Mengintip padepokan Soeharto, tempat ribuan keris & akik di Wonogiri

Salah satu wilayah menjadi saksi bisu tumbuh kembang Soeharto adalah Wonogiri, Jawa Tengah.

Aryo Putranto Saptohutomo
Mengintip padepokan Soeharto, tempat ribuan keris & akik di Wonogiri
Padepokan Soeharto. ©2015 merdeka.com/aryo putranto

Tujuh tahun berlalu selepas Presiden Republik Indonesia kedua, Soeharto wafat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta. Jasadnya dikubur di kompleks pemakaman Astan Giribangun, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.Tulisan ini hanya sebagai secuil kilasan terhadap hidup salah satu pemimpin Indonesia, terlepas dari beragam kontroversinya. Sebab bagaimanapun juga, nama Soeharto tercatat dalam sejarah memimpin selama 32 tahun, menggantikan Ir Soekarno.Soeharto lahir saat negara ini masih bernama Hindia Belanda. Tepatnya pada 8 Juni 1921 di Desa Kemusuk, dekat daerah Godean, Yogyakarta. Ayahnya bernama Kertosudiro, seorang pengawas irigasi. Sementara sang ibu adalah Sukirah, yang kabarnya keturunan jauh dari Sultan Hamengkubuwono V dari istri pertamanya.Salah satu wilayah menjadi saksi bisu tumbuh kembang Soeharto adalah Wonogiri, Jawa Tengah. Di daerah yang gersang itu dia menghabiskan masa kecil dan remajanya. Salah satu peninggalannya adalah rumah kerabatnya di daerah pinggiran kota tersohor dengan Waduk Gajah Mungkur.Merdeka.com sempat bertandang ke rumah itu. Perjalanan dimulai dari Surakarta. Untuk menuju Wonogiri memang lebih mudah dicapai melalui Solo. Dari sana diteruskan dengan menumpang bus besar jurusan Wonogiri atau Praci dari Terminal Tirtonadi. Ongkosnya Rp 10 ribu sekali jalan. Jangan lupa berpesan kepada kernet kita akan turun di daerah Air Mancur Wonogiri.

Waktu tempuh dari Solo menuju Wonogiri berkisar 45 menit hingga satu jam. Tergantung cara sang sopir mengemudikan kendaraan dan kepadatan lalu lintas. Selama perjalanan, kita disuguhi pemandangan hamparan sawah terbentang. Bagi saya yang saban hari mesti berjibaku dengan kusutnya lalu lintas di Jakarta, tentu pemandangan itu bisa melepaskan penat sesaat. Ditambah embusan angin saat bus melaju.Pemandangan berubah ketika kita memasuki wilayah Wonogiri. Karena daerah itu berada di atas bukit, maka perjalanan sedikit menanjak. Hanya saja, hawa dingin seperti daerah pegunungan tidak terasa, malah sebaliknya, panas menyengat. Kita pun akan melihat daerah yang tanahnya berbatu dan kering. Kemudian terlintas dalam benak sulitnya membangun kehidupan di sana.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

"Dulu orang Wonogiri malu ngaku mereka tinggal di sana. Bilangnya orang Solo. Karena daerahnya ya kering, miskin," kata Begug Poernomosidi, mantan Bupati Wonogiri, kepada merdeka.com.Kernet bus lantas memberitahu lokasi saya turun. Dari sana, saya berjalan kaki kurang lebih 500 meter ke terminal setempat. Perjalanan disambung naik angkot. Tak sampai lima menit, sudah tiba di lokasi, Jalan Ahmad Yani nomor 41. Cukup merogoh Rp 3 ribu sebagai imbalan jasa sang sopir.

Jalan Ahmad Yani merupakan tapal batas kota Wonogiri. Rumah hendak saya singgahi berpagar putih. Cukup luas buat ukuran di Wonogiri. Di depannya terpampang papan nama 'Pedepokan H.M. Soeharto.' Tanpa ragu saya melangkah masuk.Di pekarangannya teronggok sebuah batu akik raksasa panca warna, sengaja diletakkan dengan alas beton. Saya pun penasaran dengan isi rumah itu. Di dalamnya tertata beberapa lemari kaca berisi keris berbagai bentuk dan ukuran.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

"Pedepokan ini saya bangun untuk mengenang jasa Pak Harto sebagai presiden. Juga untuk menumbuhkan minat generasi muda terhadap budaya bangsa Indonesia. Karena saya prihatin anak muda sekarang enggak tahu akar budaya mereka," ujar Begug.Begug ternyata penggagas pedepokan itu. Soal mengapa dia menyematkan nama Soeharto, "Karena dulu Pak Harto pernah tinggal di sini waktu kecil sama pamannya. Dulu rumah ini cuma dari bambu, enggak seperti ini. Jadi ingin mengenang saja."Menurut lelaki kelahiran Wonogiri 8 Februari 1946 itu, memang rumah itu dia sulap menjadi tempat pameran dan diresmikan pada 8 Juni lalu, bertepatan dengan haul hari lahir Soeharto. Utamanya keris, batu akik, dan benda pusaka lainnya.

Tempat itu bisa dikunjungi sejak pukul 09.00 hingga 15.00 WIB. Dia mengatakan koleksi kerisnya sebanyak 1222 buah sempat tercatat dalam Museum Rekor Indonesia. Dia juga mendeklarasikan organisasi masyarakat Himpunan Masyarakat Peduli Indonesia, dan berhasil menggaet salah satu anak Soeharto, Hutomo Mandala Putra atau kerap disapa Tommy, sebagai dewan pembina."Tapi kalau ada tamu asing minta dibuka, ya dibuka. Saya heran, anak muda Indonesia malah senang budaya luar, orang luar malah belajar budaya ke sini," sambung Begug.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Mbah Begug, begitu dia menyebut dirinya, bukan ingin membangkitkan kenangan terhadap Pak Harto. Hanya saja menurut kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu, Soeharto adalah tokoh yang dia kagumi, selain Soekarno."Buat saya ambil yang baiknya dari Pak Harto. Insya Allah bangsa ini tidak tercerai berai," ujar Begug.

Rekomendasi