Seorang wanita inisial R (34) tidak lagi bernyawa saat ditemukan di kamar hotel. Hasil penyelidikan sementara, kematian wanita itu karena mengalami malapraktik dari filler payudara.
Setelah melakukan filler terhadap payudaranya, tiba-tiba saja wanita R mengalami kondisi tidak biasa. Bagian payudaranya mengeluarkan cairan di titik penyuntikan.
R juga lemas dan kedinginan. Dugaan kuat polisi, tindakan filler terhadap R adalah malapraktik.
Advertisement
Apa itu Filler Payudara?
Banyak wanita menginginkan bentuk tubuh indah. Itu sebabnya, tidak sedikit yang melakukan sejumlah perawatan termasuk melakukan filler. Salah satunya filler payudara.
Tetapi khusus proses filler, tentu tidak bisa sembarang dilakukan. Apalagi bila filler dilakukan di area payudara. Sebab bisa menimbulkan risiko bahkan bahaya kematian.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, dr Arini Widodo SpKK menjelaskan lebih dahulu apa itu filler. Menurutnya, filler adalah produk sintetis atau turunan alami yang disuntikkan ke dalam kulit untuk mengoreksi kerutan, lekukan, dan lipatan.
Baca juga: Kronologi Wanita Tewas Usai Lakukan Filler Payudara di Hotel Tamansari
Saat ini, indikasi atau penggunaan filler semakin meningkat terutama untuk menggantikan volume yang hilang di kulit atau lemak subkutan (volume loss).
Umumnya, proses filler dilakukan di area wajah. Tetapi tidak menutup kemungkinan di bagian tubuh lain seperti payudara. Biasanya, penyuntikan bahan filler ke dalam payudara bertujuan menambah volume payudara.
Arini menambahkan, banyak alasan kenapa seseorang ingin melakukan filler. Mayoritas, pasien ingin kembali beraktivitas seperti biasanya setelah melakukan filler. Selain itu, proses filler memperlihatkan hasil lebih cepat.
Advertisement
Filler Area Payudara Tak Disarankan
dr Arini menambahkan, secara medis penyuntikan filler payudara tidak disetujui oleh FDA dan tidak disarankan untuk dilakukan. Penyuntikan akan semakin berbahaya bila bahan filler tidak dapat dihilangkan dari tubuh secara alami. Sehingga sangat disarankan untuk berkonsultasi lebih dulu dengan dokter ketika hendak melakukan filler.
"Contoh bahan filler yang tidak aman adalah penyuntikan dengan bahan silicon. Untuk menambah volume payudara sebaiknya dapat berkonsultasi dengan dokter bedah plastic yang kompeten untuk opsi-opsi lain seperti fat transfer atau implant payudara," kata dr Arini melalui pesan singkat kepada merdeka.com, Senin (21/2).
Filler pada dasarnya adalah perawatan kosmetik yang relative aman. Tetapi bila dilakukan oleh dokter sebagai tenaga medis profesional. Meskipun aman, penting untuk diketahui bahwa menyuntikkan filler adalah prosedur medis. Setiap prosedur medis memiliki risiko.
"Meskipun aman, penting untuk diketahui bahwa menyuntikkan filler adalah prosedur medis. Setiap prosedur medis memiliki risiko. Melakukan filler oleh tenaga non-medis bisa sangat berbahaya, karena diperlukan pengetahuan dasar anatomi dan fisiologi yang baik dan pemilihan produk yang tepat untuk dapat menyuntikan filler dengan risiko yang minimal," ujarnya.
Advertisement
Efek Samping Filler Payudara?
Dia menambahkan, filler payudara dapat menimbulkan efek samping karena anatomi payudara berbeda dengan kulit wajah. Payudara memiliki berbagai komponen di dalamnya yang membuat penyuntikan filler pada payudara memiliki risiko tinggi.
"Ada area-area yang berbahaya bila diinjeksi filler seperti ductus kelenjar susu dan pembuluh darah yang memberikan supplai darah ke sana. Umumnya filler pada wajah diletakan subkutan (lapisan lemak) atau di bawah SMAS, akan tetapi pada payudara anatomi agak berbeda," katanya.
Melihat dari struktur tersebut, untuk meletakkan filler pada subkutan sulit dipastikan tepat di layer tersebut. Dikarenakan jaringan pada payudara lebih lebih longgar. Apalagi, filler pada payudara umumnya menggunakan volume besar yang juga menjadi risiko tersendiri.
"Filler yang masuk ke dalam ductus kelenjar susu dapat menyebabkan infeksi, dan filler yang masuk ke pembuluh darah di payudara dapat menyebabkan kematian jaringan setempat yang dapat membuat daerah tersebut menjadi luka, benjolan, hematoma, syok septik, dan lain-lain," jelasnya.
Hingga saat ini, belum ditemukan filler yang ideal. Semua filler dapat menyebabkan reaksi yang merugikan. Apalagi, bila area penyuntikan di tempat yang tidak diindikasikan oleh FDA seperti payudara, bokong, dan kaki. Sebab dapat membawa risiko komplikasi seperti infeksi, granuloma, dan embolisasi paru terutama jika disuntikkan dalam jumlah besar.
Advertisement
Tips Aman Saat Melakukan Filler
Filler adalah prosedur medis yang diatur oleh Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat. Arini mengungkapkan, sebagian besar filler kulit yang disetujui FDA bersifat sementara (tidak permanen) karena terbuat dari bahan yang akhirnya dapat dipecah dan diserap tubuh.
Berikut tips aman melakukan filler mengacu rekomendasi FDA:
- Jangan pernah menggunakan filler di payudara, bokong, dan di antara otot-otot. Sebab berbahaya dan dapat menyebabkan cidera serius, bahkan kematian.
- Jangan pernah membeli filler di internet. Cairan tersebut mungkin palsu, terkontaminasi, atau berbahaya.
- Jangan pernah melakukan prosedur filler oleh penyedia yang tidak berlisensi atau di lingkungan non-medis seperti hotel atau rumah pribadi.
- Melakukan prosedur filler oleh tenaga ahli dan menggunakan produk yang disetujui FDA untuk perawatan. Botol harus diberi label dan disegel dengan benar.
Jika penyedia layanan kesehatan menawarkan prosedur filler yang jauh lebih murah atau jika produk memiliki label yang terlihat aneh atau berbeda dari biasanya, berhati-hatilah.