Puti: Gus Sholah cerita kedekatan Bung Karno dengan KH Hasyim Asy'ari

Selasa, 30 Januari 2018 13:50 Reporter : Fahmi Aziz
Puti: Gus Sholah cerita kedekatan Bung Karno dengan KH Hasyim Asy'ari Gus Sholah dan Puti. ©2018 Merdeka.com/Bruriy

Merdeka.com - Usai mendaftar sebagai Calon Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus pendamping Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Puti Guntur Soekarno gencar berkeliling Jawa Timur. Selain untuk menjaring aspirasi masyarakat, secara pribadi, Puti ingin merasakan suasana kebatinan jejak perjuangan kakeknya, Sang Proklamator RI Soekarno.

Diketahui, Bung Karno memiliki ikatan kuat dengan Jawa Timur. Dimulai dari lahir di Surabaya, Koesno (panggilan lain Bung Karno) berpindah ke Mojokerto. Lalu menghabiskan masa kecilnya di Blitar. Menginjak remaja, Presiden pertama RI itu kembali lagi ke Surabaya dan berguru kepada salah satu pemimpin Sarekat Islam, Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Hingga dimakamkan di Kota Blitar.

Tak tanggung-tanggung, demi memenuhikeingintahuan itu, Puti bahkan mendatangi kubu pendukung lawan, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Alih-alih membahas perihal Pemilihan Gubernur, justru Puti menanyakan hubungan antara kakeknya dengan para kiai di Jawa Timur.

"Ketika saya sowan ke Gus Sholah, saya sempat bertanya kedekatan kakek saya, Bung Karno dengan para kiai. Beliau (Gus Sholah) menjawab, Bung Karno dekat dengan KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim, bahkan bersahabat sekali dengan Mbah Wahab (KH. Wahab Hasbullah),"kata Puti, di Banyuwangi, Sabtu (27/1). Adapun ketiganya merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU).

"Saya bertanya bagaimana perjuangan mereka?". Gus Sholah menjawab, "Mereka punya visi yang sama. Mereka ingin merajut kebersamaan kemerdekaan Indonesia pada saat itu," lanjut Puti.

Bahkan, ketika membentuk suatu negara, Bung Karno selalu berkorespondensi dengan KH Hasyim Asyari. Selain itu, Bung Karno juga pernah bertanya dalam surat korespondensinya, "Apa hukumnya bagi kita semua untuk membela negara?"

"Menurut Gus Sholah, KH Hasyim Asyari menuliskan jawabannya, hukumnya adalah fardu ain. Artinya, wajib bagi kita membela negara kita, wajib bagi kita merajut kemerdekaan, kebersamaan dan kebangsaan kita. Maka itulah, saripati dari pemikiran mereka berdua yang menjadi salah satu pergerakan Indonesia. Yang akhirnya, memerdekakan bangsa ini," ceritanya.

Puti menambahkan, ini sesuai dengan yang disampaikan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri ketika mengamanatkannya menjadi pendamping Gus Ipul.

"Dalam konteks kebangsaan inilah, yang Ibu Mega inginkan, bahwa tidak sekadar menang saja, apa artinya menang, bila tidak bisa merajut kemerdekaan bangsa kita," kata dosen tamu Asia Jepang Research Center, Kokushikan University Jepang ini. [paw]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini