Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Masjid Jamik Malang dan tradisi toleransi turun-menurun

Masjid Jamik Malang dan tradisi toleransi turun-menurun Dubes Australia Paul Grigson mengungjungi Masjid Jamik Kota Malang. ©2016 Merdeka.com/Darmadi

Merdeka.com - Masjid Jamik Kota Malang menyimpan pesan toleransi bagi antar umat beragama. Lokasinya berdampingan dengan gereja, tetapi dapat hidup rukun tanpa pernah muncul gejolak.

Bahkan saat jumlah jemaah masjid membludak, terutama saat salat hari raya, pihak gereja sengaja meminjamkan halamannya. Sajadah-sajadah akan dibeber di halaman gereja GBIP Immanuel dan Gereja Hati Kudus Yesus.

Takmir Masjid Jamik Malang, Zainudin Abdul Mukhid mengungkapkan, tradisi tersebut terbangun secara turun-temurun dan sudah menjadi simbol toleransi.

"Pergaulan di Malang juga indah, berbagai komunitas ada, bisa hidup bersama. Komunitas Islam, Nasrani hidup dengan damai. Ini patut kita syukuri. Sesuatu yang menggembirakan dan menyenangkan. Kita damaikan hati kita sendiri, setelah itu seluruh dunia akan ikut berdamai," kata Zainudin kepada Duta Besar (Dubes) Australia, Paul Grigson di Masjid Jamik Malang, Rabu (23/11).

Duta Besar (Dubes) Australia, Paul Grigson berkunjung ke Masjid Jamik Kota Malang. Selain mengagumi arsitekturnya, Paul juga terpesona dengan cerita kerukunan umat beragamanya.

"Saya dengar berdekatan dengan gereja. Ini (toleransi) menjadi sesuatu yang penting untuk membangun masyarakat," kata Paul.

Paul mengungkapkan adanya banyak persamaan antara kondisi masyarakat Australia dan Indonesia dalam persoalan toleransi. Masyarakat tidak banyak berbicara tentang perbedaan beragama. "Australia memiliki masyarakat penganut agama yang berbeda-beda, dan itu persamaan Indonesia dengan negara kami," ujarnya.

Terkandang memang masih terdengar adanya kesulitan sebagian orang untuk bersikap tolerasi. Tetapi, rata-rata ingin menjalankan kehidupan bertoleransi.

Muslim di Australia, kata Paul, sudah menjadi bagian penting. Bahkan lahir, besar dan ambil peran dalam pembangunan Negeri Kanguru tersebut.

Islam berdasarkan catatan, mulai masuk Australia sekitar tahun 1860-an dan masjid tertua dibangun tahun 1865. Hingga saat jumlah masjid di Australia sebanyak 175 masjid dan terus bertambah. Australia juga telah memiliki undang-undang beragama sehingga tidak menghalangi perempuan berjilbab menjadi tentara.

"Peraturan tentang agama sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Orang perempuan Australia diperbolehkan menjadi tentara memakai jilbab," katanya.

Paul mengungkapkan, berbeda bukan berarti tidak bisa hidup bersama-sama. Karena kebersamaan merupakan sebuah kekuatan. Sehingga keanekaragaman dan perbedaan itu harus terus dikampanyekan.

(mdk/ang)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP