Mengenal Fenomena Debris Flow Dampak Siklon Tropis Seroja Telan 56 Korban Jiwa di NTT

Kamis, 15 April 2021 19:05 Reporter : Supriatin
Mengenal Fenomena Debris Flow Dampak Siklon Tropis Seroja Telan 56 Korban Jiwa di NTT Rumah yang rusak akibat banjir bandang di Adonara Timur, Flores Timur, NTT. ©ANTARA FOTO/Pion Ratuloli

Merdeka.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap fenomena debris flow yang terjadi di Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Adonara, Nusa Tenggara Timur (NTT). Fenomena yang merupakan dampak siklon tropis seroja ini menelan 56 korban jiwa.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pemetaan dan Risiko Bencana BNPB, Abdul Muhari mengatakan debris flow merupakan aliran dengan kecepatan tinggi yang berisi batu-batu gunung dari atas ke bawah.

"Debris flow selama ini kita kenal dengan banjir bandang tapi sebenarnya bukan banjir bandang," ujarnya dalam konferensi pers, Kamis (15/4).

Muhari mengaku telah melakukan survei dengan pemantauan udara mengenai fenomena debris flow di Ile Boleng. Survei menunjukkan, terjadi pelepasan batu andesit dari tebing setinggi 8 hingga 10 meter di belakang pemukiman penduduk.

Pelepasan batu terjadi karena hujan dengan intensitas sangat tinggi terjadi di kawasan Ile Boleng. Sementara itu, batu yang berada di bukit Ile Boleng tidak saling mengikat satu sama lain.

"Kalau kita lihat pengikat batu ini cuma tanah-tanah yang ada di sela-sela batu sehingga jika terjadi curah hujan dengan sangat tinggi maka lapisan pasir atau tanah yang mengikat batu ini akan tergerus sehingga tidak ada lagi tanah yang mengikat sela batu. Ini akan sangat mudah tergelincir ke bawah," jelasnya.

Muhari melanjutkan, batu andesit yang terlepas dari bukit Ile Boleng menghantam rumah warga. Rumah warga tersebut berada di jalur pelepasan batu andesit. Akibatnya, rumah warga mengalami rusak parah dan lebih dari 50 orang meninggal dunia.

"Bisa dibayangkan batuan besar dari atas turun ke bawah menghantam rumah-rumah penduduk," ucapnya.

Menurut Muhari, penduduk Ile Boleng harus mewaspadai terjadinya debris flow kembali. Dia menyebut, fenomena tersebut bisa terulang jika muncul siklon tropis di kemudian hari atau hujan dengan intensitas sangat tinggi.

Mengantisipasi terdampak debris flow, Muhari menyarankan masyarakat Ile Boleng tidak menempati jalur debris flow. Dia mengaku sependapat dengan Presiden Joko Widodo agar masyarakat yang tinggal di jalur debris flow dipindahkan ke tempat lain.

"Kita harus ingat bahwa bencana adalah peristiwa yang berulang termasuk bencana hidrometeorologi," tandasnya. [gil]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini