Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Nasib WNI diduga dijebak bawa sabu 2 Kg di China semakin buram

Nasib WNI diduga dijebak bawa sabu 2 Kg di China semakin buram Keluarga JM menunggu kepastian keadilan. ©2017 Merdeka.com/Irwanto

Merdeka.com - Seorang warga Palembang berinisial JM (35), ditangkap Kantor Biro Anti Penyelundupan Bea Cukai Kota Guangzhou, China, 1 Juni 2014 lantaran tepergok membawa sabu jenis ICE seberat 2,2 kg. Empat tahun berlalu, status hukum dan nasib JM hingga kini masih misterius.

Ibu kandung JM, Ratni (53) mengungkapkan, anak sulungnya itu berangkat ke China atas tawaran pekerjaan dari temannya berinisial AF, diduga merupakan anak salah satu pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Palembang. JM diminta untuk mengantar barang antik dan sutra ke China pada Juni 2014. Sedangkan kelengkapan berkas keluar negeri diurus rekan AF berinisial RZ.

Dengan iming-iming gaji Rp 11 juta per bulan, JM berangkat ke China hanya dengan membawa pakaian di badan. Dia terlebih dahulu mampir ke Kamboja atas perintah AF. Lalu, JM terbang ke China untuk menemui warga China bernama Vivian Le. Begitu bertemu, JM dititipkan koper kecil untuk dibawa ke Kamboja kembali. Vivian menyebut koper itu hanya berisi pakaian.

JM diberikan ongkos 200 Yuan oleh Vivian. Sesampai di bandara Guangzhou, JM ditangkap petugas bea cukai karena ditemukan sabu seberat 2,2 kg di dalam koper dibawanya. "Selama di Kamboja kami masih komunikasi, tapi pas udah ke China putus kontak," ungkap Ratni saat ditemui di rumahnya di Jalan Ki Merogan, Lorong Yakin, Kelurahan Kemas Rindo, Kertapati, Palembang, Kamis (30/3).

Lama tak ada kabar, kata dia, pihaknya mendapat surat dari Kementerian Luar Negeri RI tertanggal 7 Juli 2014, ditandatangani Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri, Tatang Budie Utama Razak tertanggal 7 Juli 2014. Surat itu berisi pemberitahuan bahwa JM ditangkap di China atas tuduhan membawa sabu.

"Kami kaget, pergi kerja antar barang antik dan sutra malah ditangkap bawa narkoba. Kami bingung, anak saya itu rajin salat, tidak mungkin," kata dia.

Mendapat kabar itu, Ratni meminta kejelasan dari AF untuk mengetahui nasib anaknya. Sebab, AF merupakan orang yang mengajak anaknya pergi ke China. "Dia tidak mau tanggung jawab, malah minta duit Rp 2 juta. Dia bilang itu pesan anak saya selama di China," tuturnya.

Selama empat tahun kasus ini terjadi, Ratni tidak mengetahui lagi nasib anaknya. Dia bingung meminta bantuan kemana lagi karena keterbatasan biaya lantaran suaminya hanya bekerja sebagai buruh bangunan.

"Dari pemerintah (Kemenlu) sudah tidak ada hubungan (kontak) lagi. Saya yakin anak saya dijebak, tidak tahu siapa yang menjebaknya, saya minta keadilan," terangnya. (mdk/ang)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP