'Perlu 'Siskamling' di Medsos buat Reduksi Narasi Kebencian'

Minggu, 3 Februari 2019 10:29 Reporter : Didi Syafirdi
'Perlu 'Siskamling' di Medsos buat Reduksi Narasi Kebencian' Ilustrasi Media Sosial. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Selama ini media sosial (Medsos) sudah menjadi tempat untuk melakukan interaksi dan komunikasi sosial di dunia maya. Namun banyaknya narasi kebencian jelas menimbulkan ketidaknyamanan.

'Siskamling' di media sosial merupakan ajakan bagi para netizen cerdas dan peduli untuk memantau, melaporkan dan mereduksi narasi kebencian yang dapat mengganggu kenyamanan. Untuk itu di tengah situasi politik yang memanas masyarakat harus rajin mengunggah pesan damai di dunia maya.

"Ini dikarenakan kita tidak melihat wajahnya langsung, tidak melihat reaksi langsung dari mereka, sehingga banyak yang merasa lebih berani menyebarkan konten-konten negatif atau bahkan kebencian lewat medsos. Jadi kita harus lebih sensitif lagi terhadap hal tersebut," ujar Koordinator Gerakan #BijakBersosmed, Enda Nasution dalam keterangannya, Minggu (3/2).

Lebih lanjut Enda mengatakan, masyarakat pengguna medsos juga harus sadar bahwa apa yang diucapkan di medsos harus dipertanggung jawabkan. Penyebar kebencian bukan saja melanggar norma dan etika, tetapi juga hukum.

"Penyebaran kebencian langsung di dunia nyata maupun melalui medsos bukanlah sesuatu yang baik untuk dilakukan," tuturnya.

Untuk itu dia mengimbau kepada masyarakat pengguna medsos untuk bersama-sama menjaga medsos tanpa adanya ujaran kebencian.

"Karena medsos bukan untuk memecah belah bangsa, tapi untuk merekatkan kita semua. Dengan menggunakan medsos kita bisa berkomunikasi dengan siapa pun di Indonesia bahkan dunia dengan cepat dan murah," katanya.

Menurutnya, untuk menggalakkan agar masyarakat mau melakukan Siskamling di Medsos tentu diperlukan berbagai strategi dengan beberapa metode. Pertama, memudahkan bagaimana cara masyarakat untuk melaporkan. Lalu perlu adanya sosialisasi. Dari sisi otoritas yang menerima laporan aduan juga harus mencermati hal tersebut agar kemudian lebih banyak orang yang mau melakukan 'siskamling' di medsos.

"Untuk itu 'Siskamling' di medsos bisa kita gunakan sebagai momentum untuk mereduksi narasi kebencian yang ada di dunia maya demi menjaga persatuan di mayarakat itu sendiri melalui dunia maya," kata jebolan ITB itu.

Selain itu Gerakan #BijakBersosmed sendiri, menurutnya juga terus mengkampanyekan bagaimana cara menggunakan medsos secara bijak. Apalagi komponen ini tidak bisa berjalan sendirian. Tentu harus bersinergi di mana, pemerintah, komunitas dan masyarakat secara swadaya juga harus iku jalan bersama .

"Karena ini merupakan kepentingan kita bersama, terutama yang tidak kalah pentingnya adalah teman-teman dari media yang terus-menerus harusnya mengkampanyekan bagaimana penggunaan media digital secara baik dan benar," tutur pria yang dilantik menjadi Ketua Jabar Saber Hoaks, oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ini.

Enda juga mengingatkan kepada para netizen atau pengguna medsos yang selama ini suka menyebarkan ujaran kebencian atau hoaks untuk patuh terhadap UU ITE yang dibuat untuk melarang sikap dan tindakan penghinaan di depan umum terutama melalui medsos.

"Undang-undang ini untuk memberikan efek jera dan memberikan pembelajaran juga kepada masyarakat bahwa hal negatif yang dilakukan di medsos dilarang dan mempunyai konsekuensi hukum," tandasnya. [did]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini