Pemkab Tolikara Pastikan Gelar Festival Etnik Religi, Optimis Dongkrak PAD

Pemerintah Kabupaten Tolikara memastikan akan menggelar Festival Etnik Religi (FER) pada Agustus 2026. Acara ini diharapkan mampu melestarikan budaya sekaligus mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara signifikan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pemkab Tolikara Pastikan Gelar Festival Etnik Religi, Optimis Dongkrak PAD
Pemerintah Kabupaten Tolikara memastikan akan menggelar Festival Etnik Religi (FER) pada Agustus 2026. Acara ini diharapkan mampu melestarikan budaya sekaligus mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara signifikan. (AntaraNews)

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tolikara, Papua Pegunungan, telah memastikan penyelenggaraan Festival Etnik Religi (FER) yang akan berlangsung pada tanggal 11 hingga 13 Agustus 2026. Festival perdana ini bertujuan untuk melestarikan adat istiadat dan budaya lokal, sekaligus menjadi daya tarik wisata baru di wilayah tersebut.

Asisten II Bidang Perekonomian Pembangunan dan Sumber Daya Manusia Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Tolikara, Imanuel Gurik, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan yang pertama kali digelar di Tolikara. Menurutnya, festival ini menjadi langkah strategis Pemkab Tolikara dalam menjaga keberadaan budaya lokal agar tetap lestari dan dikenal luas.

Lebih lanjut, Gurik menjelaskan bahwa FER juga menjadi salah satu strategi Pemkab Tolikara untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada tahun 2026. Dengan pengemasan kegiatan budaya yang baik, diharapkan festival ini dapat menarik banyak wisatawan, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada peningkatan ekonomi daerah.

Festival Etnik Religi: Strategi Pelestarian Budaya dan Peningkatan Ekonomi Lokal

Festival Etnik Religi di Tolikara tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga merupakan inisiatif penting untuk menjaga warisan budaya. Imanuel Gurik menekankan, “Kami baru menggelar kegiatan festival pertama di Tolikara untuk mendorong kelestarian adat istiadat, budaya di Tolikara sehingga keberadaannya tetap lestari.” Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap pelestarian nilai-nilai luhur masyarakat Tolikara.

Selain aspek budaya, FER juga dirancang sebagai motor penggerak ekonomi lokal. Kegiatan budaya yang dikemas secara profesional dan menarik diharapkan dapat mengundang wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Kedatangan wisatawan ini secara langsung akan memicu perputaran ekonomi di Tolikara, mulai dari sektor akomodasi, kuliner, hingga kerajinan tangan.

Melalui Festival Etnik Religi, Pemkab Tolikara berupaya menciptakan ekosistem pariwisata budaya yang berkelanjutan. Ini adalah langkah proaktif untuk memastikan bahwa kekayaan adat dan tradisi tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

Target Ambisius PAD Melalui Pariwisata Budaya

Penyelenggaraan Festival Etnik Religi menjadi bagian dari upaya Pemkab Tolikara untuk mencapai target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang lebih tinggi. Imanuel Gurik mengungkapkan, “Kami pikir FER menjadi cara lain untuk membantu meningkatkan PAD bagi Kabupaten Tolikara pada tahun ini.” Optimisme ini didasari oleh capaian PAD tahun sebelumnya yang melampaui target.

Pada tahun 2025, PAD Kabupaten Tolikara berhasil mencapai Rp18,07 miliar, melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp12 miliar. Gurik menyatakan rasa syukurnya atas realisasi tersebut, terutama karena pencapaian itu terjadi tanpa adanya festival budaya berskala besar. Pencapaian ini menjadi indikator potensi besar yang dimiliki Tolikara.

Dengan adanya Festival Etnik Religi, Pemkab Tolikara berharap dapat melihat peningkatan PAD yang lebih signifikan. Kedatangan wisatawan yang tertarik pada keunikan budaya Tolikara akan mendorong transaksi ekonomi, seperti pembelian suvenir, penggunaan jasa transportasi, dan penginapan, yang semuanya akan berkontribusi pada kas daerah.

Sinkronisasi Jadwal untuk Daya Tarik Wisatawan Lebih Luas

Dalam upaya memaksimalkan jumlah pengunjung, waktu pelaksanaan Festival Etnik Religi Tolikara telah diintegrasikan dengan jadwal kegiatan budaya besar lainnya di Papua. Strategi ini dirancang untuk menciptakan rute perjalanan wisata yang menarik bagi para pelancong.

“Kami menyesuaikan pelaksanaan FER pada 11-13 Agustus untuk mensinkronkan kegiatan budaya lain seperti Festival Danau Sentani (FDS) 3-5 Agustus dan Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) 7-9 Agustus,” jelas Imanuel Gurik. Penyesuaian jadwal ini menunjukkan perencanaan yang matang untuk menarik wisatawan yang sudah berada di Papua.

Dengan demikian, wisatawan yang menghadiri FDS di Jayapura atau FBLB di Lembah Baliem memiliki kesempatan untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Kabupaten Tolikara. Harapannya, hal ini dapat meningkatkan kunjungan dan memberikan pengalaman budaya yang lebih kaya serta beragam bagi para wisatawan di Papua Pegunungan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi