Pro kontra pembangunan Trans Studio di Semarang, caplok lahan TBRS?

Trans Studio Semarang diduga dibangun di kawasan Taman Budaya Raden Saleh dan Wonderia.

Parwito
Oleh Parwito - Reporter
Pro kontra pembangunan Trans Studio di Semarang, caplok lahan TBRS?
Ilustrasi. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Budayawan senior Djawahir Muhammad menyatakan pembangunan Trans Studio di kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) dan arena bermain Wonderia bisa dilaksanakan asalkan harus dilakukan adanya dialog dengan para budayawan, seniman dan warga sekitar.Sehingga, proses pembangunan Trans Studio ini tidak menjadikan kontroversi dan perlawanan balik masyarakat Kota Semarang, terutama budayawan dan seniman yang menjadikan TBRS sebagai pusat berkesenian mereka. Sebaliknya, para budayawan dan seniman juga tidak merasa memiliki dan menguasai di TBRS."Saya mendukung proses pembangunan Trans Studio di TBRS. Asalkan, dengan beberapa persyaratan-persyaratan yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Di sisi lain, teman-teman seniman seakan akan TBRS ini milik mereka saja. Menolak pemerintah. Secara payung hukum tidak punya. Pemkotlah yang memiliki aset TBRS. Apalagi, soal penguasaan lahan TBRS tidak ada suratnya," ungkapnya saat acara #SaveTBRS yang dihadiri Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, ratusan budayawan, seniman dan para aktivis Kota Semarang di Kompleks TBRS, Jalan Sriwijaya, Kota Semarang, Jawa Tengah,Rabu (11/3).Sementara penyair Kota Semarang, Timur Suprabana secara keras mengingatkan wali kota Semarang, jika lokalisasi saja dan tempat maksiat ada di Kota Semarang, mengapa seniman dan budayawan dengan dibangunnya Trans Studio wahana permainan milik pengusaha Chairul Tandjung, seolah-olah disingkirkan."Kalau parlonten (lokalisasi) punya tempat kenapa tidak seniman? Kalau tukang keplek (penjudi) saja punya tempat, kalau orang-orang tukang minum punya tempat kenapa seniman tidak?" tegasnya.Timur mengungkapkan jika beberapa seniman yang sukses berkibar di dunia seni nasional berawal dari TBRS bisa bangkit, dan menoreh prestasi di dunia seni dan budaya nasional."Semua seniman yang berkibar percaturan nasional, semua berawal dari sini. Dia menggodok daya kreatifnya berharap restu juga. Berkesenian dari sini tidak ada yang tidak. Mereka keluar dari sini semuanya jadi," ungkapnya.Jika Pemkot Semarang tetap memaksakan kehendak melakukan pembangunan Trans Studio di TBRS, maka menurut Timur adalah upaya Pemkot Semarang untuk memberangus segala kegiatan seni dan budaya di Kota Semarang. "Kalau pembangunan tetap dilakukan, Pemkot Semarang menghabisi kreatifitas dan proses budaya dari tempat ini," ungkapnya.Sementara itu, budayawan senior Kang Putu mengungkapkan sebagai warga Kota Semarang secara tegas dia menolak jika ada pembangunan Trans Studio dengan menggusur TBRS."Sebagai bukan seniman dan yang merasa memiliki taman ini saya menolak pengalihan fungsi taman (TBRS) ini sebagai Trans Studio," ujarnya.Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Semarang, Ahmad Daroji mengungkapkan bahwa perlunya peningkatan pendapatan di bidang wisata terutama untuk menambah devisa negara. Namun, perlu adanya langkah pembicaraan yang matang dan serius terkait proses pembangunan Trans Studio di Kota Semarang.


"Saya sudah melihat 20 negara, karena wisata itu diperlukan untuk perolehan devisa. Pelu ada pembicaraan matang sehingga ada win-win solution. Ada pembicaraan serius," ujarnya.Proses pembangunan Trans Studio milik grup perusahaan Chairul Tandjung ini, menurut Ahmad Daroji tidak harus menggusur TBRS sebagai pusat aktivitas kebudayaan dan berkesenian di Kota Semarang ini.Sementara itu, Ketua Komisi Informasi Publik Rahmulyo Adi Wibowo menjelaskan perlu adanya langkah konkret baik dari Pemkot Semarang dan para aktivis kebudayaan dan kesenian di Kota Semarang untuk membahas serius tentang pembangunan Trans Studio di Kota Semarang. Sehingga perlu adanya perwakilan dari budayawan dan seniman untuk membentuk tim terkait pembahasan ke depan rencana pembangunan Trans Studio tersebut.Menanggapi aksi penolakan warga Kota Semarang, Hendrar Prihadi menjanjikan akan mempertemukan pekerja seni, budayawan dan warga sekitar TBRS dengan pihak manajemen Trans Studio."Setelah ini saya koordinasi dengan tokoh-tokoh yang lain, untuk mereka bisa memberikan perwakilan berapapun misalnya kita batasi 50 orang lalu saya akan undang pihak Trans untuk bisa menjelaskan dengan peta yang sudah ada di tempat ini. Misalnya, ini kan luasnya 8,9 hektar. Kalau dikurangi TBRS seperti apa dan mereka akan membangun Trans Studio seperti apa? Kalau dengan TBRS apa yang mereka tawarkan. Nanti akan didiskusikan saja. Kalau sepakat TBRS jangan masuk dalam pembangunan, saya akan jaga amanah dari masyarakat. saya akan amankan itu," tegas Hendi, panggilan akrab Hendrar.Hendy menggap aksi penolakan yang terjadi di lingkungan budayawan, seniman dan warga sekitar TBRS terjadi karena kesalahan informasi. Namun demikian, Hendi tetap akan melanjutkan proses sosialisasi dan upaya pembangunan Trans Studio di pusat kegiatan budaya dan seni di Kota Semarang itu.Tentang luas area yang akan digunakan Trans Studio tersebar informasi butuh 9 hektar. Sementara, di kawasan TBRS dan Wonderia hanya terdapat lahan 8,9 hektar. Hendi mengungkapkan kebutuhan lahan itu hanya asumsi. Bukan kebutuhan pasti untuk membangun Trans Studio di atas tanah atau lahan TBRS dan Wonderia."Kita kan asumsi yah, bahwa di Makassar butuh 12 hektar, di Bandung sekian hektar, ini kan asumsi dari kawan-kawan sehingga kalau memang adanya segitu kita tawarkan lagi. Ini tanpa TBRS luasnya adanya sekian, kalau mereka memang mau silakan. Sehingga catatanya adalah piye carane Wonderia dadi apek," ungkapnya.

Rekomendasi