Penumpang KRL Keguguran di Gerbong Commuter Line

Kamis, 25 April 2019 18:45 Reporter : Nur Fauziah
Penumpang KRL Keguguran di Gerbong Commuter Line krl. merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Seorang penumpang kereta rel listrik (KRL) melahirkan di gerbong commuter. Penumpang tersebut kemudian dilarikan ke Rumah Sakit UI (RSUI) Depok.

Penumpang tersebut dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUI. Di sana dia mendapatkan pertolongan medis dari tenaga ahli. Saat ini kondisinya sudah membaik. Sayangnya sang bayi meninggal dunia karena usianya masih kurang dari 18 minggu.

"Ibunya tanda vitalnya stabil tapi harus ada tindakan lagi karena masih ada sisa dari ari-arinya di dalam. Namun, karena usia kehamilannya baru 18 minggu, jadi ini jatuhnya bukan melahirkan tapi abortus alias keguguran," kata Vita Silviana, dokter yang memberikan pertolongan di RSUI, Kamis (25/4).

Menurutnya, kondisi janin sudah berbentuk bayi. Hanya saja berat janin masih di bawah 500 gram. Sehingga bayi tersebut belum bisa hidup mandiri.

"Minimal itu usia 26 minggu, dengan bantuan alat – alat mungkin masih bisa selamat, tapi dalam kasus ini terlalu dini ya jadi kemungkinan untuk hidupnya kecil sekali," ujarnya.

Ketika dibawa ke RSUI, Vita mengungkapkan, sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. "Karena itu tadi beratnya di bawah 500 gram jadi kemungkinan bayi tidak bisa hidup, jadi seperti orang keguguran tapi usia kehamilannya sudah besar," paparnya.

Pihak media pun tidak dapat membuka identitas sang ibu karena sudah merupakan aturan untuk tidak memberitahukan identitas pasien kepada publik. "Yang pasti masih muda ya, usianya sekitar 21 tahun," pungkasnya. [fik]

Topik berita Terkait:
  1. KRL
  2. Keguguran
  3. Penyebab Keguguran
  4. Depok
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini