Ayahanda Gabriella Sheryl Howard (8), Asip, murid kelas 3 SD Global Sevilla School Puri Indah, Jakarta Barat menyayangkan sikap sekolah yang enggan bertanggung jawab atas kematian anaknya. Asip mengatakan pihak sekolah juga tidak memberikan ganti rugi yang sesuai dalam kasus ini.Pihak sekolah, lanjut Asip, hanya memberikan kompensasi sebagai ganti rugi yakni biaya rumah duka dan pemakaman atas putrinya itu. Selain itu, pihak sekolah hadir di pemakaman namun tidak untuk pemilik sekolah. Dengan ganti rugi itu, sekolah mengklaim telah bertanggung jawab secara keseluruhan."Biaya rumah duka abadi di Daan Mogot, biaya kuburan dianggap Rp 36 juta sudah selesai. Hadir di pemakaman dianggap sudah memberikan dukungan moril. Sekolah berkoar-sekolah itu dianggap kompensasi sudah bertanggung jawab secara keseluruhan," kata Asip di Kompleks Sandiago Hills, Karawang, Jawa Barat, Kamis (14/4).Asip juga kesal pemilik sekolah dan guru olahraga, Ronaldo Laturette tidak memiliki itikad baik untuk sekedar mengucapkan belasungkawa dan minta maaf kepada pihak keluarga. Tapi, saat acara-acara di sekolah, pemilik sekolah masih rutin hadir."Nyawa anak saya bukan nyawa seekor kucing. Guru olah raga dan pemilik sekolah tak pernah minta maaf ke kita. Pemilik sekolah giliran ada acara seperti grand lauching hadir, murid mati pura-pura enggak tau," sesalnya.Tak hanya itu, dia menyesalkan kelalaian dan kurangnya pengawasan pihak sekolah terhadap anak muridnya. Padahal seharusnya, untuk sekolah taraf internasional, syarat operasional renang dengan 15 anak harus diawasi dengan minimal 3 pengawas.Sedangkan, Global Sevilla hanya ada 1 guru dan itu pun guru olahraga umum sehingga ia tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan soal pertolongan darurat tenggelam."Melanggar kurikulum, mana boleh renang jadi pelajaran wajib. Katanya ada penjaga kolam, CCTV, lalu kelas 3 dianggap sudah gede. Kebijakan 15 orang dijaga 1 guru, sekarang duduk manis. Setelah kejadian ini, CCTV baru dipasang," terangnya.Seperti diketahui, Gaby tewas saat mengikuti olahraga renang di sekolahnya pada 17 September 2015 silam. Sebelum tewas, korban sempat berusaha menolong rekannya yang tak mampu berenang, hingga akhirnya tenggelam dan tak mampu diselamatkan.Gabriella Sheryl Howard pun merenggang nyawa karena ketidakmampuan sekolahnya untuk menyelamatkan bocah cilik ini. Bahkan, pihak sekolah sempat menutupi kecelakaan tersebut dari kedua orangtuanya.
Ayah Gabriella: Pihak sekolah ada murid mati pura-pura nggak tau!
"Nyawa anak saya bukan nyawa seekor kucing."
Advertisement
Rekomendasi