Potensi Energi Terbarukan di Balik Pesona Air Terjun Suhom

Selasa, 31 Desember 2019 05:03 Reporter : Afif
Potensi Energi Terbarukan di Balik Pesona Air Terjun Suhom Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro di air terjun Suhom. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Suara bising terdengar dari turbin mesin Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di air terjun Suhom, Gampong Tunong Krueng Kala, Kecamatan Lhong, Kabupaten Aceh Besar. Seorang operator, Suharbi (49) sibuk memeriksa Digital Load Controller (DLC) untuk memastikan suplai arus stabil.

"Ini alat canggih pengontrol arus, namanya DLC," kata Suharbi kepada peserta Kemah Jurnalistik yang digelar oleh Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh belum lama ini.

Air dialiri melalui sebuah pipa sepanjang 40-50 meter dengan pipa ringstock berskala 60 inci, berfungsi menggerakkan turbin atau kincir air mikro hidro. Energi mekanik itu dihasilkan dari putaran poros turbin diubah menjadi energi listrik melalui generator.

Suara gemuruh turbin dan generator seakan-akan mengalahkan suara gemericik air terjun di samping ruang tadi setinggi 10 meter mengalir ke bawah. Lalu air dalam pipa tadi dilepaskan menjadi satu titik ke kolam tempat pemandian.

Dari kejauhan tidak terdengar suara turbin. Hanya gemercik air menghantam bebatuan membuat suasana semakin gemuruh, sehingga tidak mengganggu pengunjung yang sedang mandi di kolam objek wisata air terjun Suhom itu.

Alat PLTMH di air terjun Suhom ini sudah menggunakan peralatan terbarukan. Arus yang dihasilkan dari generator tersebut sebesar 45 ribu watt sudah terkoneksikan ke Perusahaan Listrik Negara (PLN). Daya listrik cukup untuk kebutuhan 240 rumah lebih dengan kapasitas rata-rata 4 ampere per rumah.

Digital Load Controller merupakan alat paling penting untuk mengontrol arus, baik saat beban puncak maupun beban rendah. Alat ini sudah secara otomatis mengaturnya, sehingga bisa terhindar dari arus lebih maupun kurang yang bisa berefek generator meledak. Operator pun tidak perlu setiap saat berada di ruang turbin itu.

"Karena sudah menggunakan LCD, kita tak perlu selalu ada di sini, karena sudah diatur sendiri," kata Suharbi.

Apalagi energi terbarukan melalui PLTMH ini ramah lingkungan. Karena tidak menyebabkan polusi udara. Justru energi yang digerakkan dengan air ini harus melindungi agar pohon tidak ditebang agar debit air tetap terjaga untuk menggerakkan generator.

Saat ini arus air untuk menggerakkan poros turbin untuk diubah menjadi energi listrik oleh generator sebesar 360 liter/detik. Dengan kecepatan air tersebut, PLTMH ini hanya bisa menghasilkan energi sebesar 45 ribu watt atau 29-30 KW.

Kata Suharbi, energi yang bisa disalurkan kepada warga hanya sebesar 27-28 KW. Energi ini sekarang dijual untuk PLN, lalu disalurkan ke masyarakat.

Operator hanya bertugas untuk melakukan perawatan setiap seminggu sekali. Lalu menjaga bila PLN padam, generator tersebut paling lama setelah 30 menit sudah harus dinonaktifkan.

Meskipun di luar ruang turbin sudah dipasang alat pengatur arus listrik terbuat dari rajutan besi, namun Suharbi mengaku tetap saja tidak boleh lebih 30 menit generator hidup bila PLN padam.

"Itu (PLN padam) yang harus kami jaga," ungkapnya.

Setelah Aceh dilanda gempa dan tsunami 15 tahun silam, tepatnya 26 Desember 2004 lalu, Gampong Tunong Krueng Kala, Baroh Krueng Kala dan Krueng Kala tidak mendapatkan lagi suplai listrik. Saat itu gampong tersebut gelap gulita, tanpa ada penerang hingga akhir 2006 lalu.

Lalu ada sebuah NGO yang sedang bekerja dalam proses rehab-rekon pasca-tsunami di Aceh melihat ada potensi pembangkit listrik energi terbarukan di air terjun Suhom.

NGO itu pun mengajak warga di sana untuk membahas sumber energi itu. Kata sepakat tercapai dengan warga. NGO tersebut lalu melakukan penelitian dan membuat perencanaan pembangunan PLTMH tersebut.

Baru pada 2009 warga mendapatkan suntikan dana dari salah satu perusahaan minuman untuk pembangunan PLTMH. Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) menjadi operator yang melakukan pengembangan listrik terbarukan itu hingga selesai.

Energi listrik itu kemudian dialirkan ke seluruh warga di Gampong Tunong Krueng Kala dan dua gampong lainnya. Saat itu belum terkoneksi ke PLN, namun disalurkan ke rumah-rumah warga. Warga cukup membayar Rp40 ribu/bulan untuk biaya perawatan PLTMH dan honor operator.

Saat itu PLTMH belum menggunakan peralatan secanggih sekarang. Hanya turbin sebagai alat penggerak generator yang tersedia, alat pengatur arus dan stabilizer yang diatur secara manual. Sehingga operator harus selalu berada di ruang kontrol untuk mengatur arus secara manual.

Terutama saat beban puncak, antara pukul 17.00-22.00 WIB setiap hari ini. Pada jam tersebut semua warga menggunakan listrik dan juga memadamkan saat hendak istirahat.

Detik-detik itulah operator tidak boleh lengah. Pasalnya pada beban puncak arus keluar plus, generator bisa meledak, karena daya tampung berlebihan. Begitu juga bila beban rendah keluar minus, juga harus diatur sesuai dengan penggunaan.

"Saat itu masih manual mengatur arus, kalau plus enggak kita kontrol bisa meledak, begitu juga sebaliknya," jelasnya.

Kekhawatiran ledakan saat arus puncak maupun rendah ternyata tidak dapat dihindari. Pada medio 2009 peristiwa itu terjadi. Generator meledak, beruntung tidak ada korban jiwa kala itu.

Mulai saat itu tiga gampong tersebut kembali gelap gulita. Tidak lagi ada suplai listrik. Akhirnya pembangkit listrik tenaga air itu terbengkalai hingga 2011.

Suharbi mengaku, ledakan itu terjadi bukan faktor kelalaian dari operator. Tetapi saat itu banyak warga yang mencuri arus listrik. Sehingga berpengaruh terhadap daya tampung generator PLTMH.

"Banyak yang curi arus, makanya terjadi ledakan," kisahnya.

Suharbi juga mengisahkan, ruang pembangkit listrik mikro hidro itu pernah dihantam banjir bandang. Dinding ruang hancur hingga seluruh peralatan PLTMH ikut ikut terendam. Setelah diperbaiki, lalu disepakati untuk dibangun dinding pengadang di luar ruang kendali PLTMH setinggi 3 meter.

Dinding itu berfungsi bila terjadi banjir bandang, bisa mengadang arus air yang deras agar tidak menghantam ruang tersebut. Hingga sekarang setiap debit air besar saat hujan lebat sudah bisa diatasi.

PLTMH itu dikelola oleh tiga gampong dengan dibentuk sebuah koperasi bernama Koperasi Sabena. Pengurus koperasi kemudian mencari investor untuk memperbaiki generator dan sejumlah peralatan lainnya.

PLN kemudian menyambut baik rencana perbaikan alat itu. Perusahaan berkomitmen memperbaiki seluruh kerusakan itu yang memakan anggaran mencapai Rp400 juta lebih.

"Kenapa harus cari investor, karena iuran dari warga tidak mencukupi bisa memperbaiki," jelas Suharbi.

Geuchik (Kepala Desa) Gampong Tunong Krueng Kala, Aiyub membenarkan perbaikan PLTMH yang rusak itu harus mencari investor dari pihak luar. Perjanjiannya energi yang dihasilkan itu nantinya dijual kepada PLN.

"Kita dapat investor dari PLN untuk memperbaiki, arusnya perjanjiannya dijual ke PLN," kata Aiyub.

Listrik dari PLTMH itu sekarang terkoneksi dengan instalasi milik PLN. Hasilnya 65 persen penjualannya perbulan masuk dalam kas desa. Selebihnya diberikan ke Koperasi Sebena serta upah operator yang menjaga dan merawat mesin tersebut.

Aiyup mengaku, selaku pimpinan Gampong Tunong Krueng Kala telah meminta kepada warga untuk tidak melakukan penebangan hutan. Karena pohon berfungsi untuk memproduksi air. Tentunya air sangat dibutuhkan untuk pembangkit PLTMH.

Kebutuhan lainnya untuk mengaliri kebutuhan air di sawah seluas 160 hektare lebih. Sehingga dengan air yang cukup, warga menanam padi tidak perlu menunggu air tadah hujan. Bahkan warga bisa menanam padi sampai tiga kali dalam setahun.

"Jadi kami melarang tebang pohon. Karena air itu dibutuhkan untuk listrik, sawah, air bersih dan juga objek wisata," tukasnya.

Aiyub juga selaku Ketua Seuneubok, wakil Panglima Hutan di tingkat gampong berkewajiban menjaga kelestarian hutan. Dia sebagai benteng terakhir untuk mengawal agar hutan tidak ditebang sembarangan.

Menurutnya, sekitar 1990-an dulu, debit air terjun Suhom jauh lebih besar dibandingkan sekarang. Percikan air terasa hingga 100 meter dari titik air terjun. Sekarang debit air mulai berkurang dan tak lagi memercik sejauh itu.

"Ini akibat banyak pohon yang sudah ditebang," ujarnya.

Aiyub sudah satu tahun lebih menjabat sebagai geuchik. Selama itu juga dia sudah membuat kesepakatan dengan warga, agar berhenti menebang kayu. Apa lagi banyak potensi alam lainnya, seperti sawah yang luas, hasilnya cukup untuk menghidupi keluarganya masing-masing.

Air terjun Suhom ini, sebutnya, selain bisa menghasilkan sumber energi terbarukan juga bisa menjadi objek wisata yang bisa meningkatkan perekonomian warga. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini