuk menampung antusiasme penonton tetap mendesak. Beberapa strategi dapat dipertimbangkan untuk pengembangan Ladang Tari Nan Jombang ke depan.
Pertama, perluasan gedung dapat meningkatkan kapasitas penonton dan kenyamanan. Kedua, kolaborasi dengan pihak ketiga atau investor dapat membuka peluang untuk membangun ruang pertunjukan baru di lokasi strategis.
Ketiga, penerapan sistem tiket terbatas dapat membantu mengatur kapasitas penonton secara lebih tertib, meskipun acara tetap gratis. Keempat, penyediaan perangkat Virtual Reality (VR) dapat menawarkan pengalaman imersif bagi penonton yang tidak dapat hadir secara langsung.
Advertisement
Selain itu, Nan Jombang dapat menambah ruang tertutup atau terbuka untuk pameran, memperluas cakupan aktivitas berkesenian di luar panggung. Dengan langkah-langkah ini, kesenian dapat dinikmati lintas generasi, tanpa batas ruang, jumlah, dan teknologi, menjadikan Ladang Tari Nan Jombang sebagai pusat seni yang benar-benar berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews