Penyebab kebakaran 225 hektar lahan hutan di lereng Gunung Merbabu belum diketahui. Namun akibat terbakarnya lahan hutan kerugian diperkirakan Rp300 juta.
"Kita belum tahu penyebabnya. Untuk kerugian masih diinventarisir, perkiraan Rp300 juta. Kebanyakan yang terbakar ilalang," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah Teguh Dwi Paryono, Selasa (17/9).
Dia menyebut kemungkinan besar penyebab kebakaran disebabkan human error atau kesalahan manusia. Adapun lokasi kebakaran gunung Merbabu sudah berhasil dipadamkan pada Minggu (15/9) lalu.
"Jadi lokasi kebakarannya masih berada di dekat permukiman. Ketinggiannya tidak terlalu jauh dengan puncak. Jadi bisa diperkirakan ulah manusia. Mungkin ada yang buang puntung rokok sembarangan atau membuka lahan baru dengan cara praktis," ujarnya.
Selama masa kemarau panjang, beberapa hutan di Jateng telah mengalami karhulta. Dari sekian banyak kejadian itu, hanya ada satu korban jiwa, yakni dari kalangan warga.
"Korban jiwa hanya 1 di Bayat, Klaten. Dia membakar lahan di dekat lereng Gunung Merapi. Kondisi korban memang sudah tua dan sulit menyelamatkan diri," ujarnya.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng akan juga berkoordinasi dengan penjaga hutan untuk memperketat pengawasan selama musim kemarau panjang atau ekstrem.
"Kita masyarakat untuk tidak membawa api atau membakar-bakar sampah di kawasan hutan," tutup Teguh.