Atlet PON dapat apartemen, bonus atlet disabilitas Sumsel tak jelas

Ketidakadilan disinyalir kembali dialami atlet disabilitas kontingen Sumsel yang akan mengikuti Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV di Jawa Barat 15-24 Oktober 2016 mendatang. Setelah kurang makan selama pemusatan latihan lantaran terbatasnya anggaran pemerintah, kini mereka juga tak menjamin akan mendapat bonus.

Irwanto
Oleh Irwanto - Reporter
Atlet PON dapat apartemen, bonus atlet disabilitas Sumsel tak jelas
Atlet disabilitas Sumsel. ©2016 merdeka.com/irwanto

Ketidakadilan disinyalir kembali dialami atlet disabilitas kontingen Sumsel yang akan mengikuti Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV di Jawa Barat 15-24 Oktober 2016 mendatang. Setelah kurang makan selama pemusatan latihan lantaran terbatasnya anggaran pemerintah, kini mereka juga tak menjamin akan mendapat bonus jika mendapat medali.Ketidakpastian pemberian bonus tersebut diungkapkan Sekretaris Daerah Sumsel, Mukti Sulaiman. Menurut dia, pihaknya belum bisa merencanakan pembagian bonus bagi setiap atlet disabilitas yang mengantongi medali."Kita pikirkan lagi (bonus), bentuknya apa, besarannya berapa nanti dipikirkan ya," ungkap Mukti usai melepas 126 atlet disabilitas asal Sumsel di Wisma Atlet Palembang, Selasa (11/10).Saat ditanya apakah bonus yang diberikan kepada atlet disabilitas sama dengan atlet umum dalam naungan KONI, lagi-lagi Mukti tak bisa menjamin. Diketahui, atlet PON asal Sumsel diberikan bonus apartemen yang meraih medali emas dan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah bagi atlet yang mengantongi medali perak dan perunggu."Itu lain hal, kita lihat karena keuangan negara kita lagi kurang," ujarnya.Sementara itu, Ketua National Paralympic Committe (NPC) Sumsel Rian Yohwari mengatakan, dengan segala keterbatasan yang dirasakan selama ini, kontingen atlet disabilitas Sumsel akan tetap berusaha maksimal untuk mengantongi medali emas dan menempati posisi delapan besar."Semua kendala dan keterbatasan kita, baik dana atau lain, kita tetap berjuang habis-habisan demi Sumsel. Kita yakin target tercapai," imbuhnya.Diberitakan sebelumnya, atlet disabilitas Sumsel menyesalkan sikap pemerintah yang tidak berlaku adil. Sebab, selama menjalani pemusatan latihan di Wisma Atlet Jakabaring, mereka kekurangan asupan makan dan gizi. Sejumlah atlet masuk rumah sakit karena tak makan. Atlet ini juga tak menerima sepeser pun uang saku selama pemusatan latihan seperti yang dinikmati atlet PON yang mencapai Rp 4 juta per orang setiap bulan. Bahkan, atlet disabilitas harus membeli peralatan olahraga sendiri untuk menunjang latihannya.

Rekomendasi