Mengintip percetakan Alquran yang disebut nyaris mati

Senin, 22 Agustus 2016 07:32 Reporter : Intan Umbari Prihatin
Mengintip percetakan Alquran yang disebut nyaris mati Percetakan Alquran Kemenag. ©2016 Merdeka.com/Nuryandi

Merdeka.com - Lahirnya Lembaga Percetakan Alquran (LPQ) milik Kementerian Agama di Jalan Raya Puncak, Km 65, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, yang diresmikan pada 15 Nopember 2008 menjadi hal yang menggembirakan bagi jutaan umat Islam di Indonesia. Percetakan yang digagas dan diresmikan oleh Mantan Menteri Agama M Maftuh Basyuni diharapkan mampu memenuhi pengadaan dan meminimalisasi kesalahan penulisan Alquran.

Namun harapan untuk program satu rumah umat Islam dapat memiliki satu Alquran, dalam perjalannya segera masuk 'liang kubur' alias mati tak terurus. Menteri agama periode Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I, Maftuh tidak habis pikir percetakan Alquran milik Kementerian Agama (Kemenag) segera 'dikubur' dan mesin-mesinnya yang bernilai Rp 28 miliar segera jadi besi tua.

"Ya, jadi mesin besi karatan dan besi tua," ungkap Maftuh seperti dilansir Antara, Rabu malam.

Percetakan Alquran Kemenag ©2016 Merdeka.com/Nuryandi

Menurut Maftuh ada pihak di lingkungan Kementerian Agama yang tidak suka dengan percetakan Alquran berjalan dengan baik. Alasannya kata dia, bila percetakan itu berjalan bagus tentu ke depan pengadaan Alquran tidak lagi dilakukan dengan tender. Jika dengan tender, tentu ada komisinya.

"Ujungnya, ya komisi," sebut Maftuh yang saat itu pembicaraan kerasnya didengar penulis biografinya, Lingga Akbar.

Untuk cetakan pertama, yang secara operasional mulai berproduksi pada Mei 2009, LPQ berhasil mencetak 1,5 juta Alquran. Selama bulan Ramadan, biasanya jumlah pesanan meningkat melebihi bulan lain.

"Saya mencari mesin cetak terbaik. Saat itu, saya minta rekomendasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," kenang Maftuh dengan nada meninggi.

Percetakan Alquran Kemenag ©2016 Merdeka.com/Nuryandi

Dibangun di atas lahan seluas 1.530 meter persegi dengan biaya hingga Rp 30 miliar dari anggaran negara, LPQ dilengkapi berbagai alat percetakan modern. Kapasitas produksinya sampai 1,5 juta eksemplar per tahun.

Saat Merdeka.com mendatangi LPQ di Ciawi memang tidak banyak aktivitas di sana. Pos penjagaan pintu masuk kompleks LPQ pun tampak sepi. Tidak ada kegiatan apa pun di kompleks percetakan yang terletak satu area di Wisma Ciawi milik Kemenag dan suara-suara mesin percetakan pun tidak terdengar.

Ketua Unit Percetakan Alquran, Fakhruddin menjelaskan memang saat ini tidak ada produksi untuk mencetak karena pada 2015 pihaknya tidak mendapatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan baru diberikan anggaran pada 2016. Dia juga menceritakan manajemen UPQ saat ini menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama berdasarkan Peraturan Menteri Agama No. 27/2013 tertanggal 28 Maret 2013.

Percetakan Alquran Kemenag ©2016 Merdeka.com/Nuryandi

"Kenapa dibilang 2015 tidak memproduksi Alquran karena memang kita tidak mendapat anggaran APBN 2015 dan baru anggarkan pada 2016 itu pun masih ada kendala pegawai, pengelola DIPA (Daftar Isian Pelaksana Anggaran)," kata Fakhruddin ketika ditemui di kantor UPQ, Jalan Raya Puncak, Km 65, Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Kamis (18/8).

Mesin-mesin cetak yang terdapat di percetakan pun kata dia, sudah kembali bisa digunakan dan siap untuk mencetak Alquran pada Oktober mendatang. "Mesin cetak yang dibilang pak Maftuh akan dikubur itu tidak benar, kita sudah service dan sudah siap digunakan, tinggal menunggu kertas saja yang kita tenderkan," ungkap Fakhruddin sambil menunjukkan beberapa mesin cetak di ruang percetakan Alquran.

Karena percetakan Alquran sudah diurus oleh Dirjen Bimas Islam, kata Fakhruddin manajemen percetakan pun berubah. Mulai dari pegawai yang akan mencetak Alquran hingga hafiz yang mengoreksi isi Alquran tersebut.

"Karena manajemen berubah ya otomatis kita harus rombak semua dan itu alasan saat ini tidak ada aktivitas. Kita perlu merekrut kembali pegawai yang akan bekerja di sini, yang kapasitasnya masing-masing 80 persen PNS dan 20 persen swasta," tutur Fakhruddin.

Percetakan Alquran Kemenag ©2016 Merdeka.com/Nuryandi

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Machasin juga membantah bahwa mesin cetak LPQ tidak jalan. Menurut dia, sampai saat ini mesin-mesin yang ada masih beroperasi.

"Mesin cetak utama siap operasi, tetapi kapasitasnya tidak didukung dengan mesin-mesin untuk finishing. Sekarang sedang dilakukan proses pembelian mesin-mesin pendukung supaya kapasitas produksinya bisa lebih cepat," jelas Machasin ditemui di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat.

Pada 2015, Kementerian Agama telah mengalokasikan anggaran pengadaan kitab suci agama Islam dengan jumlah 1,5 juta eksemplar. Jumlah itu terdiri dari 700.000 mushaf Alquran, 500.000 juz Amma, serta 300.000 Alquran dan terjemahannya.

Percetakan Alquran Kemenag ©2016 Merdeka.com/Nuryandi

"Insya Allah mesin cetak milik Unit Percetakan Alquran (UPQ) ini akan mulai jalan kembali untuk mencetak 35.000 mushaf Alquran yang akan dimulai pada bulan September 2016 setelah bahan-bahan cetak tersedia seperti kertas yang sekarang sedang ditenderkan," tutup Machasin. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Korupsi Alquran
  2. Kemenag
  3. Bogor
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini