Masyarakat Diimbau Pilih Capres Cawapres Sesuai Hati Nurani Tanpa Menghujat
Merdeka.com - Anggota DPR Ahmad Sahroni mengimbau masyarakat memilih pasangan calon presiden dan calon wakil presiden sesuai hati nurani, tanpa saling mencaci atau menghujat. Hal itu dia utarakan saat melakukan kunjungan kerja di kawasan Pademangan Barat, Jakarta Utara, Kamis (24/1).
"Pemilu 17 April saya mengimbau, jangan karena agama bapak ibu mendapat intervensi untuk memilih salah seorang. Pilihlah pemimpin yang sesuai kata hati. Kita ingin ke depan bangsa ini bangsa yang kuat, bukan kuat karena adu domba, bukan kuat mencaci maki satu sama lain," kata Sahroni dalam keterangannya.
Di tempat sama, Sahroni juga mengimbau perangkat lingkungan seperti pengurus RW aktif mendorong kemajuan ekonomi. Pengurus RW disarankan mampu memaksimalkan keberadaan perusahaan di lingkungannya untuk mensejahterakan masyarakat, baik pembangunan lingkungan maupun lapangan pekerjaan.
Salah seorang warga RT 05 RW 13 bernama Muhammad Soleh Kawi menggambarkan lingkungan di tempatnya tinggal tak mengalami perubahan, sejak lebih dari 10 tahun lalu. "RW 13 keadaan tidak berubah jadi 10 atau 20 tahun kali sementara di sekeliling sudah banyak bangunan pabrik, ruko-ruko, ada perusahaan besar. Perkembangan ekonomi di sekitar tidak berdampak ke lingkungan masyarakat," keluhnya.
Menanggapi keluhan itu, Sahroni mewanti-wanti masyarakat tak hanya menyalahkan perusahaan karena minim membuka lapangan kerja. Hal itu menurut Sahroni bisa dikarenakan berbagai faktor, termasuk kompetensi dan perilaku masyarakat.
"Di daerah rumah saya ada Astra, banyak pegawai yang ingin menyalurkan kerja, tapi tidak mumpuni proses persyaratannya. Ada yang melalui orang dalam bisa masuk, tapi sering bikin masalah, tiba-tiba enggak pernah masuk, tiba-tiba maling. Itu jadi efek domino, di mana perusahaan bukan tidak mau ekonomi melekat ke satu daerah, tapi karena satu faktor itu," papar pria yang lekat dengan panggilan Anak Priok ini.
Politisi NasDem yang kini duduk di Komisi III DPR ini juga mengajak masyarakat tak sekedar berani mengkritik pemerintah ataupun parlemen tanpa mau mengembangkan kemampuan diri. Dia menyayangkan bila di lingkungan setempat masih ditemukan pengangguran yang tak mau berusaha dan bermimpi besar menjadi orang sukses.
"Jangan hanya mengkritik tapi menjadi pengangguran. Jangan cuma gaya akhirnya premanisme terjadi di Jakarta Utara, merasa dirinya hebat, dikit-dikit ngeluarin parang. Sekarang enggak zaman, zamannya sekarang bagaimana masyarakat ada keuntungan dari perwakilan di daerahnya," ucap Sahroni.
Selain di Pademangan Barat, Sahroni juga melakukan kegiatan reses di kawasan Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, tepatnya di Jalan Kali Sunter. Di lokasi ini Sahroni menyerap aspirasi masyarakat mengenai kondisi lingkungan mereka. Di sana, warga mengeluhkan buruknya infrastruktur penerangan jalan.
"Dari tahun 81 sampai sekarang bahkan sudah keropos. Ada 33 tiang. Tahun 1999 saya pernah menghadap ke PLN namun sampai sekarang tidak ditanggapi," kata salah seorang warga.
Menanggapi persoalan itu, Sahroni meyakinkan akan mengklarifikasi PLN untuk menanyakan solusi terbaik atas rentannya tiang listrik di Jalan Kali Sunter.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya