KPH Notonegoro, calon mempelai pria dari pasangan putri Sri Sultan Hamengkubuwono X, GKR Hayu menitipkan bunga mawar biru ke calon mertuanya. Hal ini, dikarenakan saat prosesi midodareni, KPH Notonegoro tidak boleh menemui GKR Hayu.Namun, Sultan yang mengunjungi KPH Notonegoro di Bangsal Kesatriyan sekitar pukul 20.20 WIB, Senin (21/10) malah menanyakan ke calon menantunya apakah tidak ada titipan lainnya selain bunga mawar untuk GKR Hayu. "Cuma ini aja? Enggak bilang I love you?" canda Sultan lalu tertawa. Kemudian, KPH Notonegoro pun tersipu malu lalu ikut tertawa. "Itu saja Sultan," balas Notonegoro malu-malu.Setelah menerima titipan tersebut, Sultan pun pergi meninggalkan bangsal Kesatriyan untuk menemui GKR Hayu di bangsal Sekar Kedhaton.Pada malam Midodareni ini, Sultan mengunjungi kedua calon mempelai di tempat masing-masing untuk menanyakan kesiapan pernikahan keesokan harinya. Pada malam midodareni, GKR Hayu baru akan diperbolehkan tidur setelah lewat pukul 00.00 WIB.Menurut kepercayaan pada malam itulah bidadari akan mendatangi GKR Hayu yang tengah tertidur dan menganugerahinya kecantikan laiknya bidadari.Sebelumnya, setelah prosesi siraman selesai dilakukan pada Senin (21/10) siang, ritual pernikahan GKR Hayu dengan KPH Notonegoro dilanjutkan dengan Tantingan dan Midodareni pada malam hari sekitar pukul 19.00 WIB.Acara Tantingan dimulai dengan GKR Hayu menghadap Sri Sultan dan ditanya tentang kesiapan GKR Hayu untuk menikah. Dengan berbisik dan nyaris tak terdengar, Sultan menanyakan sesuatu kepada putri keempatnya tersebut. GKR Hayu yang mengenakan kebaya berwarna hijau saat itu dengan sigap menjawab pernyataan Sultan. "Sendiko dawuh," ujar GKR Hayu lirih.Setelah itu, GKR Hayu pun perlahan mundur dan meninggalkan bangsal Prabayeksa. Tantingan tersebut disaksikan oleh Penghulu Kraton, Abdi Dalem Pemetakan, dan petugas KUA Kecamatan Kraton.Untuk diketahui, upacara Tantingan ini dijadikan sarana untuk memberitahukan siapa yang akan menikahi putri Sultan. Sebab, dulu calon mempelai pria dengan calon mempelai wanita belum saling mengenal karena pernikahan dilaksanakan melalui proses perjodohan.Seiring berkembangnya zaman, adat perjodohan mulai memudar semenjak era Sultan HB IX. Saat ini, upacara Tantingan dimaksudkan untuk menanyakan kemantapan dan kesiapan calon mempelai wanita untuk dinikahkan. Upacara Tantingan ini tetap dilakukan dengan tujuan untuk melestarikan kebudayaan Kraton dan juga akan dilakukan dengan bahasa Bagongan (bahasa Kraton).
Midodareni, Sultan HB X dititipi mawar biru oleh calon menantu
Di malam midodareni, kedua mempelai dilarang bertemu.
Advertisement
Rekomendasi