Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menristek sebut 23,4 persen mahasiswa siap jihad tegakkan khilafah

Menristek sebut 23,4 persen mahasiswa siap jihad tegakkan khilafah M Nasir. ©2014 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Menteri Riset, Teknologi, dan Teknologi M Nasir mengungkap perguruan tinggi di Indonesia cukup banyak mendukung berdirinya negara Khilafah. Pada penelitian Kemenristekdikti bersama LIPI, Universitas Indonesia, dan peneliti sosial pada 2017, menyimpulkan 23,4 persen mahasiswa siap berjihad.

"Survei yang telah dilakukan secara makro itu kalau kita lihat dari jumlah responden sistemnya random sampling menghasilkan kesimpulan. Ternyata pelajar kita siap berjihad untuk menegakkan khilafah di kelompok mahasiswa menduduki 23,4 persen, akhir tahun 2017. Ini data terbaru," ungkapnya di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (28/2).

Dia menambahkan, pada tingkat SMA hanya terpaut 0,1 persen saja yang menyatakan hal sama. Pada tingkat SMP angkanya turun cukup besar menjadi 18,3 persen.

"Tingkat SMA tinggi juga 23,3 persen. Selisih 0,1 persen, jadi di mahasiswa tinggi SMA tinggi karena ini terkait," kata dia.

"Di SMP turun lagi 23 jadi 18,3," imbuhnya.

Nasir menjelaskan awal mula munculnya radikalisme ini adalah karena terjadi kekosongan gerakan mahasiswa pada era 1980-1983. Organisasi seperti HTI itu muncul dan berkembang pada masa ini

"Sejak tahun 1980 tepatnya 1983 setelah ada normalisasi kehidupan kampus dan BKK akibat kekosongan ada gerakan di situ tak dilakukan organisasi ekstra mahasiswa. Aliran-aliran itu mungkin HTI dan lain-lain, akhirnya muncul gerakan mahasiswa 83 sampai 90," jelasnya.

Terjadilah perkembangan aliran seperti itu dari tingkat dasar sampai SMA. Nasir bercerita pengalamannya kunjungan ke suatu SD yang menolak menyanyikan lagu Indonesia Raya. Menurutnya, gerakan itu mengakar dalam proses pembelajaran sampai ke tingkat perguruan tinggi.

"Saya pernah masuk pada SD saat nyanyikan Indonesia raya hanya diri saja. Ini contoh proses pembelajaran. Pergerakan itu terus berlangsung pada perguruan tinggi secara masif dilakukan," kata dia.

Maka dari itu dia menyarankan menanggulangi dengan pendidikan karakter terhadap mahasiswa. Salah satu cara adalah dengan pendidikan Agama. Dia harap mata kuliah Agama tak hanya ditaruh di awal semester, namun di tingkat mahasiswa akhir juga.

"Bagaimana strateginya, yaitu mencipta mahasiswa berkarakter unggul yang menghadapi masalah radikalisme. Pertama yang kami lakukan adalah penguatan tridarma perguruan tinggi secara bersama. Proses pembelajaran yang dilakukan selama ini lebih banyak memberikan mata kuliah agama hampir di semua perguruan tinggi hanya di awal semester," tandasnya. (mdk/eko)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP