Penyebab Kematian Ribuan Burung Pipit di Gianyar Masih Diteliti

Selasa, 14 September 2021 03:30 Reporter : Moh. Kadafi
Penyebab Kematian Ribuan Burung Pipit di Gianyar Masih Diteliti Warga kuburkan bangkai burung pipit di Gianyar. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Balai Besar Veteriner (BBVet) Kelas I Denpasar, Bali, terus meneliti penyebab kematian ribuan burung Pipit, di Desa Pering, Kecamatan Blabatuh, Kabupaten Gianyar, Bali. Mereka masih melakukan pengujian di laboratorium.

"Sekarang masih proses pengujian di laboratorium," kata Kepala BBVet Denpasar I Wayan Mase Tenaya, Senin (13/9).

Ia menerangkan, pengujian pertama dilakukan terhadap sampel burung dengan cara membedah bangkai burung. Peneliti mengecek perubahan di bagian tubuh burung itu. Kemudian dilanjutkan dengan pengujian histopatologi untuk melihat kelainan-kelainan secara mikro pada jaringan burung itu.

"Juga dilakukan pengujian sampel isolasi RNA. Kalau ada penyebab penyakit infeksius apakah itu virus apakah itu bakteri. Jadi ini masih dalam proses pengujian, sampai hari ini belum bisa dapatkan (hasilnya)," sebut Tenaya.

Bila hasil pengujian itu telah keluar, seusai protap atau aturan yang berlaku, harus dilaporkan dulu secara resmi ke Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Ditjen PKH Kementan) dan ditembuskan ke Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Gianyar.

"Itu portapnya. Jadi mohon bersabar menunggu, yang jelas ini indikasinya kemungkinan besar tidak merugikan kesehatan manusia. Namun demikian kita tetap tunggu hasilnya secara saintifik," katanya.

Sementara itu, pihaknya belum bisa menduga-duga penyebab kematian burung pipit itu. Namun biasanya kematian burung pipit secara koloni karena sakit. "Ada indikasi, ini juga belum tentu benar belum tentu salah," sebutnya.

"Itu, dari penyakit infeksius selama ini yang kita tahu, flu burung tidak sedemikian fenomenanya. Yang terjadi itu kemungkinan ada racun. Racun yang dosis yang tinggi bisa di padi, habis petani misalnya mungkin menyemprot padinya untuk walang sangit terus dia ikut (makan)," ujarnya.

Selain itu, kematian burung juga hanya di wilayah sekitar. Belum ditemukan kasus di tempat lain. "Kenapa di situ saja, mungkin kumpulan burung itu lagi menyantap padi di sekitar, buktinya di tempat lain tidak ada," ujarnya.

Ia juga menegaskan, bahwa kejadian matinya burung pipit itu tidak akan berimbas kepada kesehatan masyarakat di sekitar dan masyarakat sudah mengubur bangkai ribuan burung itu. "Fenomena ini yang sejauh kita tahu, dari dulu (sampai) sekarang itu tidak ada. Namun, demikian sudah terjadi penguburan bangkai-bangkai. Masyarakat otomatis mengambil langkah-langkah yang sudah cukup bagus di lapangan (menguburnya)," ujarnya.

Sementara itu, ada dugaan kematian burung tersebut karena terkena lebatnya hujan yang mengandung asam. Pihaknya, menilai hal itu boleh saja sebagai hipotesis. "Itu namanya hipotesis, saya tidak berani terlalu jauh. Itu bukan tugas dan fungsi kami. Hujan asam dan lain sebagainya itu tidak kami berani komentari. Itu adalah di luar tugas dan fungsi kantor saya," katanya.

Ia juga menyebutkan, ada peristiwa yang persis sama dengan kejadian tersebut. Ketika, menjelang Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, akan meletus. Namun, hal itu dikarenakan adanya belerang, sehingga burung mati.

"Di situ ada hipotesis (burung-burung) mengisap belerang. Nah, saat ini kan tidak ada belerang diisap, dan kejadiannya (harusnya di desa) yang dekat dengan Gunung Agung dan Gunung Batur, kenapa di Desa Pering, di Gianyar itu," ujar Tenaya.

Seperti yang diberitakan, sebuah video burung pipit berjatuhan ke tanah menjadi viral dan heboh di media sosial, pada Kamis (9/9). Video itu dibagikan akun bernama Dek Eko via@balibrodcast. Dalam video tersebut, terlihat banyak burung berjatuhan yang terjadi di wilayah Sentra, Banjar Sema Pring, Kabupaten Gianyar, Bali, Kamis (9/9). Dalam keterangan video disebutkan,"Banyak burung pipit jatuh saat hujan dan angin kencang yang terjadi di wilayah tersebut. Sehingga membuat sayap mereka basah." [yan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini