Warnanya putih, paling mencolok di antara yang lainnya. Berada tepat di samping Presiden Indonesia keempat KH Abdurrahman Wahid. Dialah Sinci Ita Martadinata Haryono. Perempuan dari etnis Tionghoa yang menjadi korban kekerasan Mei 1998. Sinci berarti papan arwah.
Warga Tionghoa meletakkan sinci Ita gedung Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong atau Rasa Dharma, Gang Pinggir, Kawasan Pecinan Semarang, Jawa Tengah. Ita mendapat kehormatan lantaran perjuangannya selama masih hidup, membela hak asasi manusia korban pemerkosaan 1998.
Sekretaris Gedung Rasa Dharma Semarang, Indriyani Hadisumarto mengatakan menuturkan, prosesi ritual peletakan sinci dimulai dengan mengenakan pita hitam sebagai simbol berduka. Saat memakai pita hitam ini perkumpulan Rasa Dharma membentuk sebuah barisan, kemudian mereka berjalan ke arah Tian untuk membakar dupa.
Setelah menyelesaikan tahapan prosesi ini, berlanjut altar Boen Hian Tong untuk penyerahan dan meletakkan sinci Ita di altar utama Gedung Boen Hian Tong, (Rasa Dharma) Semarang.
Ritual yang dilakukan ini adalah cara etnis Tionghoa untuk mengingat sebuah tragedi yang kelam di Indonesia. Meskipun pahit, tapi hal ini tidak bisa dilupakan begitu saja.
"Kami berupaya mengingat dan mengingatkan," kata Indriyani kepada merdeka.com belum lama ini.
Usai melakukan ritual prosesi, selanjutnya melakukan sajian makanan rujak pare sebagai simbol kepahitan yang dialami oleh etnis Tionghoa pada Mei 1998. Kemudian menyantap nasi ulam Bhinneka Tunggal Ika yang memiliki campuran rasa, untuk menyatukan keberagaman.
"Intinya dengan ikut merasakan semoga kepahitan tragedi itu bisa terus terkikis. Meskipun tidak akan dilupakan," ujarnya.
23 tahun silam, Ita yang masih berusia 17 tahun tergabung dalam aktivis Buddhis getol memperjuangkan berbagai laporan kasus perkosaan yang muncul sebagai dampak dari kerusuhan Mei 1998.
"Kami punya inisiasi meletakan sinci di altar dengan nama korban. Supaya bisa terus mendoakannya dan arwah-arwah lain yang belum tenang," jelasnya.
Perempuan kelahiran Oktober 1980 itu bertugas membantu advokasi penculikan pada 1999 beberapa mahasiswa. Tepat pada 11 Mei awal memunculkan sejumlah kasus perkosaan perempuan di Jakarta, Surabaya dan Medan.
Ita dikenal sebagai anak aktif dan pintar. Dia menjadi korban perkosaan saat masih kelas 3 SMA Paskalis Jakarta. Ita juga sempat bergabung dengan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRUK) yang mengadvokasi perempuan etnis Tionghoa yang diperkosa. Dia akhirnya ditemukan tewas diduga dibunuh.
Sementara itu mantan pegiat Komnas Perempuan Ita F Nadia mengaku kasus pembunuhan Ita merupakan dampak kebijakan politik tertentu yang menyertai peristiwa 98. Dia menilai hal ini merupakan proses pembungkaman kepada para korban agar tidak bersaksi di tingkat internasional. Orang-orang yang mengusut kasus pemerkosaan mendapatkan teror.
"Ita itu adalah martir dari korban 98. Dia dibunuh sebelum bersaksi di level internasional ini," kata Ita F Nadia.