Setelah ditemukan lokasi jatuhnya pesawat Aviastar, Senin (5/10), esoknya tim SAR gabungan evakuasi yang terdiri dari 150 orang dari Basarnas, TNI, Polri, relawan dan dibantu warga sekitar menuju pegunungan di ketinggian 7.000 kaki di Desa Ulusalu, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.Pesawat jenis PKBRM/DHC6 dengan nomor penerbangan MV 7503 itu ditemukan dalam kondisi tidak utuh. Total penumpang 10 orang, pilot, co pilot dan seorang teknisi.Proses evakuasi 10 penumpang korban Aviastar memang tidak mudah. Tantangan utama yang dihadapi tim SAR gabungan adalah medan berat di alam terbuka."Situasi medan berat, 80 persen pegunungan, tebing cukup curam, hutan lebat dan tidak berpenghuni sehingga yang cocok memang hanya menggunakan helikopter," kata Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI FH Bambang Soelistyo.
Sementara itu untuk menuju ke lokasi, hanya bisa ditempuh melalui jalan darat. Dibutuhkan waktu sekira delapan jam dengan berjalan kaki."Tetap evakuasinya menggunakan empat helikopter, hanya saja untuk bisa sampai pada lokasi jatuhnya pesawat itu memang harus menempuh perjalanan darat sekitar delapan jam," ujar Direktur Operasi dan Latihan Basarnas Brigjen TNI (Mar) Ivan Ahmad Rizki Titus kepada Antara di Makassar, Selasa (6/10).
Advertisement
"Dari Desa Ulusalu, personel jalan kaki lagi dan tidak bisa naik mobil ke Desa Gamaru karena memang daerah pegunungan. Itu memakan waktu sekitar waktu empat jam. Kemudian lanjut lagi pendakian di ketinggian 7.000 kaki atau dua kilometer lebih juga butuh waktu empat jam," lanjut Ivan.Sepuluh jenazah korban ditemukan di pegunungan tersebut. Korban lantas dievakuasi dengan cara ditandu ke Desa Ulu, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.Desa Ulu merupakan tempat landasan helikopter yang sudah stanby, guna mengangkut sejumlah korban yang sudah ditemukan. Dari sini jenazah diterbangkan ke Makassar.
Selain medan yang berat, rintangan lain yang dihadapi tim SAR adalah cuaca di sekitar lokasi yang kurang bagus, hal ini mengingat lokasi penemuan pesawat merupakan hutan belantara. Akhirnya tim terpaksa membuka jalur baru untuk memudahkan kelancaran evakuasi.Proses evakuasi dilakukan dengan pengangkatan jenazah menggunakan tali dari bibir tebing pegunungan, untuk diangkat ke tempat lebih rata lalu ditandu posko desa Ulu.
Advertisement
Untuk helikopter yang disiapkan mengangkut jenazah korban pesawat Aviastar berjumlah empat unit, dua helikopter milik Basarnas dan PT Bosowa dan satu dari TNI dan satu lainnya dari Polri.Akhirnya 10 jenazah korban Aviastar tiba di Lanud Hasanuddin, Selasa malam. Secara resmi diserahkan oleh Kepala Basarnas, Marsekal Madya FHB Soelistyo ke Kapolda Sulsel, Irjen Polisi Pudji Hartanto Iskandar untuk selanjutnya akan melalui proses identifikasi jenazah di posko antemortem oleh DVI Biddokkes Polda Sulsel.
Selain itu, serpihan bangkai pesawat yang bertuliskan nama pesawat yang sudah tidak utuh lagi berikut black box juga diserahkan dari Kepala Basarnas ke ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono untuk kepentingan investigasi penyebab hilang dan jatuhnya pesawat.