Ratusan penyair memotret batin Indonesia lewat puisi esai

Minggu, 5 Agustus 2018 13:27 Reporter : Rizky Andwika
Ratusan penyair memotret batin Indonesia lewat puisi esai . ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Lebih dari 200 penyair, penulis, aktivis memotret batin isu sosial di 34 Provinsi lewat 34 buku melalui puisi esai. Kini, 34 buku puisi esai itu, satu buku mewakili satu provinsi, bisa diakses, dibaca bahkan diunduh oleh siapapun di Facebook bernama Perpustakaan Puisi Esai.

Penggagas gerakan nasional puisi esai, Denny JA, menyebarkan meme di media sosial dengan tagline: Dan Penyair Pun Membuat Sejarah.

"Ini bukan sekadar membuat buku puisi, tapi menjadi gerakan budaya dilihat dari banyak sisi," Ujar Denny melalui keterangan tertulis, Minggu (5/8).

Denny menjelaskan dari sisi isi puisi, masyarakat akan memahami aneka isu sosial dan kearifan lokal di setiap provinsi. Di Aceh, tergambar suasana batin dinamika individu yang pro NKRI dan pro Aceh Merdeka. Di Papua, ada kisah seorang Ayah yang membawa anaknya berobat pada klinik kesehatan terdekat, tapi harus berjalan kaki berhari-hari.

Ada pual di Yogyakarta mengenai konflik keluarga akibat kemungkinan pewaris tahta kerajaan seorang wanita. Ada kisah di Jawa Tengah tentang penduduk yang cemas karena tersingkir industri.

"Semua kisah adalah kisah nyata, dengan catatan kaki yang merujuk sumber informasi. Namun aneka kisah itu difiksikan agar lebih menyentuh. Dengan membaca 34 buku ini kita menyadari betapa kayanya kearifan lokal bumi nusantara," katanya.

Menurutnya, jika dulu mengenal budaya Indonesia dari aneka buku ilmiah, saat ini semua pihak bisa masuk ke batinnya melalui puisi esai.

Dari sisi puisi, semua menuliskan dalam bentuk puisi esai. Sebanyak lebih dari 170 puisi esai dalam 34 buku adalah puisi panjang yang berbabak. Uniknya, ada catatan kaki yang melampirkan fakta dan data menunjang kisah yang difiksikan.

"Kita tak hanya mendapatkan drama tapi juga informasi tentang sejarah atau isu sosial," ujarnya.

Puisi esai diklaim sebagai genre baru puisi. Denny menyebut tak hanya berhenti sebagai klaim namun diwujudkan dalam ratusan puisi dan puluhan buku.

"Dari sisi program, ini gerakan nasional yang murni berasal dari gerakan masyarakat. Tak ada sepersen dana berasal dari pemerintah atau lembaga asing atau pabrik rokok. Gerakan ini sepenuhnya dibiayai oleh kalangan komunitas puisi esai sendiri," ujarnya.

Menurut Denny, gerakan ini juga menunjukkan bahwa secara mandiri bisa mengerjakan program nasional tanpa harus membebani APBN atau APBD.

Denny menambahkan ia dibantu oleh sepuluh editor nasional, tiga koordinator wilayah, dan tim administrasi yang militan dan cinta berkarya. Kerja ini memakan waktu kurang lebih satu tahun.

"Di era media sosial, saya mencari cara paling mudah agar seluasnya publik bisa mengakses, membaca bahkan mengunduh 34 buku puisi esai. Cara paling jitu dan ngetrend, 34 buku itu bisa diakses di Facebook Perpustakan Puisi Esai. Data menunjukkan sebanyak 100-150 juta populasi Indonesia punya akun facebook," katanya.

Dua hal yang akan ia dan komunitasnya upayakan ke depan, pertama timnya akan memilih 34 puisi esai yang mewakili 34 provinsi untuk dibuatkan film pendek kerja sama dengan TV nasional. Puisi esai akan mengawali betapa puisi dapat menjadi basis untuk divisualkan dalam film.

Kedua, sebab begitu banyak ruang dalam puisi esai untuk diiisi oleh kisah moral, ia dan komunitasnya berikhtiar membawa puisi esai masuk ke sekolah. Saatnya karakter siswa ikut dibentuk melalui sastra. [rzk]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini