47 Korban Jiwa Akibat Bencana Hidrometeorologi Sumut, Siklon Tropis Senyar Jadi Pemicu

Bencana Hidrometeorologi Sumut menelan 47 korban jiwa dan puluhan luka-luka di 13 kabupaten/kota. Simak penyebab utama dan dampak cuaca ekstrem yang melanda wilayah ini.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
47 Korban Jiwa Akibat Bencana Hidrometeorologi Sumut, Siklon Tropis Senyar Jadi Pemicu
Bencana Hidrometeorologi Sumut menelan 47 korban jiwa dan puluhan luka-luka di 13 kabupaten/kota. Simak penyebab utama dan dampak cuaca ekstrem yang melanda wilayah ini. (AntaraNews)

Bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor telah melanda 13 kabupaten/kota di Sumatera Utara (Sumut) dalam beberapa hari terakhir. Musibah ini mengakibatkan dampak yang signifikan, termasuk korban jiwa dan pengungsian massal di berbagai daerah.

Hingga Kamis, 27 November, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumut melaporkan total 123 korban telah ditemukan. Dari jumlah tersebut, 47 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara 9 korban lainnya masih dalam pencarian.

Selain itu, 67 korban mengalami luka berat maupun luka ringan akibat terjangan bencana ini. Situasi darurat ini memerlukan penanganan cepat dan koordinasi antarpihak untuk membantu masyarakat yang terdampak.

Dampak Bencana dan Sebaran Korban di Sumut

Kepala BPBD Provinsi Sumut, Tuahta Ramajaya Saragih, menjelaskan bahwa jumlah korban terbanyak berasal dari Tapanuli Selatan dengan 73 korban, terdiri dari 15 meninggal dan 58 luka-luka. Daerah lain juga mengalami dampak serius, menunjukkan luasnya sebaran bencana hidrometeorologi ini.

Di Humbang Hasundutan, tercatat 18 korban dengan 5 meninggal, 4 hilang, dan 9 luka-luka. Kota Sibolga melaporkan 17 korban meninggal, sementara Tapanuli Utara memiliki 8 korban, meliputi 3 meninggal dan 5 hilang. Wilayah lain yang turut terdampak adalah Tapanuli Tengah dengan 4 korban meninggal, Pakpak Bharat 2 korban meninggal, dan Padangsidempuan 1 korban meninggal.

Sebanyak 13 kabupaten/kota yang dilanda bencana hidrometeorologi ini meliputi Langkat, Tapanuli Tengah, Sibolga, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Padangsidempuan, Pakpak Bharat, Nias Selatan, Humbang Hasundutan, Binjai, Medan, dan Deli Serdang. Bencana ini juga menyebabkan ribuan warga harus mengungsi.

Tuahta menambahkan, "Adapun jumlah pengungsi dilaporkan di empat kabupaten, yakni 776 KK (kepala keluarga) di Mandailing Natal, 3.000 jiwa di Tapanuli Selatan, 240 KK di Padangsidimpuan, 19 KK di Tapanuli Utara." Kondisi ini menunjukkan skala besar dari dampak bencana yang terjadi.

Penyebab Cuaca Ekstrem: Ancaman Siklon Tropis Senyar

Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem yang terjadi di Sumut beberapa hari terakhir merupakan dampak dari Siklon Tropis Senyar. Fenomena alam ini menjadi pemicu utama intensitas hujan yang tinggi.

Siklon Tropis Senyar ini merupakan Bibit Siklon Tropis 95B yang mulai berkembang sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh dan Selat Malaka. Keberadaan siklon ini secara langsung memengaruhi kondisi atmosfer di wilayah Sumatera Utara, menyebabkan perubahan cuaca signifikan.

Hendro menjelaskan, "Dampaknya dalam satu minggu terakhir, wilayah Sumatera Utara dilanda hujan setiap hari." Peningkatan intensitas hujan ini tidak hanya menyebabkan banjir, tetapi juga memicu tanah longsor di daerah-daerah rawan. Kondisi ini diperparah dengan kelembapan udara yang sangat tinggi.

Dengan kelembapan udara yang terpantau sangat tinggi, udara menjadi cukup basah, yang semakin mendukung potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di beberapa wilayah Sumatera Utara. Hal ini menciptakan kondisi ideal bagi terjadinya bencana hidrometeorologi yang masif.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi