Masuk Musim Kemarau, 10 Daerah di Sumsel Berstatus Siaga Darurat Karhutla

Jumat, 11 Juni 2021 16:53 Reporter : Irwanto
Masuk Musim Kemarau, 10 Daerah di Sumsel Berstatus Siaga Darurat Karhutla Helikopter BNPB padamkan kebakaran hutan di Ogan Komering Ilir. ©AFP PHOTO/Abdul Qodir

Merdeka.com - Sepuluh daerah di Sumatera Selatan menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring masuknya musim kemarau. Semua daerah itu setiap tahun menjadi langganan karhutla.

Kesepuluh daerah itu yaitu Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin, Muara Enim, Penukal Abab Lematang Ilir, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Ogan Komering Ulu, dan Ogan Komering Ulu Timur.

Kabid Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumsel Ansori mengungkapkan, penetapan status menjadi penting dalam rangka antisipasi pemerintah setempat menghadapi musim kemarau. Koordinasi antar lembaga akan dipermudah dan menjadi perhatian semua pemangku kebijakan.

"Sepuluh daerah sudah menetapkan status siaga darurat karhutla. Dengan demikian, langkah antisipatif sudah bisa dilakukan," ungkap Ansori, Jumat (11/6).

Dia menjelaskan, sejumlah daerah sudah mulai terjadi karhutla seiring intensitas hujan menurun drastis yang menyebabkan lahan menjadi kering. Seperti terjadi di Kabupaten Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir yang terdapat beberapa titik karhutla dalam 20 hari terakhir.

"Lahan semakin kering, bahkan ada lokasi yang ditemukan tanahnya sudah pecah-pecah. Artinya ini perlu antisipasi sejak dini," ujarnya.

Dikatakan, pemerintah juga tengah melakukan pencegahan dan penanganan karhutla sejak dini. Seperti yang kini diterapkan, yakni teknologi modifikasi cuaca (TMC) dan water bombing. Sebanyak dua helikopter bom air dikerahkan dan satu pesawat CASA untuk TMC.

"Posko karhutla juga sudah diaktifkan, tim satgas sudah berada di lapangan," kata dia.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang Desindra Deddy Kurniawan menjelaskan, karakteristik kemarau di Sumsel tahun ini adalah kemarau normal sehingga tidak jauh berbeda dengan 2019 atau kemarau basah. Curah hujan akan sangat kecil bahkan kemungkinan berada di kisaran 0-50 milimeter (mm) per dasarian.

"Puncak kemarau tahun ini diprediksi bulan Agustus dan ada kemungkinan hari tanpa hujan selama 60 hari," terangnya. [ray]

Baca juga:
Bikin Hujan Buatan Cegah Karhutla, 800 Kilogram Garam akan Disebar di Langit Sumsel
Si Jago Merah Lalap Hutan Belantara Israel
Karhutla Terjadi di Tiga Wilayah Sumsel, 2 Heli Dikerahkan untuk Pemadaman
Tindak Tegas Pelaku Karhutla, Polda Kalteng Gelar MOU Dengan Instansi Terkait

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini