Atlet-atlet ini sengsara di akhir kariernya

Mantan atlet tinju Ellyas Pical bahkan harus berurusan dengan polisi untuk bisa menyambung hidup.

Al Amin
Oleh Al Amin - Reporter
Atlet-atlet ini sengsara di akhir kariernya
Amin Ikhsan. ©2015 merdeka.com/andrian salam wiyono

Seperti kata pepatah, 'hidup itu ibarat roda pedati, kadang di atas, kadang di bawah', hal itu yang dialami sejumlah atlet Indonesia selepas pensiun. Tidak adanya kejelasan tanggungan pemerintah, membuat pejuang pengharum nama bangsa ini melakukan apa saja untuk bisa menyambung hidup.Beragam profesi dilakukan, mulai sebagai tukang cuci pakaian, petugas keamanan, hingga menjadi gelandangan. Tidak adanya kejelasan dari pemerintah terhadap status mantan atlet membuat sejumlah kalangan prihatin.Salah satunya seperti yang dialami atlet tinju Ellyas Pical. Elly yang pada era 80-an selalu dielukan bahkan harus berhubungan dengan penegak hukum. Elly divonis hukuman tujuh tahun penjara karena terbukti terlibat peredaran narkotika.Ellyas Pical merupakan satu dari sederet nama atlet yang setelah mereka pensiun sebagai atlet, hidupnya berubah. Minimnya perhatian pemerintah, khususnya Kemenpora membuat mereka sengsara di hari tua.Berikut atlet-atlet yang sengsara di akhir kariernya.

Mantan atlet dayung Lenni Haeni jadi tukang cuci pakaian

Mantan atlet dayung Lenni Haeni jadi tukang cuci pakaian
Lenni Haeni. ©google

Saat masih bertatus sebagai atlet dayung nasional, Lenni Haeni total mempersembahkan 20 medali untuk Indonesia. Pada Sea Games 1997 yang diselenggarakan, Lenni sukses mendulang tiga medali emas dan satu medali perak.Namun itu dulu, saat Lenni masih mampu menghantarkan merah putih berdiri kokoh di tiang bendera Sea Games, namanya selalu dielukan. Selepas 'menggantung' dayung, kehidupan Lenni seolah memprihatinkan.Untuk menyambung hidup, dirinya bekerja sebagai buruh cuci dan bekerja serabutan. Bahkan pada 2012, Lenni tidak mampu untuk membiayai pengobatan anaknya yang menderita hepidemolosis gulosa (kulit sensitif) di RS Cipto Mangunkusumo.Hal ini kemudian menarik perhatian politikus PDIP Ribka Tjiptaning yang kala itu menjadi Ketua komisi IX DPR RI. Saat itu, Ribka mendesak pemerintah untuk memperhatikan mantan atlet yang mengharumkan nama Indonesia.

Mantan petinju Ellyas Pical jadi office boy

Mantan petinju Ellyas Pical jadi office boy
Ellias Pical. ©google

Jalan hidup mantan atlet tinju Ellyas Pical tidak semulus pukulannya saat meng-KO lawan-lawannya. Semenjak menggantung sarung tinju, pria yang biasa disapa Elly ini menekuni beberapa profesi untuk menyambung hidup salah satunya sebagai petugas keamanan di diskotek di Jakarta Pusat.Saat bekerja di diskotek tersbut, pada Juli 2005, Elly ditangkap polisi karena melakukan transaksi narkoba. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonisnya hukuman tujuh bulan penjara.Setelah bebas dari penjara, pria kelahiran Maluku, 24 Maret 1960 bekerja sebagai asisten Agum Gumelar saat menjabat ketua KONI Pusat. Belakangan setelah ganti kepengurusan KONI, beberapa pekerjaan dilakoni ayah dari Lorinly dan Matthew Pical ini. Salah satunya menjadi Office Boy di Kementerian Pendidikan dan Olahraga.Jalan hidup Elly ini mengundang keprihatinan sejumlah pihak. Mereka menilai tidak adanya jaminan hidup yang diberikan pemerintah kepada atlet yang telah mengharumkan nama bangsa di pentas dunia.

Amin Ikhsan mantan atlet senam yang jadi gelandangan

Amin Ikhsan mantan atlet senam yang jadi gelandangan
Amin Ikhsan. ©2015 merdeka.com/andrian salam wiyono

Amin Ikhsan (42) adalah mantan atlet senam nasional yang sudah membawa nama harum Indonesia di pentas kejuaraan senam Asia. Namun kini nasibnya sungguh menyedihkan setelah rumah yang sudah ditempati sejak puluhan tahun digusur.Amin beserta puluhan warga lainnya memilih bertahan lantaran belum ada kejelasan dari Pemerintah Kota Bandung ihwal ganti rugi. Istri dan anak Amin diungsikan ke rumah neneknya di kawasan Cibiru, Kabupaten Bandung. Adapun Amin yang kondisinya lemah lantaran penyakit gagal ginjal dideritanya tetap bertahan.Pria yang pernah menyabet peringkat ke-7 atlet senam terbaik Asia dalam ajang Suzuki World Cup di Jepang pada tahun 2000 itu kini hidup menjadi gelandangan di tenda reot yang didirikan di tengah puing-puing. Kasur lusuh menjadi tempat dia istirahat di malam hari."Sementara jadi gelandangan dulu saja. Sampai kapan? Sampai jelas saja nasib kami. Karena belum ada kejelasan," ungkapnya. Pemkot Bandung menurutnya akan merevitalisasi ke Rusunawa yang ada di kawasan Batununggal. Tapi itu hanya sementara.

Rekomendasi