Misi Sanjoto Selamatkan Jenderal Soedirman dari Kejaran Jepang

Minggu, 18 Agustus 2019 08:05 Reporter : Danny Adriadhi Utama
Misi Sanjoto Selamatkan Jenderal Soedirman dari Kejaran Jepang Veteran perang Sanjoto. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Sanjoto, pejuang kemerdekaan masih mengingat ketika ikut merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Kini usianya mencapai 89 tahun. Dia bercerita pernah mendapat tugas istimewa mengawal Panglima Besar Jenderal Soedirman untuk menggunakan taktik perang gerilya.

"Saya diminta komando Kolonel Gatot Subroto untuk amankan Jenderal Soedirman melintasi jalan poros Wonogiri-Ponorogo. Selama 2 jam yang ditempuh melalui Desa Sidoharjo hingga menembus ke wilayah Jatisrono. Siasat itu kami lakukan agar dapat menghancurkan serangan musuh lewat gerakan bawah tanah," kata Sanjoto saat ditemui di rumahnya, Jalan Belimbing Raya No.34, Semarang.

Perjalanan yang dimulai pada waktu sore hari itu menyusuri hutan belantara. Tanpa suara, seketika itu terdengar suara tembakan yang diduga diletupkan oleh tentara Jepang. Oleh rombongan yang terdiri satu pleton pengawalan langsung berhenti sejenak untuk keamanan.

"Kita tahu itu tembakan tentara Jepang, tak tahu nembak berburu atau apa. Tapi kita minta untuk tidak membalas aksi tembakan itu, dan untuk tetap tenang, sambil tiarap," ungkapnya.

Agar keberadaannya tidak diketahui musuh, dia memerintahkan untuk menahan menembakkan senjata. "Itu yang kami lakukan dulu, kami carikan jalan untuk Jenderal Soedirman. Sedangkan jalan yang kami lewati musuh tidak tahu, jalan juga kondisi sepi petang," jelasnya.

Dia mengingat bahwa waktu itu kondisi jenderal besar kurang sehat. Soedirman dalam keadaan sakit keras. Sebuah kain tebal dibalutkan pada lehernya. Dengan kesehatan yang melemah, Soedirman terpaksa digotong menggunakan tandu dengan melewati jalanan kecil di area hutan.

"Ketika saya ikut mengawalnya, Jenderal Soedirman dalam kondisi sakit keras. Tapi saya akui sosoknya tak pernah pantang menyerah. Termasuk saat bergerilya menembus hutan-hutan dengan jalanan yang sempit. Sekitar dua jam akhirnya kami sampai ke lokasi tujuan di Wonogiri," jelasnya.

Atas jasanya mengawal Jenderal Soedirman ke tapal batas Wonogiri, ia mengaku mendapatkan penghargaan berupa tanda jasa Bintang Kartika Eka Paksi. Itu jadi penghargaan yang pernah ia raih selama ikut merebut kemerdekaan.

"Saya saat ini menjadi satu-satunya veteran pejuang kemerdekaan yang mendapatkan empat bintang lencana penghargaan dari pemerintah Indonesia," jelasnya.

Sanjoto sendiri lahir di Solo pada 1930, mulai ikut angkat senjata sejak Sekolah Menengah Pertama. Baru berusia 12 tahun. Dia memutuskan bergabung dengan barisan angkatan muda Indonesia di Solo.

"Angkatan Muda lalu berganti nama jadi Badan Keamanan Rakyat (BKR). Dari situlah, saya dilatih perang, latihannya di depo kompi selama tiga bulan," kata Kapten CPM tersebut.

Awal mula keinginan tergerak mengusir penjajah bersama teman sebayanya pada tahun 1942. "Saya memberanikan diri ikut berperang untuk mengusir tentara Jepang dari Tanah Jawa," ujarnya.

Usai masa kemerdekaan 1945, Sanjoto pun mendapat kepercayaan menjadi pengawal Presiden Soekarno saat berkunjung ke Semarang. Kepercayaan itu ia dapatkan sekitar tahun 1957 silam.

"Jadi mengawal Bung Karno dan Jenderal Ahmad Yani. Di situ kami ditugaskan untuk menumpas pemberontakan DI/TII di Tegal, Pemalang dan Slawi," bebernya.

Kepada generasi muda, dia meminta untuk meneladani sikap-sikap kepahlawanan yang dilakukan para pejuang kemerdekaan terdahulu. Ia menganggap generasi muda kini memikul tanggung jawab yang berat karena hidup pada era yang serba modern.

"Ingat di pundak kalian, terdapat tanggung jawab yang besar. Maka tunjukanlah semangat juang untuk mengisi kemerdekaan pada masa sekarang. Saya berdoa semoga di bawah kepemimpinan kalian nanti, tetap jaya negeri ini. Untuk itulah kawallah negara Indonesia. NKRI harus dijaga terus sampai kapanpun," tegasnya.

Terpisah, Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), Herman Josep Soedjani menuturkan untuk menghormati jasa para pejuang, meminta para pemuda tidak boleh pantang menyerah. Wujud penghormatan bagi para pejuang di era saat ini, bisa dengan sikap rela berkorban demi menjaga negara Indonesia.

"Para pelaku pejuang sudah memberikan terbaik negara Indonesia bagi generasi penerus. Jadi dengan cara meneguhkan semangat rela berkorban bagi bangsa, perkuat jiwa nasionalisme, dan tidak pantang menyerah dengan keadaan yang sedang membelit negara ini," kata Herman Josep saat ditemui di Gedung Juang Jalan Pemuda, Semarang.

Wujud lain di antaranya ikut mendukung pembangunan nasional ke arah yang positif. Perjuangan di era masa kini bisa dipadukan dengan nilai-nilai keterbukaan menerima informasi sambil memperjuangkan nilai-nilai antikorupsi, antinarkoba dan anti-terorisme.

"Ini artinya yang muda-muda harus ikut terlibat memperbaiki perilaku dengan nilai moral yang tinggi," ujarnya.

Sekitar 296 legiun veteran yang tinggal di Semarang. Mereka terbagi dalam lima kelompok. Antara lain, veteran perang kemerdekaan, veteran pembela kemerdekaan saat perang Trikora, veteran pembela kemerdekaan masa perang Dwikora, veteran pembela peperangan Seroja di Timor Timur (sekarang bernama Timor Leste) dan veteran perdamaian yang jadi utusan PBB.

"Jumlah veteran perang kemerdekaan saat ini cuma tersisa 30 orang. Tapi kondisinya sendiri sekarang kebanyakan numpang di rumah anaknya, ada juga yang kita temukan hidupnya pas-pasan. Ada pula yang sudah meninggal karena faktor usia. Kan usianya rata-rata 90 tahun ke atas," terangnya.

Soedjani menyebut bahwa para legiun veteran merupakan aset bangsa dan negara. Mereka andil membela kehormatan bangsa Indonesia di masa kemerdekaan. Sedangkan sebagai bentuk perhatian kepada para pejuang, Pemerintah saat ini rutin memberikan dana pensiunan veteran pejuang.

"Pemerintah sudah memperhatikan kami dengan berikan pensiun Rp 750 ribu untuk tiap orang per bulan, ditambah tunjangannya sebesar Rp 750 ribu per orang. Pada intinya para pejuang bertempur mati-matian dengan semangat juang tinggi. Prinsipnya lebih baik mati daripada dijajah. Sehingga jasa para pejuang yang gugur harus dihormati dan dihargai sebagai bagian dari terbentuknya NKRI," tutup Herman Josep Soedjani. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini