Hot Issue

Pro Kontra Masuk SD Wajib Calistung

Jumat, 23 September 2022 10:58 Reporter : Merdeka
Pro Kontra Masuk SD Wajib Calistung Ilustrasi Sekolah Dasar. ©2022 Merdeka.com/Dok. Kemdikbud RI

Merdeka.com - Wakil Ketua Komisi X DPR Dede Yusuf mengkritik penerapan membaca, tulis, dan hitung (calistung) di tingkat pra sekolah. Politisi Partai Demokrat ini menyoroti kebijakan calistung diterapkan di TK dan PAUD sebagai syarat masuk Sekolah Dasar (SD).

Menurut Dede, anak-anak di jenjang pra sekolah seharusnya hanya bermain. Calistung seharusnya diajarkan saat anak masuk ke jenjang Sekolah Dasar (SD).

“Di Kindergarten, di Playgroup, di TK, di PAUD itu mestinya mereka bermain, mereka happy, mereka senang, mereka bernyanyi. Jangan bebankan dengan Calistung," kata Dede dalam keterangannya seperti dikutip dari akun media sosial TikTok dengan username @ddyusuf66.

Sekedar informasi, penguasaan calistung bukan merupakan kewajiban yang harus dimiliki peserta didik jenjang PAUD. Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, pada Pasal 69 ayat (5) disebutkan bahwa penerimaan peserta didik tahun pertama SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, ataupun bentuk tes lain.

Kemudian, dalam Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), menyatakan bahwa persyaratan usia adalah satu-satunya persyaratan bagi calon peserta didik di tahun pertama SD/MI, yaitu berusia tujuh tahun atau paling rendah enam tahun pada tanggal 1 Juli tahun berjalan.

2 dari 4 halaman

Nadiem Tekankan Pentingnya Konsep Bermain dan Belajar di Jenjang PAUD

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, kemitraan antara lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan orang tua dan masyarakat harus terjalin dengan baik dalam menerapkan pendidikan karakter bagi anak usia dini. Pendidik di lembaga PAUD maupun orang tua harus memahami konsep bermain dan belajar, sehingga tidak terjebak dengan target kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) pada anak usia dini.

Nadiem mengatakan, yang terpenting dari konsep pendidikan usia dini adalah mengenalkan kepada anak-anak bagaimana belajar sambil bermain.

“Ini merupakan sesuatu hal, yaitu apa itu konsep bermain dan belajar. Itulah yang sebenarnya membentuk karakter anak usia dini. Bagaimana mereka berkolaborasi, bagaimana cara menemukan kreativitas, kemudian menjadi cinta sekolah dan cinta belajar. Jadi yang penting bukan soal cepat berhitung, cepat menulis, atau cepat membaca. Bukan! Itu bukan yang terpenting," kata Nadiem saat diwawancarai media usai kegiatan Apresiasi Bunda PAUD Tingkat Nasional Tahun 2019 di Jakarta, Senin (18/11/2019).

Dia menuturkan, hal terpenting yang harus dicapai dalam pendidikan anak usia dini adalah kesenangan anak untuk berpartisipasi di dalam aktivitas-aktivitas sekolah. Misalnya, bagaimana berinteraksi atau bermain bersama murid lain di sekolah, atau bagaimana bersikap saat berhadapan dengan orang tua atau orang dewasa.

Nadiem menambahkan, kemampuan beradaptasi dan berinteraksi dengan orang lain menjadi hal penting bagi anak usia dini karena ia akan menghadapi jenjang pendidikan berikutnya, yaitu sekolah dasar (SD).

“Karena pada saat nanti dia pindah ke SD, di situlah dia memulai pembelajaran baru yang sifatnya lebih kognitif dan akademis. Tapi kalau pendidikan karakter dia, atau behaviour atau perilaku dia belum disiplin, belum bisa beradaptasi dengan teman-teman di kelasnya maupun berinteraksi dengan orang dewasa, dia akan kesulitan belajar. Jadi kalau kita sudah biasakan karakter itu sejak usia dini, belajar di sekolah jadi lebih mudah. Ini koneksi harus segera kita sebarkan,” ujar Nadiem, seperti dikutip dari kemdikbud.go.id.

3 dari 4 halaman

PAUD Bermain Bukan Penguasaan Calistung

Sementara itu, pengamat pendidikan Mohammad Abduzen menilai Kurikulum Merdeka jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tidak perlu mencantumkan materi baca, tulis, dan hitung (calistung) secara formal atau klasik terhadap anak. Abduzen menyebut, pengajaran materi literasi dan numerasi tetap diperlukan, namun bukan secara sempit seperti calistung.

Abduzen mengatakan, penerapan calistung secara formal seharusnya dimulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD). Materi yang harus diterapkan oleh pengajar kepada murid di PAUD adalah kemampuan menangkap informasi melalui simbol dan verbal.

“Kurikulum PAUD tidak perlu mencantumkan calistung secara formal atau klasik. Itu dimulai dari SD. Literasi dan numerasi perlu, artinya bukan secara sempit Calistung. Tetapi, kemampuan menangkap informasi melalui simbol dan verbal,” kata Abduzen, saat dihubungi, Kamis (22/9).

Dalam hal ini, kata Abduzen, PAUD memang utamanya adalah bermain. Ragam permainan dapat berupa simbol huruf, angka dan benda-benda yang dekat dengan murid.

“Utamanya bermain. Konten bermainnya bisa saja berupa simbol huruf, angka, dan benda-benda yang dekat dengan murid,” ujarnya.

Abduzen menegaskan, pengajar PAUD bisa menggunakan metode belajar melalui nyanyian atau sukaria. Artinya, penggunaan metode belajar yang menyenangkan untuk anak sangat diperlukan. Menurut dia, keseimbangan waktu antara bermain dan belajar murid juga diperlukan.

“Jadi, bernyanyi atau sukaria sambil belajar, bukan belajar sambil bermain. Bagi PAUD itu bermain sama dengan belajar. Jadi, materi PAUD itu bermain,” tegasnya.

4 dari 4 halaman

Respons Orangtua Murid

Sementara itu, orangtua murid salah satu PAUD di Jakarta, Bimo Pratomo mengatakan anaknya hingga saat ini tidak mendapat paksaan dari tenaga pengajar atau guru PAUD untuk menguasai calistung.

Bimo membenarkan berdasarkan pengalamannya, PAUD hanya mengarahkan anaknya dalam pengenalan literasi dan numerasi. Seperti, pengenalan angka dan huruf saja.

“Nggak, kalau menurut pengalaman saya sih nggak. Dan, kalau memang PAUD-nya benar seharusnya dia nggak mewajibkan, gitu. Jadi, kalau dikenalin, iya, tapi nggak yang harus bisa. Kayak pengenalan huruf dan angka gitu,” kata Bimo, saat dihubungi, Kamis (22/9).

Bimo menambahkan, anak balita yang berada dalam kategori usia dini seharusnya distimulasi dengan metode bermain. Menurut dia, masa golden age anak tidak harus dituntut untuk belajar menguasai calistung

“Karena kan memang itu bukan waktunya dia untuk belajar calistung, anak balita ini masanya untuk main kan. Jadi, memang golden age-nya itu lebih baik distimulus dengan bermain. bukan dengan belajar,” tutupnya.

Reporter Magang: Syifa Annisa Yaniar

[gil]

Baca juga:
Kemendikbud Ristek: Lulusan Kursus Bisa Lanjut Kuliah
RUU Sisdiknas Tak Masuk Prolegnas, Muhammadiyah: DPR Sudah Pakai Nurani & Akal Sehat
RUU Sisdiknas Tak Masuk Prolegnas, Muhammadiyah: DPR Sudah Pakai Nurani & Akal Sehat
Tujuan Sekolah Penggerak beserta Manfaat dan Syarat untuk Mendaftar
Dubes Australia Temui Ganjar Pranowo Bahas Kerja Sama Investasi hingga Peternakan
Kepanjangan IPK adalah Indeks Prestasi Kumulatif, Ketahui Cara Menghitungnya
Ketum PGRI Temui Jokowi, Minta Tunjangan Guru dan Dosen Tak Dihapus di RUU Sisdiknas
Mengenal Tujuan Kurikulum Merdeka, Pahami Bedanya dengan Kurikulum Sebelumnya

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini