Universitas Pakuan dan GPSN Inisiasi Golok Menuju Warisan Dunia UNESCO: Perjuangan Pengakuan Budaya Nusantara

Bogor inisiasi pengajuan golok sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO. Universitas Pakuan dan GPSN berkolaborasi untuk menjadikan golok Warisan Dunia UNESCO, memperkuat literasi sejarah dan pengakuan internasional.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Universitas Pakuan dan GPSN Inisiasi Golok Menuju Warisan Dunia UNESCO: Perjuangan Pengakuan Budaya Nusantara
Bogor inisiasi pengajuan golok sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO. Universitas Pakuan dan GPSN berkolaborasi untuk menjadikan golok Warisan Dunia UNESCO, memperkuat literasi sejarah dan pengakuan internasional. (AntaraNews)

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan bersama Pelestari Golok Pedang Sepuh Nusantara (GPSN) menginisiasi pengajuan golok sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO. Inisiatif ini digulirkan melalui serangkaian kegiatan budaya di Kota Bogor, Jawa Barat. Acara tersebut meliputi munggahan, pameran pusaka, dan sarasehan budaya yang bertujuan mengangkat martabat golok.

Rektor Universitas Pakuan, Prof. Didik Notosudjono, menegaskan dukungan penuh kampusnya terhadap upaya ini. Pihaknya bertekad memperkuat pengajuan golok melalui kajian akademik dan digitalisasi. Langkah ini diharapkan dapat melestarikan golok sebagai bagian penting dari pusaka Nusantara untuk generasi mendatang.

Kegiatan ini berlangsung di Gedung Graha Pakuan Siliwangi Universitas Pakuan pada tanggal 15 Februari. Tujuannya adalah memastikan golok mendapatkan pengakuan internasional sebagai warisan budaya. Kolaborasi ini juga bertujuan memperkuat dokumentasi historis dan filosofis golok.

Dukungan Akademik dan Digitalisasi Pelestarian Golok

Universitas Pakuan berkomitmen penuh dalam perjuangan menjadikan golok Warisan Dunia UNESCO. Prof. Didik Notosudjono menekankan pentingnya penguatan melalui penelitian dan kajian budaya. Kampus memainkan peran strategis dalam melestarikan sejarah pusaka Nusantara ini.

Pengembangan literasi dan dokumentasi menjadi langkah krusial agar tradisi golok tidak tergerus arus informasi. Digitalisasi tradisi dan kajian ilmiah golok sangat penting. Ini merupakan bagian dari upaya "link and match" antara dunia akademik dan pelestarian budaya.

Kampus juga akan meneliti historika, filosofi, hingga ragam pamor golok. Upaya ini memastikan bahwa setiap aspek golok terdokumentasi dengan baik. Hal ini akan memperkaya argumen pengajuan ke UNESCO.

Perjuangan GPSN dan Harapan Pengakuan Golok

Perwakilan GPSN, Gatut Susanta, mengungkapkan bahwa saat ini hanya keris yang diakui UNESCO sebagai pusaka Indonesia. Oleh karena itu, komunitas pelestari golok berjuang agar golok menjadi warisan budaya tak benda berikutnya. Golok memiliki sejarah panjang sebagai alat ketahanan pangan, pertahanan, hingga menjadi pusaka.

GPSN telah melengkapi berbagai persyaratan administrasi yang diperlukan untuk pengajuan ini. Mereka melakukan pendataan komunitas, pelestari, hingga penempa golok lintas generasi. Dalam pameran, GPSN menampilkan sekitar 300 koleksi golok, termasuk dari era 800-900 dan masa Demak.

Gatut Susanta berharap golok dapat diakui UNESCO pada tahun 2027. Pengakuan ini penting agar generasi mendatang tidak perlu mencari golok di luar negeri. Ini adalah langkah vital untuk menjaga warisan budaya bangsa.

Apresiasi Pemerintah Daerah dan Kolaborasi Lintas Sektor

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyatakan kebanggaannya atas inisiatif yang lahir dari Bogor ini. Pengakuan internasional terhadap golok akan memperkuat literasi sejarah. Hal ini juga akan membuka ruang penelitian yang lebih luas bagi para akademisi dan peneliti.

Dukungan perguruan tinggi seperti Universitas Pakuan menjadi faktor penting dalam memperkuat dokumentasi. Argumentasi historis pengajuan golok ke UNESCO juga semakin kuat dengan adanya kajian akademik. Dedie berharap proses ini tinggal satu langkah lagi menuju pengakuan.

Rangkaian kegiatan juga mencakup penampilan seni, penandatanganan nota kesepahaman, dan peluncuran Siliwangi Digital Collection. Sarasehan budaya turut memperkuat kolaborasi antara komunitas, akademisi, dan pemerintah daerah. Ini adalah upaya bersama dalam menjaga kelestarian warisan budaya Nusantara.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi