Ombudsman nilai Novel Baswedan tidak kooperatif

Selasa, 13 Februari 2018 20:35 Reporter : Ronald
Novel Baswedan usai operasi mata di Singapura. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Pihak kepolisian hingga kini masih belum juga mengungkap kasus penyiraman terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan. Salah satu kesulitannya menurut Komisioner Ombudsman Republik Indonesia Adrianus Meliala, Novel Baswedan tidak kooperatif ketika sedang diperiksa oleh penyidik terkait kasus yang menimpa dirinya.

"Dari pengakuan polisi, kelihatannya Pak Novel irit bicara. Kalau ditanya berbagai hal selalu bilangnya nanti diserahkan ke TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta). Jadi kesan saya bahwa (Novel) tidak kooperatif," kata Adrianus di Mapolda Metro Jaya, Selasa (13/02).

Adrianus menjelaskan, hal ini berdasarkan atas penglihatannya di dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dari penyidik yang sangat tipis.

"Dua minggu lalu kami memeriksa penyidik (kasus Novel). Kami diberikan BAP, tapi itu tipis sekali hanya 2 sampai 3 lembar. Mana ada BAP segitu, apalagi kan dia korban. Namanya korban kan ingin curhat agar kasusnya cepat selesai," ujarnya.

Lebih jelas Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia menegaskan, pihak kepolisian sudah menunjukkan keseriusannya dalam menangani kasus ini dengan mengerahkan ratusan penyidik. Namun, kepolisian merasa bahwa Novel masih belum percaya dengan kinerja dari Kepolisian.

"Aneh jadinya kalau Novel tidak percaya (kepada polisi). Tadi Pak Kapolda guyon ke saya, dia bilang telah mengerahkan 160 penyidik sejak kasus ini, siang dan malam mereka dilepaskan jabatan. Andai iti dihitung uang, aduh sudah berapa itu katanya, demi kasus Novel. Dia malah irit bicara dan menyerahkannya ke tim TGPF. Harusnya ada dua pihak yang kooperatif dalam rangka memberikan berbagai informasi, itu adalah Novel dan KPK. Ini kan mereka tidak kooperatif. Jadi bagaimana polisi bisa mengejar kasus kalau tidak diberi masukan," pungkasnya. [fik]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini