Peringati HUT RI, mantan napi teroris gelar upacara

Jumat, 17 Agustus 2018 19:15 Reporter : Mardani
Peringati HUT RI, mantan napi teroris gelar upacara Mantan napi teroris upacara HUT RI. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Para mantan narapidana terorisme menggelar upacara peringatan HUT RI ke-73 di dua lokasi berbeda yakni Pondok Pesantren Al Hidayah, Desa Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut) dan di Alun-alun Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Direktur Deradikalisasi BNPT Irfan Idris mengatakan, upacara peringatan HUT RI ke-73 oleh mantan napi teroris dan keluarganya sangat efektif untuk meningkatkan semangat nasiolisme mereka. Dia bahkan tidak menyangka para santri di Ponpes Al Hidayah bisa menampilkan pertunjukkan kolosal dengan sangat baik, meski dengan seting dan peralatan sederhana.

"Ini harus kita pelihara dengan terus mengobarkan NKRI dan Pancasila sebagai ideologi negara. Makanya tiap tahun Kepala BNPT memerintahkan saya untuk melaksanakan upacara HUT RI di dua tempat di Sei Mencirim, Deliserdang dan Lamongan. Tujuannya untuk meningkatkan semangat nasionalisme dan bagian dari deradikalisasi yang pada intinya diangkat dari pembinaan, pembinaan, pendampingan, dan pemberdayaan," katanya, Jumat (17/8).

Menurut Irfan Idris, para mantan napi teroris tersebut pernah belajar banyak dari kehidupan di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Saat ini, mereka telah kembali ke masyarakat untuk membina keluarga, membina ekonomi, membina kehidupan. Karena itu, mereka butuh pendampingan dan masyarakat jangan mengasingkan mereka begitu juga anak-anaknya.

"Tidak ada istilah anak teroris, anak-anak kita yang tampil tadi adalah harapan bangsa kita, jangan pernah ada stigma dari masyarakat, dampingi dan terima mereka," ujar Irfan.

Karena itu, BNPT telah menggandeng 36 lembaga dan kementerian untuk mengatasi masalah terorisme, termasuk para mantan napi teroris dan keluarganya. Intinya, BNPT berupaya agar para mantan napiter dan keluarganya bisa hidup layak agar tak ada lagi jaringan yang mengajak mereka kembali menjadi pelaku terorisme dan terjebak oleh aturan hukum.

"UU Nomor 5 2018 sangat tegas mengedepankan upaya cegah, karena itu semua punya peran penting agar peran mereka bisa diterima di masyarakat," katanya.

Di Ponpes Al Hidayah pimpinan mantan teroris Ustaz Khairul Ghazali, seluruh petugas upacara adalah para santri yang notabene anak-anak mantan kombatan, mulai komandan upacara, pengerek bendera merah putih, dan pembaca UUD 1945.

Selain upacara, mereka juga memeriahkan HUT RI lomba-lomba khas HUT RI seperti balap karung dan lomba makan kerupuk. Mereka juga menggelar drama kolosal tentang aksi heroik Bung Tomo dan arek-arek Surabaya melawan penjajah pada 10 November 1945.

Sementara di Lamongan, mantan kombatan yang tergabung di Yayasan Lingkar Perdamaian melakukan upacara bendera peringatan HUT RI ke-73 di Alun-Alun Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Sekitar 30 mantan kombatan dipimpin Ali Fauzi Manzi mengikuti upacara. Di akhir upacara, Ali Fauzi yang notabene adik kandung Amrozi, pelaku tom Bali 1, membaca ikrar setia pada NKRI.

Ali Fauzi mengatakan ini adalah kali kedua rekan-rekannya tersebut mengikuti upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI. Tahun lalu peringatan HUT RI dilakukan Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan yang tak lain adalah kampung halamannya yang mana pernah dipakai sebagai tempat untuk merakit 1,2 ton bom Bali 1.

"Ini menjadi tantangan bagi saya karena saya sering menerima pesan di sosial media yang mengatakan bahwa kita paling Lingkar Perdamaian ini hanya mau melakukan upacara di kandang sendiri (Tenggulun) saja, tidak mau di luar dan ini adalah bagian dari pembuktian bahwa dimana pun saja kita siap," katanya. [dan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini