Lahan gambut di kelurahan Tunan, kecamatan Waru, kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, masih terbakar hingga hari ketiga ini. Petugas pemadam gabungan, terus berupaya memadamkan api. Bahkan, petugas mesti menginap bermalam di sekitar lokasi kebakaran.
Luasan lahan gambut yang terbakar, mencapai sekitar sekitar 10 hektare. Sampai sore ini, petugas gabungan baru memadamkan sekitar 14 titik api, yang mengeluarkan asap tebal. Itu pun masih berada di daerah pinggir lahan yang terbakar.
"Yang kita padamkan baru sekitar 35 persen. Lokasinya yang terbakar ini ada di kawasan Tunan, kecamatan Waru. Lokasinya berdekatan dengan desa Giripurwa," kata Kasubbid Logistik dan Peralatan BPBD PPU, Nurlaila, dikonfirmasi merdeka.com, Jumat (17/8).
Nurlaila menerangkan, pemadaman di lokasi, belum dilakukan ke areal bagian tengah lahan. "Karena ini lahan gambut, kita sisir bara sisa bakar. Karena gambut ini, titik panas ada di bagian bawah permukaan," ujarnya.
Menuju lokasi yang terbakar, di area kebun sawit PT KMS, menurut Nurlaila cukup melelahkan. Selain menggunakan mobil dan motor, tim juga harus menuju ke lokasi dengan berjalan kaki, membawa logistik dan peralatan pemadaman, melalui medan yang cukup berat lebih 1 kilometer.
"Karena akses lokasi yang jauh, di lokasi sekarang kita buka 3 tenda, kita menginap malam ini. Besok habis subuh, kita di lokasi bisa langsung kerja lagi memadamkan mulai pagi. Karena, kalau siang, angin sangat kencang," terang Nurlaila.
"Selain BPBD, antara lain ada dari Dinas Pertanian, Manggala Agni, TNI dan Polri. Kita menginap dengan mendirikan 3 tenda, untuk kegiatan pemadaman di hari keempat pemadaman besok," ungkap Nurlaila.
Di lokasi, lanjut dia, PT KMS mengklaim areal yang terbakar hanya 4,7 hektare. "Karena ini yang terlibat beberapa instansi, kita data dan hitung ulang besok pagi. Tracking bareng hitung luasan, karena kita hindari selisih luasan," jelasnya.
"Tapi, di tahun 2015-2016 lalu, sering juga lahan gambut di sini terbakar. Kali ini, perusahaan shock lihat banyaknya personel dari pemerintah, TNI dan Polri. Mereka (perusahaan) anggap ini (kebakaran gambut) hal biasa. Tapi kan Karhutla, jadi perhatian nasional," ujar Nurlaila.