KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Poltracking: Diteror, berarti pekerjaan kita dilihat dan diakui

Jumat, 11 Juli 2014 15:12 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Diskusi KPU. ©2013 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Teror terhadap lembaga survei tiba-tiba mencuat selepas pemilihan presiden pada Rabu lalu. Hari ini, dua lembaga sigi Jaring Suara Indonesia dan Poltracking mendapat teror dalam bentuk berbeda.

Menurut Manajer Operasional Poltracking, Agung Baskoro, pihaknya merasa tidak kapok dengan ancaman. Dia menyatakan, justru teror itu sebagai bukti pekerjaannya dilihat orang.

"Selama ini kita survei biasa-biasa saja. Ini kan kerja-kerja akademik dengan metodologi yang bisa dipertanggungjawabkan. Saya berpikir ini artinya pekerjaan kita dilihat dan diakui," kata Agung kepada merdeka.com di kantor Poltracking, Jalan Pangrango nomor 3A, Guntur, Jakarta, Jumat (11/7).

Guna menepis keraguan masyarakat dan tidak ingin dianggap sebagai lembaga sigi abal-abal, mereka menantang siap membuka metodologi hitung cepat pada pemilihan presiden digelar Rabu lalu. Agung menjelaskan, justru dengan adanya teror mereka semakin terlecut melakukan jajak pendapat sesuai metodologi.

"Kita sebetulnya semakin termotivasi dengan adanya kejadian ini. Selama menjaga metodologi, integritas, dan kejujuran kita akan melakukan ini terus," kata Agung.

Agung juga siap membuka metodologi hitung cepat pada pilpres 2014. Menurut dia, seluruh hasil kerja Poltracking sesuai metodologi dan bisa dipertanggungjawabkan.

"Kalau mau buka data kita siap. Sampel TPS kita ada dua ribu, kita punya relawan dua ribuan orang, 12 koordinator wilayah, 50 operator dan staf lainnya. Jadi semua bisa kita berikan sebagai bentuk pertanggungjawaban," ujar Agung.

Meski demikian, Agung menyatakan enggan terus larut dalam pusaran ketegangan politik pasca pilpres. Menurut dia, melakukan penelitian dan survei serta hitung cepat adalah lumrah sebagai salah satu bentuk keterbukaan informasi publik di era reformasi.

"Kita sudah biasa rilis survei, ke teman-teman media juga. Ini menjadi menarik, artinya kerja kita diakui publik. Karena masyarakat kan juga mesti tahu informasi sebenarnya," ucap Agung.

Sebelumnya, kantor Poltracking Indonesia yang terletak di Jalan Pangrango No.3A Guntur, Setiabudi Jakarta Selatan mendapat ancaman teror. Sejak pukul 01.00 WIB, Jumat (11/7) dini hari, telepon kantor terus berdering.

"Penjaga kantor melihat ada dua orang di depan pagar gerbang kantor pada saat telepon kantor secara bersamaan berdering. Telepon berlanjut sampai sekitar pukul 04.00 WIB dengan jeda beberapa kali. Telepon kembali berdering hingga empat kali pada pukul 08.30 WIB," kata Manager PR dan Program Pol-Tracking Indonesia Agung Baskoro kepada merdeka.com. [ded]

Topik berita Terkait:
  1. Pemilu 2014
  2. Pilpres
  3. Survei
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.