Penyelamatan Dilakukan Prajurit Kopassus TNI Paling Dramatis

Rabu, 27 Maret 2019 05:30 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
Penyelamatan Dilakukan Prajurit Kopassus TNI Paling Dramatis Prajurit komando TNI Kopassus latihan perang di Aceh. ©2019 AFP PHOTO/CHAIDEER MAHYUDDIN

Merdeka.com - Aksi-aksi pasukan elite TNI Angkatan Darat, Kopassus terbilang berbahaya. Mereka sering berhadapan dengan kelompok-kelompok ekstrimis saat melakukan penyelamatan. Kelompok-kelompok itu tak segan menghabisi nyawa korbannya. Namun sebelum melakukan aksi penyelamatan, pasukan Kopassus sudah dilatih terlebih dahulu.

Mulai dari pengintaian hingga penyelamatan, inilah penyelamatan paling menegangkan yang dilakukan oleh anggota TNI dari Kopassus:

1 dari 3 halaman

Operasi Woyla Saat Pesawat Indonesia Dibajak Teroris

Aksi pembebasan sandera Garuda Woyla melambungkan nama pasukan khusus Indonesia. Drama penyanderaan pesawat Garuda GA-206 'Woyla' rute Jakarta-Medan itu dimulai Sabtu 28 Maret 1981. Setelah transit di Palembang, tiba-tiba seorang pria berpistol memasuki ruangan kokpit.

Pembajak menuntut pemerintah Indonesia membebaskan 80 anggota Komando Jihad yang dipenjara karena beberapa kasus. Antara lain penyerangan Mapolsek Pasir Kaliki, Teror Warman di Raja Paloh dan aksi lainnya sepanjang 1978-1980. Selain itu, mereka juga meminta uang USD 1,5 juta.

Pihak intelijen Indonesia menyebut kelima orang pembajak berasal dari kelompok Komando Jihad. Mereka adalah Zulfikar T Djohan Mirza, Sofyan Effendy, Wendy Mohammad Zein, Mahrizal dan Mulyono.

Akhirnya, Letkol Sintong Panjaitan saat itu memimpin penyelamatan walau kakinya sedang patah setelah latihan terjun payung. Dalam waktu singkat Sintong memilih pasukan yang tersedia di Mako Kopasandha. Seluruh prajurit baret merah yang kelak bernama Kopassus ini bersemangat mengikuti operasi tersebut.

Tanggal 30 Maret 1981 pasukan bertolak ke Bangkok. Karena sempat pilot Herman Rante dipaksa mengalihkan penerbangan ke Colombo, Srilanka. Namun Herman menjelaskan bahan bakar pesawat tak cukup. Akhirnya pesawat mendarat di Penang, lalu kemudian menuju Bandara Don Muang, Bangkok.

Setelah mendapat izin dari pemerintah Thailand, akhirnya penyerangan dilakukan. Terjadi baku tembak dengan para pembajak pesawat. Lima orang pembajak ditembak mati. Tak ada satu pun sandera yang terluka.

2 dari 3 halaman

Pasukan Kopassus dan Kostrad Lakukan Operasi Senyap

Sebanyak 13 Kopassus dan 10 Tim Intai Kostrad melakukan operasi senyap sebelum membebaskan sandera di Banti, Kimbeli dan area longsoran Distrik Tembagapura, Papua pada 2017 lalu. Mereka melakukan pengintaian hingga lima hari, dengan cara mengendap, memantau pergerakan kelompok kriminal bersenjata. Kelompok ini berbaur dengan warga sipil.

Kedua kelompok ini dibagi dua. Untuk anggota TNI terdiri dari Kopassus 13 personel, 20 personel dari Batalyon 751/Rider yang bertugas merebut Kampung Kimbeli dari KKB. Sedangkan Peleton Intai Tempur Kostrad bersama Batalyon Infanteri 754/Eme Neme Kangasi dengan personel masing-masing 10 orang. Tugasnya adalah merebut Kampung Banti.

"Mereka bergerak dengan sangat senyap, sangat rahasia pada malam hari. Lalu pada siang hari mereka mengendap, membeku. Sambil mempelajari situasi secara perlahan sekali mereka sampai di titik sasaran," ujar Aidi.

Aidi menuturkan, satu hari sebelum jam yang disepakati untuk menyerbu, pasukan sebenarnya sudah berada di lokasi masing-masing dan siap untuk menyerbut. "Selama satu hari itu mereka tidak makan," ucap Aidi.

Namun Pangdam Cenderawasih memberikan petunjuk bahwa jika KKB masih membaur dengan masyarakat sipil, maka tidak boleh ada tindakan karena operasi penumpasan KKB Tembagapura itu lebih mengutamakan keselamatan warga sipil.

Waktu penyerbuan tiba. Sejumlah pentolan KKB yang baru bangun bergerak ke pos-pos di wilayah ketinggian yang mereka dirikan. Ada bendera kelompok separatis Papua merdeka berkibar di sana.

Saat itulah, pasukan TNI serentak menyerbu Kampung Kimbeli dan Banti. Kelompok separatis bersenjata itu kocar-kacir menyelamatkan diri ke dalam hutan dan ke area ketinggian sambil menyerang aparat dengan tembakan bertubi-tubi.

Aidi mengatakan saat proses evakuasi warga masih berlangsung, kontak tembak antara aparat TNI-Brimob dengan KKB masih terus berlangsung dalam kurun waktu kurang dari dua jam. "Kami belum bisa memastikan apakah dari pihak mereka ada korban atau tidak," kata Aidi.

3 dari 3 halaman

Menyusup ke Markas Musuh

Kopassus tak sekadar berhasil menemukan basis persembunyian kelompok militan, tapi juga menyusup sampai jauh ke dalam markas musuh.

Kisah ini ditulis Jenderal (Purn) AM Hendropriyono dalam bukunya 'Operasi Sandi Yudha, Menumpas Gerakan Klandestin', yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas tahun 2013. Ketika itu, pasukan yang dipimpinnya diterjunkan melawan gerombolan Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) sekitar tahun 1968-1974.

Bersama 11 prajurit Halilintar Prayudha Kopasandha (kini Kopassus), ditugaskan untuk meringkus Sekretaris Wilayah III Mempawah Siauw Ah San. Mereka hanya membawa pisau komando serta handy talky (HT), hanya Hendro yang membawa pistol untuk berjaga-jaga.

Pukul 22.25 WIB, tim sampai di lokasi yang ditentukan. Kabar mengejutkan terdengar dari HT, di mana Intelijen melaporkan Ah San tak ada di pondok tersebut. Namun keesokan harinya, Siat Moy dan perwira intelijen Kodim Mempawah memastikan Ah San ada di pondok.

Dengan kecepatan kuning (lima meter per menit), mereka merayap mendekati sasaran, hingga dari jarak 200 meter terlihat pondok kayu rumah persembunyian Ah San.

Tiba-tiba anjing-anjing penjaga pondok tersebut berloncatan ke arah tim Halilintar sambil mengonggong keras. Hendro segera meneriakkan komando "Serbuuuuu," katanya sambil lari sekencang-kencangnya ke arah pondok.

Hendro berteriak pada Ah San. "Menyerahlah Siauw Ah San, kami bukan mau membunuhmu." Tapi Ah San enggan menyerah. Dia menyabet perut Kongsenlani dengan bayonet hingga usus prajurit itu terburai. Hendro menyuruh anak buahnya keluar pondok. Dia sendiri bertarung satu lawan satu dengan Ah San.

Keduanya terlibat duel yang menegangkan. Saling menyabet pisau ke arah tubuh lawan. Hendro akhirnya menembakkan dua kali tembakan, namun hanya satu peluru yang tepat sasaran. Duel maut itu selesai. Ah San tewas, tetapi Hendro pun terluka parah. Beruntung anak buahnya segera datang menyelamatkan Hendro.

[has]
Topik berita Terkait:
  1. TNI
  2. Kopassus
  3. TNI AD
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini