Polemik Pernyataan Wagub Jabar Soal Banjir Garut dan Kasus Perundungan

Selasa, 26 Juli 2022 11:56 Reporter : Ya'cob Billiocta
Polemik Pernyataan Wagub Jabar Soal Banjir Garut dan Kasus Perundungan Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum. ©2021 Pemprov Jabar

Merdeka.com - Pernyataan Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum terkait penyebab banjir yang menerjang Kabupaten Garut, hingga kasus perundungan yang menimpa anak kecil di Tasikmalaya berbuntut polemik.

Terkait persoalan banjir yang terjadi di Garut pada Jumat (15/7), Uu menganggap banjir terjadi tidak hanya akibat curah hujan yang tinggi. Lebih dari itu, karena adanya pembabatan dan alih fungsi lahan di kawasan hulu sungai.

"Informasi yang kami terima, ada pembabatan hutan (di kawasan hulu sungai), kemudian hutan lindung dipakai untuk hutan produktif, pembangunan dan lainnya," kata Uu usai meninjau lokasi bencana banjir di Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Minggu (17/7).

Pada kesempatan tersebut, Uu juga mengingatkan masyarakat juga harus paham bahwa bencana banjir tidak tiba-tiba datang begitu saja. Diketahui bahwa banjir menyebabkan sembilan rumah hanyut dan puluhan lainnya rusak.

"Penyebab bencana ini masyarakat harus paham, terutama yang di hulu. Jangan melakukan tindakan yang bisa menyebabkan terjadinya bencana," jelasnya.

2 dari 4 halaman

Pernyataan Uu ini lantas dibantah Perusahaan Umum (Perum) Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Garut. Kepala Seksi Komunikasi Perusahaan pada Perhutani KPH Garut, Ade Syahdan menjelaskan bahwa kawasan hutan di Kabupaten Garut tercatat memiliki luas 85 ribu hektare. Mengacu pada laporan di tahun 2016, dari seluruh jumlah itu 10 ribu hektar di antaranya dalam kondisi kritis.

Menyikapi kekritisan kondisi hutan tersebut, diungkapkan Ade, Perhutani KPH Garut di tahun 2017 melakukan penanaman di lahan seluas 2.000 hektare.

"Lalu tahun 2019 menanam pohon di lahan seluas 8 ribu hektare. Jadi kita sudah menanam pohon di lahan yang sebelumnya kritis seluas 10 ribu hektare," ungkap Ade, Minggu (24/7).

Pasca penanaman yang dilakukan, disebutnya, Perhutani KPH Garut selalu melakukan pemantauan juga perawatan pohon yang ditanamkan agar tumbuh dengan baik. Saat ini, kondisi tanaman itu pun sudah tumbuh besar.

"(Kondisi hutan) rimbun kembali sehingga saat ini tidak ada lagi lahan di kawasan Perhutani Garut yang kritis," sebutnya.

Dengan penanaman pohon di lahan-lahan kritis itu, menurutnya cukup membantu penyerapan debit air. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak ditemukannya longsor atau erosi di lahan tersebut.

Kesimpulannya, Ade menegaskan bahwa hujan deras sebagai penyebab tunggal terjadinya banjir pada Jumat lalu. "Penanaman pohon yang kami lakukan di lahan kritis seluas 10 ribu hektar itu membantu penyerapan debit air saat hujan. Dan sekarang pun dari kejadian intensitas hujan yang tinggi dan menyebabkan banjir kemarin, hasil di lapangan tidak terjadi erosi," tutup Ade.

3 dari 4 halaman

Dalam kasus perundungan di Tasikmalaya, Uu meminta agar kasus tersebut bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan tidak berlanjut ke meja hijau. Ia memandang bahwa aksi tersebut hanya candaan.

Uu menyatakan bahwa dirinya sudah melakukan komunikasi dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya untuk mengetahui lebih jelas perkara tersebut. Langkah itu dilakukannya karena mendapat tugas dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

"Setelah mendengarkan kronologi dari Ketua KPAID, sebenarnya yang viral di masyarakat, ada persetubuhan lah itu yang lain, saya lihat videonya enggak mungkin ya (ada persetubuhan), apalagi anak kecil seperti itu. Mohon maaf yah biar lebih jelas, itu (kemaluan korban) juga enggak 'bangun' yah, mau bersetubuh bagaimana," kata Uu kepada wartawan di Tasikmalaya, Sabtu (23/7).

Setelah melihat video itu, Uu menilai tidak ada persetubuhan antara korban dengan kucing. Namun ia memandang bahwa ada orang yang sengaja memanfaatkan, sehingga pada tampilan video tersebut kemudian disebarkan.

Uu mengungkapkan bahwa dirinya sudah bertemu langsung dengan keluarga korban. Hasil dari pertemuan itu, menurutnya mereka tidak memiliki niat lebih hingga ke meja hijau, apalagi untuk memanfaatkan situasi.

Yang diharapkan oleh keluarga, menurutnya adalah islah dari kedua belah pihak agar mereka bisa hidup kembali di masyarakat. "Karena mereka (para pelaku) masih tetangga, meski bapaknya tertunduk dan ada beda dengan emaknya (ibu) tertawa-tertawa," katanya.

4 dari 4 halaman

Oleh karena itu, ia meminta agar aparat penegak hukum tidak melanjutkan kasus tersebut ke meja hijau. Namun langkah hukum menurutnya hal yang sah untuk terciptanya keadilan. Namun ia tidak menampik bahwa selama ini ada tekanan yang membuat keluarga pelaku trauma.

Ia mengungkapkan bahwa dirinya saat kecil kerap mendengar adanya kejadian persetubuhan manusia dengan hewan. "Kejadian itu dengan kerbau berada di Cikatomas, tetangga saya dengan ayam. Karena, hal itu merupakan candaan dan biasa, jangan diviralkan, makanya disudahi kasus tersebut," pungkasnya.

Pernyataan Uu itu lantas ditentang oleh Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak (PA), Arist Merdeka Sirait. Menurutnya aksi yang menyebabkan korbannya meninggal dunia usai depresi itu adalah bentuk kekerasan anak.

Saat dihubungi wartawan melalui sambungan telepon, Arist menyebut bahwa Uu gagal paham dalam menilai bentuk-bentuk kekerasan di tengah masyarakat. Ia pun mengatakan bahwa pernyataan tersebut harus ditarik.

"Pernyataan wagub itu harus ditarik yang menyatakan kasus bully diduga oleh anak dengan korban anak sebagai lelucon (candaan) dan itu biasa di tengah kehidupan anak-anak. Tidak boleh itu dilakukan oleh Wagub, karena sudah kekerasan terhadap anak," kata Arist, Senin (25/7/).

Dibanding pernyataan Uu, Arist mengaku dirinya lebih sepakat dengan pernyataan Presiden Joko Widodo. Dalam pernyataannya itu, Presiden meminta semua pihak agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di Indonesia.

Arist mengungkapkan bahwa kejadian perundungan di Kabupaten Tasikmalaya, saat ini tengah menjadi perhatian masyarakat seluruh Indonesia. Oleh karena itu, menjadi tidak baik manakala sosok Wagub memberikan anggapan yang seperti itu.

"Saya mohon dengan sangat, Wagub Jabar untuk menarik statement itu, karena akan membuat anak-anak itu menilai kejadian seperti ini sebagai guyonan dan dianggap lucu-lucuan saja," ungkapnya.

Uu akhirnya meminta maaf setelah pernyataannya viral. Permintaan maaf tersebut dia sampaikan dalam akun Instagram miliknya.

"Saya secara pribadi meminta maaf kepada masyarakat, tapi konteksnya perasaan saya sudah selesai saya berstatmen secara resmi," ucap Uu melalui sebuah video yang dunggah di aku Instagram miliknya @ruzhanul, Senin (25/7).

Lebih lanjut, Uu membenarkan memang candaan seperti itu nyata adanya sejak dirinya kecil. Namun, dia menegaskan, apa pun bentuk bully atau perundungan tidaklah dibenarkan baik secara aturan negara maupun agama.

"Saya teringat ketika saya kecil, dan hal semacam itu dilarang yah enggak boleh. Tapi maksud saya mengolok-olokan itu enggak boleh apalagi melakukannya. Disebut hal biasa karena pernah saya alami, tapi itu tidak boleh dan tidak baik menurut agama," kata Uu.

Uu pun mengajak masyarakat untuk senantiasa memberikan edukasi yang baik terhadap generasi muda atau anak-anak, agar peristiwa bully tidak terjadi lagi dikemudian hari.

"Mari kita tingkatkan pemahaman dan edukasi bagi anak-anak kita. mudah-mudahan hal seperti itu tidak terulang lagi," ucap Uu.

Baca juga:
Klarifikasi Wagub Jabar Usai Sebut Perundungan di Tasik Tak Perlu ke Meja Hijau
Tanggapan Komnas Anak soal Wagub Uu Nilai Bullying di Tasikmalaya cuma Candaan
Bantah Wagub Jabar, Perhutani Garut Tegaskan Tak Ada Longsor dan Erosi
Wagub Jabar Minta Kasus Perundungan Bocah Setubuhi Kucing Tak Berlanjut ke Meja Hijau
Wagub Jabar: Banjir di Garut Karena Pembabatan dan Alih Fungsi Lahan di Hulu Sungai
PPP Dorong Uu Ruzhanul Ulum-Desy Ratnasari untuk Pilgub Jabar 2024

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini