Menanti Matahari Terbit di Bukit Pinggan Bali

Jumat, 26 Juli 2019 04:33 Reporter : Moh. Kadafi
Menanti Matahari Terbit di Bukit Pinggan Bali Bukit Pinggan Bali. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Wisata camping atau berkemah di bukit Pinggan yang berlokasi di sisi barat Gunung Batur, Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, diminati para wisatawan lokal maupun asing.

Panorama yang ditawarkan tentunya sangat elok. Jika pagi tiba, para wisatawan yang berkemah akan dimanjakan pemandangan jejeran gunung. Mulai dari Gunung Agung, Gunung Abang, Gunung Batur, serta yang tak kalah indah adalah sinar matahari terbit yang dibalut dengan udara sejuk.

Selain itu, jika malam datang, suhu mencapai 16 derajat. Ini tentu jadi tantangan bagi pecinta alam untuk selalu mencari kehangatan. Api unggun tak mampu melawan dingin sepanjang malam. Menenggak segelas kopi bisa jadi obatnya. Apalagi ditambah ubi, jagung, ayam atau ikan bakar, dijamin dingin malam tak terasa berlalu.

Rino salah satu wisatawan asal Malang Jawa Timur, mengatakan, dia bersama rekan-rekannya datang berkemah dan menikmati panorama alam Bukit Pinggan.

"Kami bawa tenda sendiri dan makanan bersama kawan-kawan. Cuma bayar Rp10 ribu per orang. Kami sudah bisa menempati lahan untuk camping di sini," kata pria yang bermukim di Denpasar ini, Kamis (25/7).

Sementara Made Artawan salah satu pemilik lahan kemah di sana mengatakan, jumlah pengunjung wisatawan akan membeludak di malam Minggu.

Ia menceritakan, wisata Bukit Pinggan mulai ramai setelah sejumlah pemuda berkemah dan membagikan perjalanan wisata di media sosial.

"Sekitar tahun 2015, wisatawan terutama para pelajar SMP hingga universitas mulai ramai meminta izin berkemah. Empat spot kemah dibuka. Sebanyak 50 orang diperkirakan setiap weekend berburu kemah di sini," ujarnya.

Namun, untuk menjaga kebersihan dan keindahan bukit, warga akhirnya memungut biaya. "Lahan dikelola warga sendiri-sendiri," imbuh Artawa.

Artawa juga menuturkan, harga sewa tempat terbilang murah, sebab belum ada fasilitas penunjang lain yang ditawarkan. Wisatawan yang mau buang air misalnya, masih harus menumpang di toilet warga.

"Ada juga lahan sudah punya toilet, yang sudah punya toilet biaya kemah setahu saya mungkin Rp20 ribu," ujar bapak yang memiliki lahan seluas empat are di bukit ini. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini