Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Raih perunggu di Paralympic Brazil, Widiasi diarak keliling Denpasar

Raih perunggu di Paralympic Brazil, Widiasi diarak keliling Denpasar Ni Nengah Widiasih. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Penghargaan luar biasa diberikan pemerintah provinsi Bali dan Pemkot Denpasar, terhadap Ni Nengah Widiasih. Begitu tiba di Bandara Ngurah Rai, wanita 24 tahun asal Kubu Karangasem ini langsung diarak keliling Kota Denpasar.

Penghargaan itu layak diberikan padanya melihat kondisi fisiknya, namun memiliki semangat juang hingga dirinya memperoleh mendali perunggu di ajang angkat besi Paralympic di Rio De Jenerio, Brazil. Setibanya di Pulau Dewata, atlet tuna daksa ini pun langsung mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Bahkan dia diantar hingga menuju ke tempat tinggalnya di sebuah rumah kontrakan di Jalan Serma Mendra No 3 Sanglah Denpasar, Bali.

Dengan mengenakan jaket merah-putih, Widiasih tampak sumringah dan menebar senyum kepada masyarakat yang menyapanya. Didampingi pelatih dan teman seperjuangannya, atlet yang menerima bonus Rp 1 miliar dari Pemerintah Republik Indonesia ini terlihat sangat senang dengan penyambutan dan apresiasi yang diberikan oleh pihak-pihak terkait dan juga kedua orangtuanya.

"Saya senang mendapat sambutan dari pemerintah Bali dan juga semua orang yang mendukung saya selama ini. Terima kasih juga bapak Presiden, bapak Menteri yang sudah membuat kami atlet paralympic setara dengan atlet olimpic," ujar Widiasih, Rabu (28/9).

Perempuan kelahiran Karangasem, 12 Desember 1992 ini mengaku tak menyangka akan mendapat sambutan semeriah ini. Widiasih pun berjanji akan terus mengasah diri, menyongsong kejuaraan-kejuaraan selanjutnya.

"Tahun ini memang belum maksimal, namun ke depannya semoga kami bisa lebih baik lagi prestasinya," ujar perempuan asal Banjar Dinas Bukit Desa Sukanada, Kecamatan Kubu Karangasem ini.

Kepada wartawan, perempuan yang pernah meraih medali emas pada ajang ASEAN PARA GAME di Myanmar ini menuturkan, untuk meraih medali perunggu pada ajang di Paralimpic Rio, Brasil, bukanlah pekerjaan mudah. Sebab di cabang Angkat Besi kelas 41 Kg, ia mendapat lawan-lawan yang berat. Kendati begitu, dia bangga bisa bertanding dengan atlet-atlet papan atas dunia.

"Medali Perunggu ini paling berharga dibanding medali emas yang pernah kami raih. Saingannya sangat ketat dan berat. Dan bersyukur Tuhan mengizinkan saya mencapai ini. Tak bisa saya ungkapkan, yang jelas sangat berkesan," ujar putri kedua dari pasangan Ni Luh Bingin dengan Gede Gambar ini .

Bagi Widiasih, dalam hidupnya selalu ada target dan mimpi. Meski sempat gagal pada ajang Paralimpic di London, dia tak mau menyerah. Latihan demi latihan terus dilakukan sesuai arahan tim pelatih.

"Dalam hidup harus punya mimpi. Mimpi saya adalah menjadi lebih baik dari sebelumnya," pungkasnya. (mdk/hhw)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP