Nasib penempel kerang di liontin yang tak seindah karyanya
Merdeka.com - Dalam ruangan yang penuh debu kerang dan bisingnya deru mesin dinamo, Abdul Ghofar (22) sangat serius memasang kerang ke dalam bingkai liontin berbahan perak.
Matanya jeli, mengukur sekat-sekat perak yang begitu kecil, tangannya sangat terampil mengupas dan memperkecil kerang hingga pas dan bisa masuk dalam liontin bingkai perak hingga terlihat elok.
Tak jarang, tangannya pun terkena oleh batu mesin dinamo hingga tergores atau terluka. Kerajinan menempel kerang ke dalam bingkai perak, tak semudah dibayangkan. Butuh keseriusan dan keterampilan khusus.
"Saya sudah belasan tahun, bekerja menjadi pengrajin kerang untuk dipasangkan ke perak," ucapnya, saat ditemui di gudang kerjanya, di Jalan Stra Duku, nomor 1, Desa Kelan, Kecamatan Kuta, Badung, Bali, Kamis (10/5).
Pria asal Kepulaaan Ra'as, Kabupaten Madura Sumenep ini, menyampaikan untuk menempel kerang bukan hanya bingkai liontin saja, tetapi juga ada cincin, kalung, gelang dan anting. Selain itu, jenis kerang bermacam-macan tergantung orderan, mulai kerang coklat, putih dan hijau.

Selain itu, untuk proses pembuatannya bahan kerang harus dikupas dulu kulitnya yang kasar. Kemudian, diamplas sebanyak dua kali, lalu dipotong-potong sesuai dengan ukuran bingkai, selanjutnya dicocokkan agar bisa masuk ke dalam bingkai.
"Saat sudah pas, baru ditempel dengan lem berbahan resin, dan terakhir baru diservis hingga mengkilat. Kendalanya kalau bingkainya terlalu kecil jadi harus benar-benar pas ketika mengupas kerangnya," imbuh Ghofar.

Untuk bahan peraknya didapatkan dari bosnya yang memang pengrajin kerang di kawasan Celuk, Kecamatan Sukawati, Gianyar Bali. Kemudian, Ghofar hanya bertugas menempelkan kerang ke dalam bingkai perak tersebut.
"Dalam 3 hari saya bisa selesaikan 50 biji liontin, kalau seminggu bisa sampai 100 biji. Untuk harga pasang bisa mulai dari Rp 5 ribu sampai belasan ribu. Tergantung, sulit apa tidaknya," jelas Ghofar.
Untuk kerangnya, Ghofar mendapatkan dari Jawa dan jenis kerangnya juga bermacam-macam tergantung orderan dari bosnya. Selain itu, harga kerangnya juga tergantung jenis dan kualitasnya. Kalau kerang putih dan coklat bisa mencapai Rp 80 ribu per kilogram, dan kerang hijau bisa mencapai Rp 150 ribu.
Menurut Ghofar, biasanya kerajinan tersebut banyak dijual ke luar negeri, seperti Australia dan negara-negara lainnya. Tetapi, menurutnya orderan-orderan menempel kerang bulan-bulan ini sangat sepi. Hingga tak jarang banyak pengrajin beralih profesi menjadi tukang ojek atau menjadi karyawan Art Shop hingga Guide.
"Dulu ada puluhan pengrajin di sini. Sekarang sudah tinggal 4 orang. Iya karena sepi orderan tidak ada yang pesan. Saya juga pernah tidak kerja selama setengah bulan karena sepi," keluhnya.
Ghofar juga bercerita, menjadi pengrajin kerang tergantung dari orderan, jika orderan tidak ada hanya bisa menganggur atau mencari pekerjaan lainnya hanya untuk menyambung hidup. Tetapi, saat ramai hanya cukup buat makan sekeluarga dan bayar cicilan bulanan dan indekos.
"lya sekarang sudah berkurang karena orderan sepi. Iya hanya dicukup-cukupin buat makan dan bayar kos," ujarnya dengan senyum tawar.
(mdk/rzk)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya