Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo akan menggelar kunjungan kerja ke tiga negara, yakni Suriname, Belanda dan Jerman. Sebelum tiba di negara-negara itu, panitia sudah menyiapkan serangkaian acara untuk menyambut kedatangannya.Di hari pertama, Ganjar dan Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi diawali ramah tamah dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag Belanda. Selanjutnya, Ganjar bersama rombongan menghadiri peringatan 125 tahun kedatangan orang Jawa ke Suriname di Paramaribo.Dalam acara bertajuk Indofair Suriname 2015 itu ditampilkan pentas seni budaya Jateng. Di antaranya; Tari Denok Deblong, Gatotkaca, Batik, Ramayana, dan Pesisiran."Kami juga akan melakukan pertemuan dengan presiden, menteri kabinet, parlemen, pengusaha, serta investor Suriname untuk mengenalkan potensi unggulan Jawa Tengah. Sejumlah cinderamata khas Jawa Tengah kami berikan ke mereka, seperti batik, wayang, dan miniatur Candi Borobudur. Kami juga akan bertemu dan beramah tamah dengan tokoh Jawa di sana, yaitu, Paul Salam Sumohardjo, Raymond Sapoen, dan lain-lain," ungkap Ganjar saat jumpa pers menjelang keberangkatannya di Bandara Ahmad Yani Kota Semarang, Jawa Tengah Minggu (27/9) petang tadi.Kepada warga Suriname, Ganjar akan menawarkan beasiswa kursus singkat pengembangan bahasa Jawa di Jawa Tengah sebagai upaya mengenalkan bahasa Jawa Tengah kepada warga, khususnya pelajar dan mahasiswa dari Suriname. "Apalagi, selama ini penduduk Suriname menggunakan bahasa Jawa sebagai alat komunikasi keseharian," ungkap Ganjar.Di negara itu, Ganjar bersama Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah Rukma Setyabudi juga diberi kesempatan wawancara khusus pihak TV Suriname. Dilanjutkan mengunjungi permukiman masyarakat Jawa di Taman Sari atau Taman Rejo.Pembahasan mengenai peluang kerja sama bisnis dengan Jawa Tengah dilakukan antara Ganjar bersama Forum Bisnis Jawa Tengah dengan KADIN Suriname dan pengusaha keturunan Jawa. Dari pertemuan itu, diharapkan ada kerja sama menguntungkan yang dijalin oleh kedua belah pihak. Kunjungan ke Suriname diakhiri dengan meninjau Java Village dan Museum Nleu Amsterdam Paramaribo. Kunjungan di Suriname berakhir pada 2 Oktober."Sekitar tahun 1890, banyak warga Jawa dikirim ke Suriname, hasilnya saat ini 15 persen warganya keturunan Jawa. Bahkan menduduki jabatan kabinet. Saya merasa ada hubungan budaya kuat dan harus dipelihara dengan silaturahmi yang kuat," kata Ganjar.
Ganjar bersama rombongan kemudian menuju Den Haag dan sebelumnya singgah di Amsterdam. Di Den Haag, Ganjar berdialog dengan Kuasa Usaha Ad-interim (KUAI) KBRI Den Haag. Fokus pembicaraan mengenai peningkatan kerja sama Jawa Tengah dengan Pemerintah Belanda di sektor ekonomi (investasi dan perdagangan), pariwisata, pendidikan dan kebudayaan, sumber daya air, serta kesehatan. Kemudian Ganjar menyempatkan untuk beramah tamah dengan diaspora (perantau) Indonesia.Usai dari Den Haag, kunjungan dilanjutkan ke Bronbeek. Di kota itu, Ganjar dan rombongan mengunjungi Museum Bronbeek untuk menerima arsip Sejarah Jawa Tengah. Penyerahan dilakukan Kepala Museum Bronbeek kepada Gubernur Jawa Tengah.Selanjutnya, digelar pertemuan dengan masyarakat Bronbeek, Walikota Arnhem, jajaran pejabat Pemerintah Provinsi Gelderland, serta kumpulan masyarakat Indonesia. Gubernur dan Ketua DPRD Jawa Tengah juga melangsungkan pertemuan dengan Menteri Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Pembangunan di Kantor Kementerian Luar Negeri Belanda."Ini adalah kunjungan balasan dari delegasi Belanda ke Jateng setahun lalu. Kami berencana bekerjasama dalam penyusunan database museum, terutama data sejarah Jateng dan Kota Semarang, dan merencanakan membangun Museum Semarang di Kota Lama," jelas Ganjar. Untuk mengefektifkan waktu kunjungan di Den Haag, selanjutnya delegasi teknis dibagi tiga kelompok. Kelompok pertama bersama Gubernur menuju John Helmer Dutch Water Authorities membahas kerja sama Water Management, yang dilanjutkan dengan peninjauan ke sistem polder pengendali banjir Kota Rotterdam. Kemudian rombongan menuju Schakenbosch melakukan pertemuan bisnis perdagangan, wisata, dan investasi potensi Jawa Tengah. Ada beberapa penandatanganan kesepakatan kerja sama yang dilakukan. Pertama, kerja sama antara Yayasan Oen, Perusahaan Daerah Citra Mandiri Jawa Tengah dengan Programma Uitzending Manajer (PUM) Belanda. Kedua, kerja sama Dinas Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jawa Tengah dengan Technische Universiteit (TU) Delft, review study water management (pengendali banjir, air minum, raw water), studi inventarisasi bangunan kolonial di Jawa Tengah (PUM).Lalu, kerja sama tenaga ahli medis, kerja sama Budi Santoso Foundation dengan pihak yang menangani midden java reuni, serta kerja sama Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dengan dinas/ lembaga pendidikan Belanda.Kelompok kedua, menindaklanjuti mengenai revitalisasi Kota Lama, pertemuan dengan PUM di PUM Den Haag. Sementara, kelompok ketiga membahas kelanjutan kerja sama di bidang kesehatan bersama Indonesia Diaspora Global Network Health (IDGNH), mengenai kerja sama pertukaran tenaga ahli medis dengan tenaga dari RSUD Dr Moewardi, RSUD Dr Margono Soekarjo, dan RSUD Tugurejo. Kunjungan di Belanda berakhir hingga 5 Oktober 2015.Pada 6 Oktober 2015, gubernur bersama rombongan menuju Dortmund Jerman. Di tempat itu digelar pertemuan dengan masyarakat Indonesia di Dortmund, pertemuan dengan pemerintah negara bagian Northrhein Wesfalia. Pembicaraan difokuskan pada penjajakan kerja sama di bidang pendidikan dan teknologi lingkungan. Perjalanan dilanjutkan ke Duisburg/ Muelheim, dan berkunjung ke Siemens yang memroduksi Turbin dan generator untuk pembangkit tenaga listrik. Kemudian, dilakukan peninjauan ke Museum Batik yang bertujuan meningkatkan popularitas batik di Jerman.Keesokan harinya, dilangsungkan pertemuan dengan BMZ (Kementerian Kerja Sama Pembangunan Jerman) di Bonn untuk meminta bantuan tenaga ahli berpengalaman dari Jerman dalam pengembangan produksi teknologi lingkungan. Tenaga ahli itu nantinya memperkuat Tim Teknologi Lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.Dari Bonn, rombongan menuju Frankfurt untuk mengadakan pertemuan dengan pejabat Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) di Kantor Pusat GIZ, untuk pengembangan teknologi lingkungan, pariwisata, koperasi, dan perdagangan di Jawa Tengah. Dalam kesempatan itu juga dilangsungkan pertemuan bisnis di sektor pariwisata dan investasi yang mempresentasikan potensi pariwisata di Jawa Tengah, maupun ketertarikan investasi di Jawa Tengah oleh Prof Friedhelm Goltenboth, University of Hohenheim-Stuttgart-Germany. Kunjungan kerja di Jerman diakhiri dengan pertemuan bersama Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dan tokoh masyarakat Indonesia di Jerman yang memiliki ketertarikan terhadap Indonesia.